Kongkalikong Tokoh Politik & Agama

Sejak zaman bahula, khususnya ketika agama mulai memasuki panggung publik, tokoh / penguasa politik sering kongkalikong dengan tokoh agama, baik untuk kebaikan maupun kejahatan.

Fenomena ini biasanya terjadi di negara-negara yang memiliki populasi umat agama konservatif atau semi-konservatif. Diluar itu biasanya tidak terjadi karena orang lebih banyak berpikir tentang bagaimana mewujudkan kemakmuran, keadilan, perdamaian dlsb ketimbang persoalan politik primordial identitas agama.

Relasi agama-politik ini menarik dan selalu dinamis. Adakalanya koalisi politik-agama itu untuk atau demi kemaslahatan rakyat, negara dan bangsa. Ini kalau yang menjalin koalisi itu antara tokoh politik baik dengan tokoh agama baik.

Tetapi tidak jarang koalisi politik-agama itu dilakukan untuk “proyek” kejahatan dan kebiadaban. Kalau yang ini terjadi antara tokoh politik rakus bin tamak bertemu/kongsi dengan tokong agama bodong bin gemblung.

Dalam hal ini, si tokoh politik rakus bin tamak itu akan menjadikan si tokoh agama tersebut sebagai jalan, kendaraan atau bahkan “barang mainan” dan bumper mereka untuk menggapai tangga kekuasaan yang akan mereka jadikan sebagai “jalan tol” untuk mengeruk dan menguras sumber-sumber ekonomi, finansial, dan kekayaan alam negara.

Kenapa si tokoh politik tamak bin serakah itu membutuhkan tokoh agama bodong dan gemblung bahkan sampai memuji-muji sebagai tokoh agama kharismatik dan tetek-bengek lainnya?

Pertama, karena si tokoh politik tidak mempunyai massa militan dan loyalis yang bisa “dimainin” dan digerakkan secara kontinu dan konsisten dengan “biaya murah”. Yang mempunyai massa militan, loyalis dan biaya murah (bahkan gratisan) itu adalah tokoh agama.

Bagi si tokoh politik rakus ini, mereka cukup menyuap dan membayar si tokoh agama bodong ini saja. Selanjutnya, si tokoh agama bodong ini yang berkoar-koar kayak toa bodol (lewat orasi, pengajian, khotbah dlsb) sambil pamer mobil-mobil mewah, dan dibantu oleh orang-orang dekatnya mengomando loyalis dan massa militannya yang 99,99% pekok permanen untuk demo, menguasai jalan, merusak properti, menyembah baliho, dan seterusnya.

Kedua, karena untuk berkuasa membutuhkan suara rakyat lewat Pilpres, Pilkada, Pilgub dlsb. Kalau mekanisme pemilihan presiden, gubernur dan seterusnya bukan melalui pemilihan langsung (one man/woman one vote) tetapi lewat dewan (badan legislatif), maka para tokoh politik semprul ini tidak akan menggubris para tokoh agama prutul itu. Mau nyungsep, nyungsep aja sendiri. Si tokoh politik rakus cukup menyuap para anggota dewan yang bisa disuap karena mereka yang “mempunyai suara” (rakyat tinggal mlongo menonton). Beres!

Jadi, sodara-sodare hanya orang-orang lugu-njegu yang menganggap kepulangan Bang Toyib itu sebagai “kepulangan biasa”. Hanya orang-orang somplak dengkule yang mengelu-elukan Bang Toyib. Para elit politik rakus itu sudah berhitung dan memperhitungkan. Mereka pun rela melakukan apa saja untuk memulangkannya agar bisa dipakai lagi sebagai jalan untuk menggelorakan politik busuk, kotor dan menjijikkan dengan jualan agama, ayat, dan Tuhan.

Jika tidak ada “pemilihan langsung”, si Bang Toyib dipastikan sampai ngerak dan karaten di gurun dan bisa saja jadi “mumi kontemporer”. Semoga Indonesia diselamatkan dari ulah para elit politik rakus dan tokoh agama yang bodong wudele.

Jabal Dhahran, Jazirah Arabia

Sumanto Al Qurtuby

Sumber: https://www.facebook.com/762670522/posts/10164527922870523/

(Suara Islam)

Loading...