Kamuflase! Penerapan Syariat Islam di Aceh Semakin Jauh dari Nilai-nilai Syariat

Kantor Gubernur Aceh ramai oleh keberadaan 10 papan bunga bertuliskan ucapan “Selamat” pada Rabu (17/2). Namun, ucapan itu adalah sindiran setelah Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Aceh menjadi provinsi termiskin di Sumatera.

Seperti diketahui, Aceh merupakan satu-satunya provinsi yang menerapkan hukum islam (syariah) di Indonesia.

Menurut pegiat media sosial, Ahmad Tsauri, penerapan syariah di Aceh itu hanya kamuflase dan alat untuk mencapai tujuan saja. Berikut ulasannya:

Mohon maaf dari awal saya skeptis dengan konvensi Swis yang menyetujui penerapan syariat sebagai bagian perdamaian.

Skeptis kalau tujuan perang itu syariat, sepertinya tujuannya bukan itu.

Hanya kamuflase, sama saja dengan otonomi-otonomi daerah itu hanya berbagi kursi untuk elit.

Nyaris tidak ada yang berhasil menyejahterakan rakyat, karena memang tidak ada niat untuk itu.
Apalagi kasus Aceh ini, penerapan syariat Islam malah semakin jauh dari nilai-nilai syariat.

Tujuan syariat itu muaranya kesejahteraan rakyat, jasmani rohani. Jadi jangan jadikan syariat sebagai alat kemudian jadi kambing hitam.

Tujuan syariat itu dijabarkan dalam 5 konsep dasar, Asas khomsah; pertama menjaga jiwa artinya ekonomi rakyat harus baik sejahtera

Kedua, menjaga kehormatan artinya hukum tidak tebang pilih pandang bulu.

Ketiga, menjaga harta artinya regulasi harus melindungi semua rakyat.

Keempat, menjaga nasl atau keturunan artinya anak-anak mendapatkan perhatian dari pemerintah.

Kelima, menjaga agama artinya kalau rakyat dicambuk karena pacaran dan dipermalukan, seyogyanya gubernur korup di potong tangan.

(Suara Islam)

Loading...