Kritik untuk Bang Munzir

Nama Munzir Situmorang sering dijadikan sebagai rujukan pemikiran keislaman oleh beberapa orang di perkotaan yang sedang gandrung dengan kajian. Di antara alasan ketertarikan sebagian orang terhadap beliau adalah; keruntutan berpikir, kejelasan argumentasi ayat al-Qur’an dan langsung mengarah kepada masalah.

Jangan berharap bahwa Ustad Munzir akan membawakan ceramahnya dengan gaya penceramah NU, yang banyak mengedepankan gaya santai dan tidak menggurui. Nama marga Batak yang disandang di belakangnya, menjelaskan bahwa tidak ada orang Batak yang basa basi dalam menyampaikan sebuah pemikiran. Kontan, langsung, jelas dan bahkan tak urung pedas. Begitulah tipikal umum orang Batak jika berbicara. Atau dalam bahasa anak Jakarta BTL (Batak Tembak Langsung). Walaupun diakui tidak semua orang Batak begitu.

Kekuatan argumentasi yang disampaikan Ust. Munzir Situmorang tidak terlepas dari latar belakangnya sebagai mantan aktivis HMI era 80-an. Sebagaimana diketahui bahwa aktivis HMI era 80-an merupakan hasil binaan Bang Imadudin Abdul Rachim (almarhum) dan Nurcholish Madjid (almarhum), di bidang pemikiran Islam. Sehingga pada masa itu, di kalangan aktivis HMI dikenal dua arus mazhab pemikiran, yaitu; Mazhab Bang Imad dan Mazhab Cak Nur. Karena popularnya dua mazhab itu, orang melupakan satu mazhab lagi yaitu Mazhab Syakieb Mahmud.

Mazhab Bang Imad, menekankan kepada penggunaan rasionalitas di dalam membaca dan memahami al-Qur’an. Bang Imad sebagaimana ditulis di dalam bukunya, Kitab Tauhid, menegaskan bahwa al-Qur’an selalu bersesuaian dengan rasionalitas. Dan merupakan keharusan untuk menggunakan rasio di dalam memahami al-Qur’an.

Karena platform pembacaan itu, Bang Imad menegasi semua pemikiran Islam yang dipandangnya tidak rasional, termasuk hadits sekalipun. Sehingga di dalam pembahasannya tentang tafsir al-Qur’an, Bang Imad tidak akan memasukkan pendapat ulama mufassirin yang dianggapnya tidak rasional.

Berbeda dengan Mazhab Bang Imad, Mazhab Cak Nur tampil lebih lunak. Meskipun mengusung rasionalitas, Mazhab Cak Nur berbeda dengan 180 derajat dengan Mazhab Bang Imad. Rasionalitas dalam pandangan Cak Nur tampil dalam banyak wajah. Di antara yang pernah diketengahkan Cak Nur adalah rasionalitas budaya.

Perbedaan di antara keduanya barangkali juga disebabkan oleh perbedaan latar belakang pendidikan. Bang Imad adalah alumnus Teknik Elektro ITB dan meraih gelar doktor di bidang Teknik. Sedangkan Cak Nur adalah alumnus IAIN pada jurusan Sastra Arab dan menyelesaikan doktor pada bidang pemikiran Islam.

Di kalangan aktivis HMI, Mazhab Bang Imad lebih popular dibandingkan Mazhab Cak Nur. Barangkali, posisi Bang Imad yang ketika itu sedang mengambil posisi berlawanan dengan Rezim Orde Baru, yang menjadi daya tarik para aktivis HMI untuk mengikuti pemikirannya. Selain itu, Bang Imad juga dianggap sebagai representasi Islam masa depan yang maju dan moderen.

Ustad Munzir atau Bang Munzir, tampaknya berada di arus Mazhab Bang Imad tadi. Metode istinbath (pengambilan simpulan) yang digunakannya bisa dikatakan mirip dengan metode yang diintroduksi oleh Bang Imad. Tidak ketinggalan pula dengan semangat pemikirannya.

