Kenapa Harus Ada Kyai yang Memimpin Negara?

Pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 01 Joko Widodo dan Ma'ruf Amin. (CNN Indonesia/Christie Stefanie)

Pertanyaan itu dulu sering diperbincangkan. Ini pemilihan pemimpin negara, bukan pemilihan pemimpin pesantren. Negara sibuk dengan dunia, ulama fokus urusan akherat. Pantaskah ulama memimpin negara?

Beda dulu, beda sekarang. 10 tahun lalu, isu sara mengenai agama belum semeriah saat ini. Memainkan mayat, persekusi ayat, sampai berbeda pilihan dianggap murtad baru baru ini menjadi trend kampanye menarik simpatisan warga pemuja surga instan. Pilih dia, auto surga.

Agama menjadi hal yang paling sensitif dipermainkan. Beberapa orang mendadak kaku beragama, merasa paling benar sesuai kehendaknya. Mereka hanya ingin didengar tidak mau mendengarkan. Buta dengan calon idaman. Hoax, ujaran kebencian, fitnah menjadi sasaran empuk untuk dipertontonkan.

Jreeeng….. deklarasi hoax jamaah
Jreeeng….. kyai dihujat, non muslim ceramah dimusholah teriak takbir asal selaras dengan otaknya.

Keraguan sesama muslim kian meningkat. Satu sama lain menjadi curiga, “Dia islamnya KTP”. “Dia islamnya bayaran partai”.

Cuiiih….

Wudlu dengan satu gayung dibiarkan. 
“Wajar toh, dia bukan ulama. Jadi belum terlalu paham agama”.

Kuburan ulama dilangkahi dengan entengnya.
“Ga usah diperbesar. Kalo dilangkahi emang yang di dalam kubur marah? Ngaruhnya apa?”

Perayaan natal dikecam keras, sweeping atribut khas kristiani diboikot. Eh yang joget joget semakin lincah dengan tariannya.
“Nona manis putar lah ke kanan… ke kanan….. dan ke kiri… ke kiri…..”

Soal agama mereka yang mulai, mereka pula yang tidak pandai. Sok paling agamis, padahal cuma modal gamis dan jenggot klimis.

Kini peran kyai memimpin negeri sangat dibutuhkan untuk menetralisir keadaan. Satu, yang merasa paling agamis hanya bermodalkan hasil ijtima ulama untuk menangkis. Satu lagi yang dicap minimnya kadar keislaman bahkan disangka anti islam akan terbantahkan karena menggandeng kyai untuk berdiri.

Indonesia darurat agama, ajaran islam seperti semena mena terhadap beberapa orang soal agama.

“NKRI Harga Mati” Kata yang satu.
“NKRI SYARIAH Harus Berdiri” kata mereka.

Islam mayoritas bukan menindas.
Ulama yang menjadi panutan warga muslim yang harus mengendalikan nafsu kekuasaan yang buas.
Ingin berkuasa, segala cara terlaksana.

Ikut kyai ngawal negeri.

HA

Sumber: FB Umar Fahrudin

(suaraislam)

Loading...