Kala AKP Benny Cahyadi Tangkap Bahar Smith

AKP Benny Cahyadi

Orangnya tenang dan gagah. Itu kesan yang saya lihat saat menonton video penangkapan kembali Bahar terpidana kasus penganiayaan terhadap anak-anak. AKP Benny Cahyadi adalah komandan lapangan pasukan penangkapan. Dalam video yang beredar di media sosial, Bahar seperti memancing emosi melalui kalimat-kalimatnya, juga tampak seperti mengulur waktu. Tapi AKP Benny Cahyadi tampak tenang meski tetap waspada, fokus dan tak terpancing.

Menangkap tokoh seperti Bahar bukan tanpa resiko, kalau tak punya keahlian lapangan, emosi yang kuat, dan prediksi yang valid, penangkapan itu bisa kontraproduktif. Apalagi Bahar sudah disematkan oleh pengikutnya sebagai ulama dengan narasi kriminalisasi ulama. Meskipun yang sebenarnya terjadi ulamaisasi kriminal. Karena Bahar dipenjara bukan karena dia disebut sebagai ulama tapi karena tindakan kriminalitas, penganiayaan terhadap anak-anak yang sudah terbukti vonis di pengadilan.

Bahar dikeluarkan untuk asimilasi. Dia belum bebas murni. Karena ada kebijakan manusiawi dalam sistem undang-undang kita, dia berhak menerima asimilasi. Saya sempat baca berita di salah satu media online, katanya Bahar menolak asimilasi ini karena tidak mau disebut berhutang budi pada Jokowi. Toh akhirnya Bahar menerima asimilasi. Saat keluar, ia berterima kasih pada Rizieq dan disambut dengan arak-arakan.

Bukannya fokus asimilasi, Bahar malah disebut-sebut terlibat provokasi, baik melalui ucapan hingga tindakannya. Ucapannya dianggap ada nada hasutan. Tindakannya dengan pengumpulan massa dianggap melanggar PSBB.

Saat ditangkap, Bahar berusaha memancing emosi dengan menyebut ‘istana’. Padahal urusan asimilasi itu urusan dirjen lapas dan kalapas. Anda bisa cek do google, beberapa narapidana yang dikeluarkan dari lapas akhirnya ditangkap dan dimasukkan lagi ke penjara karena dianggap melanggar aturan. Ini mekanisme hukum yang berlaku, sangat jauh terlalu dihubungkan dgn istana yang kini lebih fokus ngurus penanganan Covid-19.

AKP Benny Cahyadi tak tersulut oleh kalimat Bahar. Demikian pula saat Bahar mencoba mengulur waktu dengan berdalih mau merokok sebatang dan ajakan masuk ke dalam. Andai AKP Benny Cahyadi termakan taktik Bahar, akhir cerita bisa beda. Apalagi sampai ada pengumpulan massa, hingga terjadi bentrokan, pastilah polisi akan jadi sasaran kemarahan.

Dini hari dipilih sebagai waktu penangkapan adalah prediksi yang tepat. Ini operasi senyap. Polisi bertaruh dengan waktu, mengandalkan keahlian lapangan dan pengalaman yang mumpuni.

Semua harus dikerjakan dgn cepat dan tepat. Sesuai SOP dan perintah. Tak boleh ada celah untuk gagal. Soal ini, polisi memang jagonya.

Dini hari itu, melalui ketenangan dan keahlian AKP Benny Cahyadi, Kasat Reskrim Polres Bogor, Bahar kembali dimasukkan ke Lapas.

Guntur Romli

Sumber: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10158978683315955&id=154058685954

(suaraislam)

Loading...