Ketika Gatot ‘Marah’ pada Dandim

Saya sengaja memilih kata “marah” dibanding dengan “ribut/berantem” dengan Dandim, sekali-kali karena rasa hormat saya kepada seorang Jendral penuh, bintang 4 dan mantan Pangab.

Kesan terlalu meremehkan posisi Jendral bintang 4 yang selalu hanya ada tak lebih dari lima orang dalam setiap periode, saya coba hindari.

Maksimal hanya ada dua orang dalam satu angkatan di Republik ini dan itupun gara-gara satu yang lain duduk sebagai Panglima.

Setiap Jendral, dijamin pernah berpangkat Kolonel. Itu sudah pasti. Demikianlah Jendral Gatot Nurmantyo, dia pernah berpangkat Kolonel sebelum Brigadir Jendral diraihnya.

Marah pada Komandan Kodim Jakarta Selatan Kolonel Ucu Yustiana karena sang Dandim menghalangi Jendral Gatot dan kawan-kawan memasuki Taman Makam Pahlawan Kalibata, seharusnya adalah cerita menampar muka sendiri.

Ini tentang tongkat komando, dimana Jendral Gatot sangat paham apa makna tongkat itu bagi si pemegang. Nyawa adalah taruhannya.

Banyak sudah jenis tongkat komando pernah dia pegang mulai dari tongkat komando saat dia menjadi komandan batalyon hingga Panglima Abri. Tak ada alasan baginya meremehkan sekecil apapun tingkat hebat tongkat itu.

Kolonel Ucu diberikan wewenang oleh negara dan memegang tongkat komando itu. Dia seorang Komandan Kodim Jakarta Selatan. Tak setinggi apalagi sehebat tongkat komando TNI.

Salah satu tugas yang diberikan oleh negara kepada Kolonel Ucu sebagai Dandim adalah menjaga Taman Makam Pahlawan Kalibata. Itu salah satu kewenangan sekaligus tugas yang harus dijaga meski nyawa harus menjadi taruhannya. Itulah makna militer, dan teori seperti ini, Jendral Gatot sangat sangat mengerti.

Salahkah seorang Ucu menjalankan tugasnya meski harus menegur bekas komandannya? Seharusnya, menyeret siapapun yang ngeyel dan apalagi merendahkannya, adalah kewajibannya.

Unggah ungguh atas kepatutan terhadap senior sudah dilakukan, namun dia tetap dianggap tak hormat. Dia dianggap tak memiliki etika berani ngeyel dan apalagi menghalangi mantan atasannya yang seorang berpangkat Jendral penuh.

Ini bukan tentang Kolonel Ucu, ini tentang mentalitas seorang kebelet. Hanya kebetulan saja yang kini sedang kebelet adalah seorang Jendral.

Disisi lain, bukankah Gatot pernah menjabat sebagai Komandan Kodim? Dua Kodim pernah dia singgahi dalam karir militernya, Kodim 1707 Merauke dan 1701 Jayapura.

Seharusnya dia jauh lebih mengerti sebelum marah dan sikap merendahkan sang Dandim dibuatnya. Seharusnya, dia lebih mengerti karena dua kali pernah menjadi Komandan Kodim. (Adegan menunjuk-nunjuk sang Dandim adalah bukti dia tak menghargai apa yang dulu pernah dibanggakannya).

Tak lama, Panglima Kodam sebagai atasan Kolonel Ucu membuat pers rilis, mereka yang ngeyel masuk ke TMP Kalibata, tak berijin.

“Berarti, arogan dong dia?”

Membayangkan seorang yang sangat ingin menjadi Presiden dan kemudian dengan enteng dia mampu melanggar apapun
yang pernah sangat dimengertinya demi rasa ingin itu, hmm…,🙄

Saya lebih salut dengan pak Dandim yang dengan segala keterbatasannya berusaha menjadi negosiator yang baik sehingga para seniornya tetap dapat berziarah.

Disana makna kewenangan terhadap jabatan yang melekat dengan simbol tongkat komandonya dan kebijakan yang harus diputuskannya dapat “dihandel” dengan baik.

Meski yang bersangkutan baru saja menjabat Komandan Kodim, Kolonel Ucu jauh lebih mengerti apa itu makna tongkat komando dibanding dengan dia yang pernah menjabat dua kali aebagai Dandim dan bahkan berakhir dengan tongkat komando tertinggi di TNI.

Dandim Ucu layak menjadi pimpinan TNI masa depan.

RAHAYU

Karto Bugel

Sumber: https://www.facebook.com/opinipediaofficial/posts/3562425883851078

(Suara Islam)

Loading...