Islam-Jawa: Kontribusi Keluarga Ranggawarsita

Di Surakarta (Solo) abad ke-21, citra Keraton Surakarta sebagai kota berbudaya adiluhung masih terus diingat, diyakini, dan dipropagandakan. Citra ini diasumsikan khususnya pada eksistensi bahasa Jawa yang ‘halus’, luhur, sastrawi, sebagaimana (konon) disemai dalam serat-serat berbahasa Jawa. Tentu saja juga diandaikan bahwa Keraton Surakarta (juga Yogyakarta) sebagai pusat “kebudayaan tinggi Jawa sesungguhnya”, pemangku “kejawaan esensial” yang asli murni.

Bersama dengan citra yang melangit itu, identitas keislaman disingkirkan. Jawa dan Islam dicitrakan sebagai entitas yang terpisah, saling bertentangan, bahkan berseteru sengit. Paling banter, Islam hanya sebagai “lapisan tipis” luar dari kebudayaan Jawa yang diandaikan sangat berjiwa Hindu-Buddha. Citra ini bukan hanya diyakini masyarakat umum, tapi juga menggelayuti benak sarjana kajian Jawa sejak zaman kolonial Belanda bahkan sampai sekarang.

Buku Nancy K. Florida ini adalah bantahan keras atas persepsi, citra, atau keyakinan di atas. Nancy menelusuri kiprah keluarga Yasadipura/Ranggawarsita sejak abad ke-18 sampai akhir abad ke-19. Sejak pujangga-ulama Yasadipura I (9 September 1729-1803) sampai ke cicitnya yang disebut sebagai pujangga terakhir Keraton Surakarta Ranggawarsita III (1802-1873), Nancy mendapati bahwa keluarga ini adalah “penyumbang utama bangun korpus kesusastraan Sufi Jawa”.

Tentu saja Nancy K. Florida, yang pernah meriset membuat katalog induk semua naskah yang ada di perpustakaan Keraton Surakarta, Museum Radya Pustaka, dan Perpustakaan Hardjonagaran, punya bukti yang jauh menonjok. Kata Nancy K. Florida:

…dari sekitar 1.450 judul naskah yang tersimpan di perpustakaan keraton, hanya terdapat 17 gubahan klasik dari kekawin ke tembang Jawa Modern yang disebut-sebut menandai “renaisans” yang terkemuka itu. Ini hanya mencakup 1 persen koleksi. Berkebalikan dengan 17 karya tersebut, terdapat hampir 500 judul yang merupakan ragam kesusastraan Islam, yakni lebih dari sepertiga dari seluruh koleksinya secara utuh. Pendeknya, untuk setiap karya yang diduga sebagai “karya klasik Hindu-Jawa”, malah hanya terdapat 30 teks yang justru jelas-jelas Islam dalam isinya.

Tapi, semua kontribusi besar korpus kesusastraan Sufi Jawa karya sarjana-ulama-pujangga (khususnya dari keluarga Yasadipura/Ranggawarsita) tampak ‘lenyap’ dari ingatan kolektif orang Jawa, tak terdengar dalam percakapan atau keyakinan publik bahkan bagi sarjana atau elite budaya Jawa, dan masih jarang jadi kajian akademik, termasuk karya-karya itu terputus dari dunia keilmuan pesantren di Jawa.

Nancy K. Florida melihat bahwa masalah itu sangat terkait dengan politik ilmu pengetahuan penguasa kolonial Belanda khususnya sejak berakhirnya Perang Diponegoro (1825-1830 M). Perang yang dipimpin Pangeran Diponegoro yang didukung oleh jaringan tokoh-tokoh Islam pedesaan (atau kyai) menewaskan 200.000 orang Jawa dan 15.000 pihak Belanda (7.000 di antaranya penduduk pribumi ‘Indonesia’).

Perang itu menunjukkan pada pemimpin Belanda, juga rakyat pada penduduk Jawa, betapa besar kekuatan yang bisa dikerahkan elite politik dan rakyat (Jawa) di bawah panji Islam. Begitu juga yang terjadi di Sumatera dalam Perang Padri (1821-1838) atau Perang Aceh (1873 sampai dekade awal abad ke-20).

