Kitab Agama dalam Berbagai Bahasa & Aksara

Anda mungkin mengira kalau teks “kitab suci” agama-agama hanya tertulis dalam bahasa & aksara tertentu? Tidak. Dalam sejarahnya, berbagai “kitab suci” agama telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa & ditulis dalam berbagai aksara yang digunakan oleh umat manusia di dunia ini.

Foto ini, misalnya, adalah contoh Kitab Injil yang menggunakan bahasa Melayu/Indonesia tetapi ditulis dengan aksara / huruf Arab (kadang disebut “Arab Pegon” atau “Pegon”) yang terbit tahun 1889. Di sampul berhuruf Arab itu tertulis “Perjanjian Baharu Yaitu Kitab Injil Tuhan Kami Isa Almasih.” Penulis/penerjemahnya adalah H.C. Klinkert, seorang misionaris Mennonite Belanda di Jawa di abad ke-19.

Menjadi menarik untuk diteliti lebih lanjut kenapa dulu Pak Klinkert menulis terjemahan Injil dengan aksara Arab. Siapa pembacanya? Apakah masyarakat di Kepulauan Melayu-Indonesia kala itu ada yang sudah mengetahui huruf Arab, selain kalangan “Muslim santri pesantren” tentunya yang memang sudah sejak dulu terbiasa menulis dengan aksara Arab dalam menerjemahkan berbagai kitab klasik bahasa Arab yang mereka pelajari di pesantren.

Sependek pengetahuanku (tolong dikoreksi kalau keliru), Kitab Injil juga pernah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa daerah di Indonesia seperti bahasa / aksara Jawa (mungkin oleh Gereja Kristen Jawa) atau bahasa Melayu-Ambon (mungkin oleh Gereja Protestan Maluku).

Di Timur Tengah, masyarakat Arab Kristen juga mengaji Kitab Injil dalam bahasa & aksara Arab, selain bahasa Aram bagi golongan klerik atau awam yang memahami (seperti Gereja Kristen Ortodoks Suriah misalnya). Bukan hanya Kitab Injilnya saja yang memakai bahasa Arab, praktik-praktik ibadah mereka di gereja juga menggunakan bahasa Arab sehingga nyaris susah dibedakan antara khotbah pendeta di gereja dan khotbah “pak ngustad” di masjid. Anda bisa melihat sendiri prosesi ibadah masyarakat Arab Kristen di gereja-gereja mereka di Youtube, ada banyak segambreng-ndombreng.

Bukan hanya Injil saja. Al-Qur’an juga ada yang diterjemahkan dan ditulis dengan bahasa/aksara Ibrani. Proyek penerjemahan ke dalam Judeao-Arabic ini sudah dilakukan sejak abad ke-11 di Mesir. Beberapa dekade terakhir, komunitas Yahudi Muslim (orang yang beretnis Yahudi tetapi memeluk agama Islam) yang sering disebut “Jews for Allah” juga memrakarsai penerjemahan Al-Qur’an ke dalam bahasa & aksara Ibrani.

Begitu pula, ada kitab-kitab yang dipakai umat Yahudi yang berbahasa / berhuruf Ibrani kemudian diterjemahkan / ditulis dengan bahasa & huruf Arab seperti yang dilakukan oleh para sarjana sekte Yahudi Karaite di Mesir di masa Abad Pertengahan dan masih berlangsung hingga kini.

Saya sendiri berpandangan akan lebih baik kalau kitab-kitab asing diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa lokal / daerah sehingga lebih “tepat sasaran”, masyarakat lebih memahami isi, makna atau kandungan teks dalam “kitab suci” tersebut daripada tetap memakai bahasa asing tetapi mereka tidak paham maknanya. Seperti masyarakat Muslim berdoa panjang-lebar memakai bahasa Arab tetapi nggak tau apa yang mereka baca. Lalu, bijimana Tuhan menjawab doa-doa mereka?

Jadi, sodara-sodara, baik eks-kampret maupun eks-cebong, hanya orang-orang kuper-njuper klenger keblinger saja yang melarang penggunaan bahasa lokal/daerah untuk “kitab-kitab suci” agama.

Jabal Dhahran, Jazirah Arabia
#kitabagamainjilalquran

Sumanto Al Qurtuby

Sumber: https://www.facebook.com/762670522/posts/10163775964170523/

(suaraislam)

Loading...