Innalillah! Felix Siauw Salah Fatal Kutip Al-Qur’an, Gus Ishom Beri Jawaban Menohok

Pengasong khilafah Felix Siauw salah fatal mengutip al-Quran surat al-Jumu’ah. Bahkan, Felix Siauw mengurangi dan mengubah redaksi ayat al-qur’an tersebut.

Dalam sebuah video yang beredar, Felix bermaksud menafsirkan kata “hikmat” pada sila keempat Pancasila dengan mengutip Qs. al-Jumu’ah ayat 1 di hadapan beberapa orang berseragam putih-putih. Entah apa motivasi Felix Siauw mengutip ayat al-Qur’an tersebut apakah sebagai tokoh ex-HTI, dia ingin tidak lagi dituduh sebagai orang yang anti Pancasila.

“Oke coba lihat! Arti kata “hikmat”. Ada yang hapal surat al-Jumu’ah ayat pertama?” tanya Felix dalam video tersebut

Felix langsung menjawab sendiri pertanyaannya itu dengan membaca potongan ayat itu, “Sabbaha lillahi ma fissamawati wal-ardl?”, kemudian, seseorang bermaksud menyempurnakan potongan ayat itu, “wa in tubdu ma…” namun Felix menyetopnya.

“Bukan!” ujarnya,

Felix melanjutkan bacaannya ‘al-malikulquddus ‘azizul-hakim. Ada kata-kata “hakim”.

“Hakim artinya adalah orang yang memiliki hikmah”, kata Felix

Video viral ustad pengasong HTI tersebut mendapat koreksi dari KH Ahmad Ishomuddin atau Gus Ishom. Gus Ishom meminta Felix Siauw untuk belajar membaca dan mengaji al-Quran kepada ahlinya.

Baca: Untuk Felix Siauw: Belajar Ngaji Dulu yang Benar sebelum Jadi Ustadz

Menurut Gus Ishom, Felix sangat jelas melakukan banyak kekeliruan meskipun hanya membaca satu ayat al-Qur’an saja, yaitu Qs. al-Jumu’ah ayat 1 itu.

“Kesalahan itu menurut ilmu tajwid bukan terkategori sebagai kesalahan yang ringan (al-khatha’ al-khafiy), melainkan kesalahan yang fatal (al-khatha’ al-jaliy). Saya tidak terkejut melihat Felix keliru fatal membaca ayat, apalagi bila ia nekad menafsirkannya, jelas berdasarkan hawa nafsu, bukan dilandasi ilmu. Kekeliruannya itu wajar karena bekal ilmu agamanya yang amat terbatas dan belum memadai”, tulis Gus Ishom di akun FBnya

Gus Ishom menambahkan bahwa dirinya tidak mengetahui sanad keilmuan Felix Siauw, namun sejauh pengamatan Gus Ishom yang telah lama berkecimpung di dunia pesantren, dia menduga bahwa Felix Siauw belajar secara otodidak dan membaca buku-buku terjemahan. Hal ini bisa dilihat bagaimana dia membuat banyak kesalahan fatal hanya dalam satu ayat saja.

“Dari sisi ilmu al-Tajwid jelas juga bahwa Felix melakukan kesalahan fatal (al-khatha’ al-jaliy) yang secara mutlak hukumnya haram, pelakunya berdosa, dan membatalkan shalatnya (saat dibaca dalam shalat) bila merubah maknanya, seperti saat Felix mengganti kata awal surat al-Jumu’ah, yakni kata “yusabbihu ( يسبح )” yang berbentuk fi’il al-mudlari’ (bentuk kata kerja yang menunjukkan makna sekarang dan yang akan datang) dengan kata “sabbaha (سبح)” yang berbentuk fi’il al-madliy (kata kerja lampau)”, tambah Gus Ishom

Kiai Muda NU tersebut menambahkan bahwa kesalahan fatal lainnya adalah Felix telah mengurangi dua kata dalam satu redaksi ayat di atas, yaitu satu kata benda “ma (ما)” dan satu huruf jarr/ preposition (في)” dalam kalimat yang lengkapnya adalah “wa ma fil-ardli (وما في الأرض), sehingga menjadi “wal-ardli (والأرض)”.

Lebih lanjut, Gus Ishom mengatakan bahwa haram hukumnya mengurangi, menambah atau mengubah satu huruf dalam al-Quran, dan kesalahan Felix Siauw juga karena dia tidak memahami tata bahasa Arab.

“Kekeliruan Felix yang lainnya terkait bacaannya atas Qs. al-Jumu’ah ayat 1 sepertinya karena ia sama sekali tidak memahami tata Bahasa Arab, terutama ilmu dasar yaitu Ilmu Nahwu/sintaksis dan Ilmu Sharf/morfologi”, ujarnya

Felix juga dinilai tidak paham Ilmu al-Sharf, sehingga ia tidak mampu membedakan mana ayat al-Qur’an yang diawali dengan kata kerja bentuk lampau (fi’il al-madli) “sabbaha (سبح)” dan mana ayat yang diawali dengan kata kerja bentuk sekarang atau yang akan datang (fi’il al-mudlari’) “yusabbihu (يسبح)”.

Gus Ishom juga menegaskan Felix dengan sangat jelas keliru membaca kata ” ‘azizul-hakim ( عزيز الحكيم )” yang ia membaca ‘azizu ( عزيز ) tanpa “al ( ال )” dengan bacaan i’rab rafa’ bertandakan dhammah (u) pada huruf akhirnya, padahal yang benar seharusnya dibaca ” al-‘azizi ” karena posisi kata ini adalah sebagai kata sifat atau sebagai badal dari kalimat lillahi (لله) yang terdiri dari huruf jarr (ل) dan lafdz al-jalalah ( الله ) yang dibaca majrur dengan tanda kasrah pada huruf akhirnya.

Menurut Gus Ishom, keduanya berkaitan erat dengan kata kerja yang disebut sebelumnya, huruf jar dan isim majrur ini dalam mahal nashab sebagai maf’ulun bihi. Secara lafal lafdz al-jalalah (الله) berposisi majrur, sedangkan mahal-nya adalah nashab. Adapun kalimat “al-malikil-quddusil-‘azizil-hakimi ( الملك القدوس العزيز الحكيم )” adalah nama-nama yang keseluruhannya adalah badal dari lafdz al-jalalah atau nu’utun lahu (sifat-sifat bagi-Nya)”.

Gus Ishom menasihati Felix Siauw agar menyadari kesalahannya dan mau belajar kembali kepada ahli agama agar bisa kembali ke jalan yang benar.

(suaraislam)

Loading...