Kode Keras Jokowi untuk Surya Paloh

Akhirnya saya melihat Jokowi bener-bener tanpa beban. Jokowi benar-benar ingin bekerja secara all out.

Sebelumnya saya sempat ragu terkait ketegasan Jokowi menyangkut persoalan radikalisme. Tapi keraguan itu tidak saya tulis dalam ruang publik medsos, melainkan saya pendam dulu. Saya ingin lihat terlebih dahulu aksi nyata Jokowi pasca dilantik jadi Presiden RI.

Dan ternyata benar…

Jokowi akhirnya menjawab keraguan saya dengan mengangkat menteri-menteri yang disiapkan untuk jadi “panglima perang” untuk membereskan soal radikalisme. Sebut saja seperti; Menteri Agama Jendral Fachrul Razi dan Jendral Tito Karnavian sebagai menteri dalam negeri.

Perpaduan antara mantan TNI-POLRI tersebut memang mantap

Saya jadi ingat apa dikatakan Jokowi saat usai pilpres dan ditetapkan oleh KPU sebagai Presiden terpilih periode 2019-2024. Jokowi mengaku bahwa untuk lima tahun ke depan sudah tidak punya beban apapun.

“Saya ngomong apa adanya, saya sudah enggak ada beban apa-apa, saya sudah tidak bisa mencalonlan lagi, jadi apapun akan saya lakukan kalau menurut saya itu yang terbaik untuk bangsa dan negara”. Kata Jokowi

Nah kita bita bisa lihat ketika acara HUT ke-55 Partai Golkar kemaren, Jokowi tampak menyentil Ketua Partai Nasdem Surya Paloh yang sebelumnya sempat berpelukan ‘mesra’ bersama Sohibul Iman dari PKS.

“Pak Surya Paloh, yang kalau kita lihat malam hari ini, beliau lebih cerah dari biasanya sehabis pertemuan beliau dengan Pak Sohibul Iman di PKS,”

Begitulah sentilan Jokowi yang disambut tawa dan tepuk tangan oleh para tamu undangan.

Memang benar Surya Paloh mendukung Jokowi sejak awal, tapi sentilan itu jangan dianggap remeh, karena bisa jadi itu “warning” buat Nasdem sebagai partai koalisi pemerintah agar bisa menempatkan diri secara proporsional.

Sentilan Jokowi teraebut seakan ingin menegaskan, “kamu berteman sama siapa saja silahkan, tapi lebih waspada kalau mau ‘bermesraan’ sama PKS.”

Mengapa harus lebih waspada?

Lihat saja, betapa banyak oknum kader PKS dan simpatisannya yang sangat masif menyebarkan fitnah terhadap pemerintah melalui media sosial. Belum lagi soal politik identitas yang juga masif dilakukan oleh para kader PKS sehingga rawan mengakibatkan perpecahan antar sesama anak bangsa dan juga umat beragama.

Jokowi juga dikenal sangat dibenci oleh banyak kader dan simpatisan PKS. Kalau boleh saya ibaratkan, Jokowi dan PKS bagaikan minyak dan air yang sulit untuk disatukan. Hal ini bisa dicek di lapangan, jika Anda ketemu kader PKS, tanyakan tentang Jokowi maka mereka pasti tidak suka.

Dan saya menduga, usai mendapat sentilan dari Jokowi, mungkin Surya Paloh akan mulai berfikir 1000 kali untuk melanjutkan ‘kemesraannya’ bersama Petinggi PKS.

Atau katakanlah jika Nasdem tetap abai terhadap “warning” dari Jokowi, maka bisa saja posisi jatah 3 menteri yang diberikan akan berkurang. PKS memang tak baik diajak berfikir untuk memajukan bangsa dan negara. Prestasi kader mereka juga hampir tidak ada, kecuali prestasi dalam hal poligami.

Sumber: FB Yusuf Muhammad

(suaraislam)