Ironi Tren ‘Ngustadz’

Di era media sosial saat ini, kesempatan untuk belajar agama dianggap kian mudah dan praktis. Sayangnya, kita jadi dibanjiri dengan pembicara agama yang baru berkembang, baru belajar beberapa dalil agama sudah langsung bertindak sebagai ustadz pahlawan agama. Sehingga, begitu banyak kontroversi agama kita di media sosial. Mulai dari kejahilan yang memalukan dari para pendakwah palsu seperti Yahya waloni, hingga kebangkitan tragis ulama kontroversial.

Tidak dapat dipungkiri bahwa, sindrom ‘ngustadz’ ini telah menjamur di zaman kita. Ngustadz, nampaknya telah menjadi tahap peralihan bagi setiap orang yang normal, agar menjadi terkenal setelah mulai mengetahui agama atau hijrah. Melimpahnya pendapat dari pengetahuan kecil tanpa landasan sanad ilmu-ilmu suci Islam menandakan krisis Ulama. Inilah zaman kita yang pernah dikhawatirkan Ibn Mas’ud, “akan tiba waktu di mana para ulama sedikit dan banyak pembicara”. Berbicara atas nama Allah sambil mempromosi diri tanpa tahu malu sebagai orang yang memahami Agama, merupakan perbuatan yang amat lancang.

Maraknya orang yang berbicara atas nama agama merupakan ironi kegelapan zaman yang mengkhawatirkan. Sayangnya, ego yang senang berbicara atas nama agama ini, justru menjadi godaan kuat bagi orang-orang yang habis belajar, shalih, dan taat, yang biasanya sangat berkomitmen untuk menjadi ‘Muslim yang menjalankan ajarana agama’. Inilah Muslim menengah yang tidak awam, tetapi belum cukup berilmu sehingga mencapai status alim. Imam Asy-Syaukani dalam al-Badr al-Tali (1:473) menuliskan sebuah wawasan yang didengarnya dari Ali bin Qasim, tentang tiga kategori masyarakat Muslim.

Dari beberapa lapisan masyarakat Muslim itu, kategori tertinggi merupakan kelompok ulama besar yang sangat mengenal kebenaran. Ketika mereka berbeda pendapat, perbedaan mereka tidak menjadi penyebab fitnah, karena pengetahuan mereka tentang hujjah yang dimiliki satu sama lain. Kategori lainnya adalah masyarakat umum yang fitrah, yang tidak menghindar dari kebenaran. Mereka adalah pengikut dari orang yang mereka tiru. Jika orang yang mereka tiru benar, mereka juga demikian. jika mereka salah, maka mereka juga melakukannya.

Sedangkan muslim kategori menengah merupakan kelas Muslim yang keilmuannya baru berkembang, yang sewaktu-waktu dapat ngelunjak dan membuat kekacauan karena ‘kebelumtahuan’ yang tidak disadarinya. Orang-orang yang tidak berpengalaman dalam ilmu, tetapi malah mempromosikan diri sebagai alias orang berilmu itu paling berpotensi menjadi akar penyebab fitnah dalam agama.

Sindrom ‘ngustadz’ memang kerap diderita Muslim kelas menengah yang baru sedikit belajar tapi telah merasa tidak awam lagi. Tanpa kualifikasi atau keahlian di bidang apapun, orang ngustadz mengambil alih tugas ulama atau fuqaha, menimbang dalil-dalil syariah dalam hal-hal kecil yang sangat kompleks dari hukum Islam, berdasarkan satu atau dua dalil teks yang baru dipelajarinya saja. Maka dari itu, Muslim kategori menengah rentan terhadap perilaku menyebalkan seperti “orang alim wannabe”. Lebih jauh, dengan ilmu yang masih sedikit, orang yang ngustadz senang mengkritik sesuatu yang tidak mereka pahami, terjun ke dalam argumentasi yang tidak ada gunanya, dan hanya menimbulkan pertengkaran.

Tentu saja, ciri khas utama mengapa kategori menengah ini menjadi pemacu fitnah agama ialah, kurang menjunjung tinggi prinsip ikhtilafu ummati rahmah. Orang yang ilmunya masih sedikit menganggap perbedaan dalam hal furu’ bukan rahmat, melainkan ancaman! Hal itu didorong oleh ketidaktahuan majemuk (jahl murakkab). Ketika menghadapi pendapat yang berbeda, mereka menembakkan panah tuduhan ke arahnya, dan melemparkan segala macam hinaan. Hal demikian bukanlan sikap dari orang yang berilmu, namun hanya pura-pura berilmu, dampak kekeliruan ini berbahaya dan luas, karena orang sok ngustadz juga memiliki pengikut dari kategori awam yang siap meniru segala tindakannya itu.

Padahal dalam urusan furu’ atau rincian hukum syari’ah, para ulama menjunjung tinggi prinsip ikhtilafu ummati rahmah, Perbedaan di tengah umat kita adalah rahmat. Aturan seperti itu telah menciptakan budaya saling menghormati antara para ulama dan saling menghargai atas dasar perbedaan ilmiah yang sah (ikhtilaf), bahkan ketika seorang ulama memegang teguh kesahihan pandangannya. Inilah budaya intelektual Islam sejati.

Singkatnya, trend ngustadz dari kalangan Muslim menengah yang baru berkembang dan belajar sangat merugikan umat Islam. Kepura-puraan terhadap warisan ilmiah Islam adalah sesuatu yang diperingatkan Nabi SAW jauh-jauh hari, yang berkaitan erat dengan hilangnya ilmu dari muka bumi karena krisis Ulama. Inilah kondsi sosial yang penuh kegelapan, di mana rang-orang merujuk kepada orang-orang bodoh, yang menjawab pertanyaan tanpa ilmu. Nabi SAW bersabda, mereka sesat dan menyesatkan. Itulah Ironi dari trend ‘ngustadz’ Muslim menengah yang marak belakangan ini. Masyarakat umum harus lebih berhati-hati dalam memilih panutan agama, kita harus mengikuti ulama yang memenuhi syarat dalam masalah agama, bukan orang yang sekadar sok ‘ngustadz’.

Selvina Adistia

Sumber: https://www.islamramah.co/2021/09/7104/ironi-tren-ngustadz.html

(Suara Islam)

Loading...