Kasus KM 50, Guntur Romli: Alhamdulillah yang Mati FPI Bukan Polisi

Intelektual muda NU, Mohamad Guntur Romli mengomentari kasus matinya 6 Laskar FPI dalam peristiwa KM 50 yang terjadi pada 7 Desember 2020.

Dampak dari peristiwa itu, digelar pengadilan terhadap dua orang anggota polisi yang didakwa bertanggung jawab atas tewasnya laskar khusus ormas yang mengaku-ngaku membela Islam itu (FPI) yang sudah dibubarkan.

Guntur Romli bersyukur dalam peristiwa itu yang mati bukan anggota polisi tapi laskar FPI.

“Syukur alhamdulillah, yang mati dalam peristiwa itu FPI bukan polisi. Coba yang mati itu polisi, pasti FPI makin besar kepala, baca saja berita-berita akhir tahun 2020an bagaimana Rizieq dan FPI merasa di atas negara, Rizieq datang dari Saudi dengan menggagalkan banyak penerbangan, ribuan pendukungnya merusak fasilitas bandara, bikin kerumunan, melakukan kesombongan, caci maki, menantang negara, melanggar protokol kesehatan, Rizieq dipanggil polisi 2 kali tidak hadir, bahkan petugas yang memberikan surat dihalang-halangi.. ” kata Guntur Romli dalam acara di Cokro TV.

Bagi Guntur Romli tewasnya laskar FPI itu karena petugas polisi terpaksa membela diri, karena FPI yang memulai semua kejadian kekerasan itu.

“TKP 1 sampai TKP 3 jelas, FPI yang memulai, menabrak mobil petugas, kemudian menghadang, menyerang dengan senjata tajam, diberi tembakan peringatan malah menembak ke arah petugas polisi, tembak-tembakan, dalam peristiwa ini diketahui ada 2 orang Laskar FPI yang tewas. Kemudian TKP 4, di mana 4 Laskar FPI tewas karena mereka menyerang petugas, menyekik, memukul, mengeroyok, menganiaya, dan merebut senjata petugas, kalau petugas polisi tidak melakukan tindakan tegas, mungkin polisinya yang mati saat itu, tapi dengan takdir Allah Swt, dan syukur alhamdulillah yang mati itu FPI bukan polisi,” beber Guntur Romli dalam acara Yang Lagi Viral di Cokro TV yang bisa disaksikan melalui tautan berikut

Pengadilan pertama dimulai pada hari Senin 18 Oktober 2021 di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Namun bagi Guntur Romli, dua petugas polisi yang didakwa itu adalah pahlawan dan harusnya diberi apresiasi bukan diadili.

“Bagai saya dua orang itu pahlawan, mereka harusnya diberi apresiasi, karena menjalankan tugas dengan resiko jiwa dan raga, mereka juga berjasa karena setelah kejadian itu FPI yang sebelumnya sewenang-wenang, langsung mengkerut terus dibubarkan, mereka berjasa atas dibubarkannya kelompok radikal di negeri ini.”

(Suara Islam)

Loading...