Innalillah! Ponpes di Mojokerto yang Pengasuhnya Cabuli-Perkosa Santriwati Ternyata Ilegal

Pengasuh Ponpes di Mojokerto, AM (52)/Foto: Enggran Eko Budianto

Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Mojokerto, Barozi, mengungkapkan bahwa Ponpes di Mojokerto, yang pengasuhnya menjadi tersangka kasus pencabulan dan pemerkosaan adalah ponpes ilegal dan tidak layak dijadikan pesantren.

“Lembaga ini memang relatif tidak dikenal, secara kelembagaan pondok tahfiz ini belum terdaftar di Kementerian Agama. Sehingga lepas dari monitoring kami. Ada kejadian seperti ini benar-benar mengagetkan kami semua dan memprihatinkan bagi kalangan pesantren di Mojokerto khususnya. Mudah-mudahan tidak terulang lagi di tempat-tempat lain hal seperti ini,” kata Barozi kepada wartawan di kantornya, Jalan RA Basuni, Kecamatan Sooko, Kamis (21/10/2021).

Ia menjelaskan, setiap ponpes harus mempunyai izin operasional dari Kementerian Agama. Untuk mengantongi izin tersebut, ponpes wajib mempunyai badan hukum, sarana dan prasarana berupa gedung, asrama santri, ruang kelas untuk kegiatan belajar mengajar, mempunyai santri, serta pengasuh.

“Nah, lembaga Ponpes ini termasuk tidak memenuhi kriteria itu. Karena tempatnya saja tidak representatif berupa hunian rumah biasa,” terang Barozi.

Ponpes yang berdiri sejak 2010 itu, saat ini mempunyai sekitar 100 santri. Para santri ditempatkan di dua lokasi berbeda yang merupakan rumah keluarga AM. Yakni rumah di Desa Sampangagung, Kecamatan Kutorejo dan rumah di Desa Simbaringin, Kecamatan Kutorejo.

Ponpes yang berdiri sejak 2010 itu, saat ini mempunyai sekitar 100 santri. Para santri ditempatkan di dua lokasi berbeda yang merupakan rumah keluarga AM. Yakni rumah di Desa Sampangagung, Kecamatan Kutorejo dan rumah di Desa Simbaringin, Kecamatan Kutorejo.

Menurut Barozi, selama ini pengasuh Ponpes itu belum pernah mengajukan izin operasional. “Sama sekali belum. Memang awalnya berupa taman pendidikan Al-Qur’an (TPQ), mungkin dalam perjalanannya berkembang menjadi semacam pondok tahfiz,” jelasnya.

Mencuatnya kasus pencabulan dan pemerkosaan santriwati yang dilakukan pengasuh Ponpes, menurut Barozi, otomatis membuat pesantren tersebut ditinggalkan para santri. Ponpes yang dipimpin AM itu ditutup sejak Jumat (15/10) oleh masyarakat dan tiga pilar desa setempat.

Ia menegaskan, Ponpes itu tidak lagi mempunyai kesempatan untuk mengurus izin operasional, meski kasus yang menjerat pengasuhnya sudah tuntas. Karena perbuatan AM dinilai telah menodai dunia pesantren di Kabupaten Mojokerto.

(Suara Islam)

Loading...