Kang Maman Jelaskan Maksud Pernyataan Wakapolri Terkait Pelibatan Preman

Terkait ungkapan pelibatan jeger sebagai penegak disiplin internal di klaster pasar oleh TNI-Polri seperti yang disampaikan oleh Wakapolri Komjen Pol Gatot Eddy Pramono yang melahirkan beragam polemik antar anggota masyarakat, sepertinya perlu ada elaborasi penjelasan lebih lanjut.

Menggunakan kata jeger, jawara, atau preman memang terkesan riskan, dan mudah memancing kontroversi di kalangan luas. Tapi di sisi ini, kita harus melihat secara lebih realistis. Banyak di antara tokoh ini tidak melulu terikat dengan stigma bahwa mereka mendominasi orang lain dengan cara kasar, identik kekerasan serta hal negatif lainnya. Banyak juga di antara mereka merupakan sosok berwibawa yang tindakan serta perkataannya dipatuhi oleh masyarakat sekitar.

TNI-Polri dan Satuan Gugus Tugas Covid-19 tentu akan sangat berhati-hati dalam memilih tokoh seperti ini sebagai perpanjangan tangan edukasi pemerintah pada khalayak umum, dalam hal ini pedagang dan pengunjung pasar secara khusus.

Lewat pemantauan, penyelidikan serta pendataan cermat, akan dipilih tokoh masyarakat yang memiliki kewibawaan kuat sekaligus memiliki rekam jejak yang baik dalam memberikan pengaruh pada lingkungan sekitar.

Tokoh yang berwibawa serta kharismatik ini tanpa harus ada pemaksaan atau kekerasan, apa yang disampaikan akan dipatuhi, apa yang dilakukan akan dicontoh oleh masyarakat.

Pemberdayaan tokoh demikian diharapkan dapat meluaskan efisiensi edukasi protokol kesehatan pencegahan virus Corona secara lebih luas.

Upaya Win-Win Solution

Polri sendiri memang memiliki satuan Pembinaan Masyarakat (Binmas) yang bertugas menjalankan dan melaksanakan pembinaan. Meliputi kegiatan dalam penyuluhan, melaksanakan pengawasan, melakukan koordinasi keamanan serta menjalin kerja sama dengan beragam organisasi masyarakat.

Dari sini terlihat, sebenarnya upaya pelibatan tokoh yang ada dalam masyarakat guna meningkatkan kesadaran dan ketaatan hukum serta peraturan bukanlah hal asing.

Langkah ini malahan sangat efektif untuk menutup kekurangan rasio antara anggota polisi dan masyarakat yang masih cukup tinggi. Menurut Drs. Suprapto, S.U.seorang pakar sosiologi kriminalitas Universitas Gajah Mada, rasio antara anggota polisi dan masyarakat di Indonesia adalah 1:2000, sementara di negara yang lebih maju idealnya ada di angka 1 : 600. Sebuah fakta yang harus diakui masih merupakan sebuah kesenjangan.

Di sisi lain, mengutip kalimat Dale Carnegie, seorang penulis dan pengajar pengembangan diri legendaris dunia, “Untuk mengubah perilaku seseorang, ubahlah nilai dirinya, dengan mengangkatnya pada reputasi yang bisa ia banggakan.” Ini adalah salah satu efek turunan positif dari pelibatan tokoh yang disegani dan dihormati dalam masyarakat dalam isu Covid-19. Memberikan tanggung jawab tugas negara pada sosok seperti ini berpotensi membuat dirinya merasa punya andil dalam hal positif.

Bahwa bila terus konsisten mengingatkan masyarakat pada protokol kesehatan seperti menggunakan masker, dia telah melakukan perbuatan baik. Hal ini sangat bisa melahirkan peningkatkan kepercayaan diri. Ke depan, citra ini tentu akan terus berusaha dijaga olehnya. Juga bukan tidak mungkin, sebagai efek bola salju, banyak hal-hal baik lain akan terus bermunculan dari dirinya dan bermanfaat bagi masyarakat sekitar.

Sebuah pemberdayaan yang akan memberikan efek positif karena bersifat win-win solution bagi semua pihak.

Saya mendukung pernyataan Wakapolri dengan syarat-syarat dan pertimbangan di atas.

Maman Suherman, lebih dikenal sebagai Kang Maman, Alumni Kriminologi Universitas Indonesia (UI), penulis dan juga pengamat sosial

(Suara Islam)

Loading...