Khilafah Solusi Pelecehan Perempuan, Benarkah?

Belakangan ini Indonesia dibuat geger dengan beredarnya kabar penarikan RUU PKS dalam pembahasan Prolegnas prioritas DPR RI tahun 2020. Kita tahu presentase tindakan amoral dan ahumanis berupa pelecehan seksual kian hari kian meningkat.

Menjadi miris jika ternyata pelecehan seksual dianggap hal lazim. Bahkan pelaku masih dibiarkan bebas berkeliharaan, sedangkan korban menderita trauma hingga harus menanggung beban seperti luka fisik hingga kehamilan.

Koalisi Ruang Publik Aman (KRPA) pada 2018 lalu pernah mengadakan survei masyarakat tentang pakaian yang digunakan perempuan saat mengalami pelecehan seksual. Survei ini diikuti oleh 32.341 responden perempuan.

Hasil survei ini membuktikan bahwa pakaian terbuka dan ketat tidak menjadi satu-satunya alasan terjadinya pelecehan seksual. Bahkan, hasil survei menulislan 17,47% bercelana/rok panjang, 15,82% berbaju panjang, 13,80% berbaju longgar, dan 13, 20 berjilbab pendek.

Setiap ada tindakan pelecehan seksual, seringkali korban menerima berbagai cibiran masyarakat, selain harus menerima risiko luka fisik, trauma psikologis hingga kehamilan. Pun, tak banyak korban pelecehan seksual yang berani angkat suara. Rata-rata memilih diam seribu bahasa dan berusaha menutup-nutupi “aib” yang terjadi pada dirinya karena dianggap sebagai pembawa malapetaka.

Pelecehan dan Klaim Khilafah Solusi Problematika Umat
Ditengah riuh protes para pegiat HAM dan aktivis perempuan terkait DPR yang memutuskan menarik RUU PKS dari pembahasan dalam rapat Prolegnas prioritas, munculah berbagai asumsi dari pengasong khilafah di NKRI. Mereka mulai menawarkan “dagangannya” yang tak kunjung laku itu.

Mereka berasumsi bahwa dengan Khilafah, segala problematika seperti pelecehan seksual tak akan terjadi sebab mereka menggunakan syariat Islam sebagai landasan dan hukum bernegara.

Dalam sebuah kesempatan, saya masih ingat betul Dhania mantan returned ISIS di Suriah, pernah menceritakan pengalaman buruknya di negara yang diklaim menggunakan sistem Khilafah Islamiyah ala ISIS. Ia berkisah bahwa selama berada di kamp pengungsian, perempuan selalu menjadi korban pelecehan seksual. Para jihadis ISIS seringkali datang meminta “tumbal” perempuan untuk dijadikan istri bahkan budak seks.

Di mata jihadis ISIS, perempuan sama sekali tidak berharga. Perempuan hanya dijadikan sebagai objek pemuas hasrat seksual. Bodohnya para perempuan pun dengan sukarela menerimanya, bahkan mereka berasumsi bahwa hal tersebut adalah bagian dari jihad.

Perempuan Yazidi adalah korban budak seks terbanyak oleh jihadis ISIS. Kita ingat kasus yang terjadi kepada Ekhlas, perempuan berusia 14 Tahun yang berusaha kabur dari kawasan Irak Utara pada 2014 lalu, namun dicegah oleh komplotan ISIS.

Ekhlas ditahan oleh komplotan ISIS selama enam bulan dan dijadikan sebagai budak seks. Setiap hari selama enam bulan, ia terus-terusan diperkosa hingga memiliki hasrat untuk bunuh diri karena tak punya impian dan harapan lagi. Hal itu juga terjadi kepada remaja perempuan lain seusianya yang menjadi tawanan ISIS.

Tak banyak yang bisa diharapkan oleh kaum perempuan jika para pengasong khilafah di NKRI memenangkan “pertarungan sengit” di masa depan. Bisa kita bayangkan bagaimana emansipasi perempuan yang telah diperjuangkan oleh RA Kartini semasa hidupnya, kandas ditentang oleh kaum religius yang menyatakan emanispasi sebagai produk kafir.

Kita tentu bisa bayangkan betapa mirisnya ketika perempuan jadi tak lagi berharga, pelecehan dimana-mana, perbudakan seksual jadi hal yang lazim, dan kita kembali menjadi manusia di zaman jahiliyah sebelum Islam.

Tentu bukan hal yang lagi tabu. Kita tidak menyalahkan sistem khilafah, melainkan para pengasongnya. Kita paham betul track record mereka selama ini. Selain tak bisa dipercaya, seringkali mereka justru melecehkan Islam yang diperjuangkannya melalui tindakan-tindakan anarkis, brutal, amoral dan ahumanisnya. Sehingga tidak ada kata tidak untuk melawan pergerakan menyesatkan ala mereka.

Vinanda Febriani

Sumber: https://islamkaffah.id/khilafah-solusi-pelecehan-perempuan-benarkah/?

(Suara Islam)

Loading...