Imlek dan Gus Dur

Ketika (Alm) Gus Dur menjadi Presiden langkah pertama yang berani diambil adalah mencabut Inpres (Intruksi Presiden) tahun 1967 yang telah puluhan tahun sangat diskriminatif pada WNI keturunan Tionghoa. Perayaan Imlek, Cap Go Meh dan perayaan lainnya pada sebelumnya dilarang, bahkan warga Tionghoa dipaksa harus membohongi jati dirinya dengan diwajibkan memilih lima agama yang diakui negara untuk diisi pada kolom Kartu Tanda Penduduk.

Setelah beliau mencabut Inpres. Lalu diterbitkanlah Keppres (Keputusan Presiden)Nomor 6 Tahun 2000 yang salah satu isinya adalah: “Dengan ini penyelenggaraan kegiatan keagamaan, kepercayaan, dan adat istiadat Cina dilaksanakan TANPA memerlukan izin khusus sebagaimana berlangsung selama ini”. Artinya perayaan-perayaan tersebut telah diizinkan/dibebaskan.

Gus Dur sangat menyadari bahwa Keppres yang beliau terbitkan akan mengundang kontroversi dan penolakan, tetapi beliau berani memasang badan dari berbagai macam hujatan, tudingan, cacian, kutukan bahkan ancaman dari kelompok intoleran. Karena dalam ‘kamus’ Gus Dur tidak ada dikotomi pribumi dan non pribumi. Bagi beliau apapun etnis dan sukunya selama mereka Warga Negara Indonesia maka harus memiliki hak yang sama.

Bila dalam lingkup yang lebih luas Sayyidina Ali RA berprinsip: “Mereka yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan”. Maka dalam lingkup bernegara yang lebih kecil; “Mereka yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam berkebangsaan”.

Bravo BHINNEKA TUNGGAL IKA.

Gong Xi Fa Cai (av)

(Salam Damai)

Sumber: FB Ali Valentino

(Suara Islam)

Loading...