Maka, setelah Perang Diponegoro dan dimulainya Tanam Paksa yang menyengsarakan rakyat, penguasa kolonial Belanda melancarkan strategi politik pengetahuan. Datanglah para sarjana filolog yang mengkaji literatur Jawa seperti Theodore Pigeaud atau Cohen Stuart. Mereka membangun ulang citra literatur Jawa sebagai sesuatu adiluhung tapi harus dicitrakan berjauhan dengan Islam.

Lalu terbentuklah “Javanologi”. Institusi ini, kata Nancy K. Florida, adalah “sebuah ilmu pengetahuan kolonial yang menyelidiki manusia Jawa beserta kebudayaannya, melayani kepentingan kekuasaan penjajah dengan membingkainya sebagai “Jawa tradisional” melalui penarikan garis batas yang mengelilingi yang dinamainya “tradisi kebudayaan adiluhung asli” itu.

Javanologi akan memaknai kebudayaan tersebut sebagai berseberangan dengan “Islam”, dan sebagai milik (kurang lebih) eksklusif para bangsawan dan kelas priyayi.” Akibatnya, sumbangan besar keluarga Yasadipura/Ranggawarsita dalam korpus kesusastraan Islam-Jawa semakin tenggelam dan terlupakan.

Selain itu, suksesi kepemimpinan elite politik keraton seperti raja dan pangeran dikendalikan. Para elite-bangsawan diberi jabatan birokrat (priyayi) di bawah administrasi kolonial. Keraton yang sudah kalah secara militer dibuat sebagai “cagar kebudayaan yang adiluhung” yang dijauhkan dari anasir Islam politik. Dengan dua strategi tersebut, penguasa kolonial Belanda dapat mencapai dan mempertahankan supremasi ekonomi-politik-militernya –tanpa perlawanan berarti.

Yang lebih parah, pabrikasi mitos “budaya adiluhung” semakin membuat generasi muda (Jawa) gentar untuk sekadar membaca. Terbentur oleh keadiluhungan bahasa Jawa: ‘aura’ yang menyiratkan bahwa karya-karya Yasadipura/Ranggawarsita adalah sesuatu yang mustahil bisa dijangkau oleh umum, rakyat biasa, bahkan para sarjana sekalipun. Seakan bahasa Jawa yang digunakan para pujangga itu adalah murni bahasa Tuhan yang sangat sejati, bukan bahasa manusia yang bisa ditulis di kertas, dan yang bisa penuh dengan ejekan sosial, sarkasme seksualitas, tapi bisa sangat sufistik. Yang luhur dan jorok ada dalam karya-karya keluarga Yasadipura/Ranggawarsita.

Efek politik pengetahuan sarjana kolonial Belanda itu sangat besar pengaruhnya terhadap imajinasi kolektif bangsa Indonesia (bukan hanya bagi orang Jawa saja). Bayang-bayangnya sampai kepada Polemik Kebudayaan pada dekade kedua abad XX. Bahkan sangat terbayang dalam banyak karya sastra Indonesia (termasuk dalam karya Pramoedya Ananta Toer) sejak kemerdekaan sampai saat ini (baik dari kelompok nasionalis-sekuler atau pun kelompok religius dan seterusnya).

Memang harus dikatakan bahwa setelah Ranggawarsita wafat pada 1873, masyarakat Hindia Belanda memasuki suatu yang sungguh sangat berbeda pada abad XX: orientasi politik (dari kerajaan ke negara modern), dari kolonialisme ke kemerdekaan negara-bangsa (juga poskolonialisme), dari pujangga (abdi) raja ke penyair individual bebas tanpa patron politik formal (tentu dengan politiknya yang beda), dari estetika kelisanan manuskrip ke estetika keaksaraan cetak, dari aksara Hanacaraka ke alfabet Latin, dan seterusnya.

Dalam perubahan akbar itu, para pujangga “diadiluhungkan” agar segera tak terjangkau generasi pembaca berikutnya lalu dilupakan. Itulah sebagian besar nasib keluarga pujangga Ranggawarsita sekarang.

M. Fauzi Sukri sedang meneliti sejarah kata “guru” dan paguron di Indonesia (Jawa) dan sejarah “membaca” di Jawa,

Sumber: https://news.detik.com/kolom/d-5207957/islam-jawa-kontribusi-keluarga-ranggawarsita?tag_from=wp_cb_kolom_list

(Suara Islam)

Loading...