Kekacauan Narasi Soal ISIS

Foto: Ashwaq Haji, perempuan Yazidi yang pernah dijadikan budak seks ISIS. Dia memegang kolase foto warga desanya, desa Kocho, Sinjar, yang jadi korban kebrutalan ISIS. (AFP)

Barusan baca status orang-orang yang secara tersirat membela ISIS; konon mereka korban kezaliman, mari kita bicara HAM, bicara soal kemanusiaan, dan bla bla bla lainnya.

Duh jadi ingat kalimat yang viral terkait film Joker: “orang jahat adalah orang baik yang tersakiti”.

Diadaptasi jadi begini dong: “ISIS adalah muslim yang tersakiti.”

Benar-benar wow lah.

Permakluman-permakluman atas kejahatan ISIS (dan milisi teror lain, dalam berbagai nama tapi ideologi sama) sungguh omong kosong. Berapa banyak orang miskin dan termarjinalisasi di negeri ini? Apa mereka semua memilih jadi teroris? Berapa banyak orang yang tersakiti, apa mereka memilih jadi teroris?

Ada yang bilang, mereka itu “korban yang tertipu ISIS”, jadi seharusnya kita maafkan saja, semua orang bisa salah. Ini sungguh mengaburkan akar masalah: kalau mereka tidak menganut ideologi yang sama dengan ISIS (takfirisme), mereka tidak akan ke sana.

Kalau pake ibarat di dunia akademis: ISIS itu kayak ‘call for paper’, yang daftar, kirim paper, dan ikut konferensi pasti yang sudah sefrekuensi, berasal dari bidang ilmu yang sama. Kalian yang konon orang-orang pinter, ga usah menutup-nutupi inilah.

Dan bila diakui mereka tertipu, mengapa yang menipunya tidak diurus, dipaksa untuk untuk mengklarifikasi semua kebohongan yang pernah mereka sebar? Mengapa para penipu masih terus dibiarkan menyebar kebohongan yang memberi motivasi untuk mereka bergabung dengan ISIS (dan milisi teror lain dengan berbagai nama)?

Kalau kalian mau memulangkan ISIS mengapa tidak dibahas dulu soal “apa yang dilakukan kalau mereka pulang”? Sepakati dulu, akar ideologi teror itu apa (ini saja masih banyak perbedaan pendapat di antara orang “pinter”). Lalu, metode deradikalisasinya seperti apa, programnya apa, alat ukur keberhasilannya apa, berapa lama, bujet berapa, pelaksana siapa, orang-orang yang bertugas siapa aja (biar publik yakin, bahwa beneran mereka orang-orang yang mumpuni untuk mematahkan ideologi teror dengan dalil aqli dan naqli) … dst.

Yang mendasar ga dibahas. Sibuk ngomong soal HAM dan kemanusiaan.

Mengapa orang-orang di dalam negeri, yang masih di pengungsian, yang bukan teroris, yang diusir oleh orang-orang yang ideologinya sama dengan ISIS (suka mengkafirkan orang yang tak sepaham dengannya, dan bahkan membunuh dan membakar harta orang yang dicap kafir) tidak kalian bela?

Apa orang harus jadi ISIS dulu baru kalian memperjuangkan nasib mereka atas nama kemanusiaan? Atau ini masalah funding? Ada lembaga yang lagi bagi-bagi duit untuk proyek menyuarakan pemulangan ISIS atas nama penegakan HAM bla bla bla kah?

Sumber: FB Dina Sulaeman

(suaraislam)

Loading...