Namun bukanlah aktivis HMI jika tidak memodifikasi apa yang dimiliki. Bang Munzir tampaknya demikian. Walaupun beberapa ceramahnya, seperti meng-copy paste isu-isu yang pernah diangkat oleh almarhum Bang Imad. Perbedaannya terletak kepada angle (sudut pandang) yang diambil. Jika Bang Imad mengambil sudut pandang sains dalam banyak pembahasan, Bang Munzir atau Ustad Munzir justru banyak mengambil sudut pandang problematika sosial, termasuk politik, di dalam ceramah-ceramahnya.

Tapi yang sangat disayangkan, Bang Munzir lebih banyak mengandalkan logika ketika membicarakan perkara-perkara agama, lebih-lebih yang bernuansa fikih. Penafsirannya terhadap al-Qur’an mengesampingkan metodologi penafsiran sebagaimana yang diintroduksi oleh para mufassirin. Dalam semua ceramahnya, nyaris tidak pernah terlontar ucapan, “menurut Imam Ibnu Katsir, Imam al-Qurthubi, atau mufassirin lainnya”. Padahal, penyebutan nama-nama mufassirin sebagai kutipan itu penting untuk menegaskan bahwa apa yang disampaikan mempunyai legitimasi historis yang bisa dipertanggungjawabkan. Tapi yang tampak terlihat dalam setiap penyampaian Ustad Munzir adalah penyebutan surat dan ayat, yang sudah di-plot menurut logika yang sudah dipersiapkan.

Bagi sebagian orang, pola yang dipakai oleh Bang Munzir itu sah-sah saja dengan alasan al-Qur’an adalah kitab milik semua umat Islam. Tapi, anggapan yang permisif ini justru akan mendegradasi al-Qur’an menjadi kitab sebagaimana umumnya kitab. Padahal, penafsiran terhadap al-Qur’an mengikuti kaidah:

من فسر القرآن برأيه فقد أخطأ ولو اصاب

Sesiapa yang menafsirkan al-Qur’an dengan pandangan akalnya, sungguh telah melakukan kesalahan, walaupun penafsirannya benar (hadits Nabi sebagaimana dikutip Imam Ibnu Katsir di dalam tafsirnya)

Di antara bentuk degradasi itu adalah semua orang menjadi boleh menafsirkan al-Qur’an menurut kemauan dan kepentingannya.

Kefatalan Bang Munzir di dalam menafsirkan al-Qur’an itu terjadi ketika mengarahkan tafsir “wali setan” kepada Allah Yarham Gus Dur dan menafsirkan ayat “wa’tashimū bi hablillāh” sebagai antitesis terhadap perbuatan yang dianggap bid’ah.

Alih-alih ingin mengajak umat kepada pemahaman al-Qur’an yang shohih, Bang Munzir justru mengajak umat untuk berpolitik dengan memanfaatkan al-Qur’an. Sehingga, tidaklah keliru jika disimpulkan bahwa benih-benih pola Khawarij sedang disemai oleh Ustad Munzir Situmorang ini.

Tulisan ini bukan dimaksudkan untuk menghalangi Ustad Munzir menyampaikan ceramah. Tapi, tulisan ini berusaha menjelaskan kepada umat tentang bagaimana memahami al-Qur’an menurut jalan ilmu. Saat ini umat perlu diedukasi agar tidak salah dalam mengkonsumsi pengetahuan. Umat yang teredukasi merupakan di antara upaya menjadikan kegiatan dakwah kembali kepada idealismenya yang hakiki.

Wallāhul Muwaffiq ilā Aqwamit Thariq…

Abdi Kurnia Djohan

Sumber: https://www.facebook.com/abdikurniadjohan/posts/2326206647682133

(suaraislam)

Loading...