Jangan Buat Indonesia Jadi Sarang Teroris

Ilustrasi

Organisasi teroris dunia berbasis agama, bukan cuma persoalan hari ini.ia akan menjadi persoalan di masa depan. Di Islam, selama ideologi Wahabi takfiri yang kaku, suka mengkafirkan, membenci agama lain masih eksis, selamanya akan terus bermunculan teroris baru.

Organisasi teroris juga bukan hanya ISIS. Ada Hizbut Tahrir, Ikhwanul Muslimin, Alqaedah, Jabhat Nusra, Boko Haram, Abu Sayaf dan banyak lagi. Mereka terus memprovokasi publik dengan kedegilannya. Keberadaanya tersebar di seluruh negara.

Mereka organisasi lintas negara. Akan selalu membuat kekacauan dan mengundang pengikutnya untuk bergerak.

Kini ada 600 kombatan ISIS di kamp pemgungsi Suriah asal Indonesia. PKS setuju untuk dipulangkan. Begitu juga Fadli Zon. Dan beberapa orang yang bersimpati pada para teroris itu.

Sementara jutaan orang lain tidak setuju. Walaupun katanya akan dibina BNPT dulu. Coba saja tanyakan, dari data BNPT sudah berapa banyak teroris yang dibina kemudian berubah insyaf? Saya yakin paling secuil. Sisanya, akan kembali jadi binatang buas yang mengancam hidup kita.

Wong di tahanan Mako Brimob saja, mereka bisa menggorok leher polisi sampai tewas. Lima orang korbannya.

Jika saja Indonesia memulangkan gerombolan itu. Maka hal tersebut akan menjadi yurisprudensi untuk teroris berikutnya. Para pengasong agama yang kini ada di Indonesia, akan keluar masuk untuk bertempur di luar negeri menjadi teroris.

Toh, kalau kalah, akan diterima kembali masuk ke Indonesia. Recovery disini. Untuk kembali bangkit lagi.

Melihat perkembangan terus bermunculannya para radikalis dan teroris, yang bangkotan maupun rekrutan baru di Indoensia, lalu mereka bisa keluar masuk negara dengan enak, pada akhirnya negeri ini akan menjadi sarang teroris.

Artinya nanti setiap mereka bisa seenaknya pergi ke Mindano, perang membunuhi orang Philipina. Lalu pulang kembali ke Indonesia. Atau mereka gabung dengan Boko Haram di Sudan. Membunuhi dan menculik warga disana. Kalau terjepit. Pulang ke Indonesia. Toh, nanti Indonesia menerimanya dengan tangan terbuka.

Bahkan partai seperti PKS dan politisi seperti Fadli Zon, gak masalah dengan mereka.

Di Indonesia, mereka akan terus menularkan ideologinya kepada kader-kader baru. Kader itu dilatih pengalaman perang baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Mirip orang Ighur yang melatih diri jadi teroris, bergabung dengan ISIS, Alqaedah, kelompok Santoso. Tujuannya agar suatu saat nanti bisa melawan pemerintah China. Untuk mendirikan negara Turkistan Timur disana.

Jadi begini. Keputusan menerima atau menolak kombatan ISIS bukan hanya untuk hari ini saja. Tapi juga untuk kasus-kasus sejenis lainnya. Jika sekarang kita menerima, maka gerombolan itu akan leluasa memanfaatkan kebaikan hati kita untuk kapan saja bergabung dengan organisasi teroris dunia. Lalu kalau tersesak, kembali ke Indonesia.

Dan, negeri gemah ripah loh jinawi ini, akan dikenal sebagai sarang teroris dunia. Negeri ini akan punya reputasi penghasil binatang buas yang mengingkari kemanusiaan.

Kalau memang kita berfikir untuk masa depan Indonesia. Kita harus berani dan teegas. Siapapun yang bergabung dengan organisasi teroris dunia. Dan pergi meninggalkan Indonesia. Maka mereka bukan lagi warga negara Indonesia.

Toh, dalam UU kita diyakini, WNI akan kehilangan hak kewarganegaraanya apabila ikut berperang untuk negara lain. Tinggal yakini saja, bahwa berperang bersama organisasi teroris maknanya juga sama.

Biarkan PKS terus membela ISIS agar dipulangka . Mereka memang lahir dari rahim Ikhwanul Muslimin. Dan di Saudi Arabia dan Mesir, Ikhwanul Muslimin dikategorikan sebagai organisasi teroris.

“Kita saja yang terlaku baik hati mau menerima mereka. Sampai dikasih kesempatan menikmati kekuasaan, ya mas,” celetuk Abu Kumkum.

Iya Kum. Saat ini sulit membedakan antara baik hati dan bodoh…

Sumber: FB Eko Kuntadhi

(suaraislam)

Loading...