Ketum PBNU Tegaskan HTI Merusak Kebhinnekaan dan FPI Merusak Citra Islam

Ilustrasi

Sampai sekarang ini, ada banyak ormas-ormas yang berlabelkan Islam berdiri dan berkembang di Tanah Air, salah satunya adalah Hizbut Tahrir Indonesia atau yang kerap dikenal dengan singkatan HTI.

Jika pada waktu berdiri sampai beberapa waktu sebelumnya, HTI lebih condong bergerak dan menyuarakan masalah keimanan dan ke-Islaman, kini ormas ini justru lebih agresif lagi karena kerap mengkampanyekan anti-nasionalisme.

HTI Ormas penyebar anti Nasionalisme

Dirasa dapat membuat kerukunan dan kebhinnekaan di Indonesia tercerai berai, Penrurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) meminta Polri untuk mengawasi setiap sepak terjang dari HTI. Hal itu seperti yang dikatakan oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj saat menerima kunjungan Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian bersama Jajarannya di Kantor PBNU Jakarta pada hari Kamis (19/8/2016) lalu.

KH Said mengatakan bahwa walaupun HTI masih tergolong kecil dan berkekuatan lemah, namun bukan berarti dapat disepelekan begitu saja. Dia juga tidak menyoroti masalah pergerakan HTI yang dianggapnya dapat mengancam keutuhan bangsa saja, melainkan juga terhadap Front Pembela Islam (FPI) yang menurutnya justru merusak citra Islam sebagai agama damai.

“Gerakan tersebut (HTI) saat ini masih kecil dan lemah, tetapi jika tidak diantisipasi lebih dini bisa mengancam keutuhan bangsa. Sedangkan FPI bukanlah gerakan Islam radikal yang ngotot ingin mendirikan negara Islam di Tanah Air karena misinya adalah menegakkan amar makruf nahi munkar, sayangnya apa yang dilakukan tidak terkoordinasi dengan aparat keamanan. Jadinya malah merusak citra Islam yang damai,” ujar KH Said, seperti yang dilansir oleh Republika (19/8/2016).

Selain kedua ormas tersebut, KH Said juga menjelaskan masalah terkait bentrokan yang terjadi antara anggota dari Banser NU dengan anggota dari Majelis Tafsir Alquran (MTA) di Boyolali, Jawa Tengah, baru-baru ini.

Menurutnya, ajaran MTA kerap membid’ah amaliah NU, salah satunya adalah mengharamkan tahlil. Sebelumnya, pihak PBNU sudah menghimbau agar kelompok MTA tidak melakukan provokasi di lingkungan warga NU, sayangnya mereka tidak menghiraukan hal itu.

“Berbeda itu biasa, tetapi kalau sampai menyalah-nyalahkan amaliah orang lain, itu yang tidak benar. Yang dilakukan Banser hanya upaya penghadangan saja, sampai akhirnya terjadi bentrokan kecil,” jelasnya lagi.

Setelah bertemu dengan KH Said, Tito mengatakan bahwa Polri sebagai petugas dan elemen negara dan di mana NU adalah salah satu pendiri bangsa yang bergerak dalam bidang keagamaan, akan terus menjalin hubungan serta kerja sama untuk menjaga kerukunan dan kebhinnekaan di Tanah Air.

“Setelah beberapa kali ke sini (PBNU), kami akan merealisasikan pertemuan ini dengan melakukan MOU dan menggelar seminar di Surabaya tentang hukum,” kata Tito.

(suratkabarid/suaraislam)

Loading...