Ilusi Radikalisme

Kecenderungan beragama di Indonesia pasca reformasi menuju kepada fanatisme dan ekstremisme yang berawal dari ilusi kesalehan melahirkan kecemasan yang berujung pada tindak kekerasan. Indikasinya terlihat dari hasil yang dilakukan oleh Wahid Foundation mengenai isu intoleransi dan radikalisme.

49% masyarakat Muslim Indonesia yang rentan dengan sikap intoleransi–terutama di kalangan generasi milenial. 60% responden dari anggota ekstra kurikuler Rohani Islam (Rohis) bersedia menjalankan misi jihad ke negara-negara yang dilanda konflik agama.

Disebabkan oleh faktor pendidikan, guru dan komunitas keagamaan yang sudah terpapar paham-paham radikal. Ditambah media massa, media online dan media sosial yang menyediakan narasi-narasi radikal, kekerasan dan hasutan membentuk pemahaman tentang keterkaitan kesalihan dengan kekerasan. Baik kekerasan verbal, simbolik maupun fisik.

Fanatisme dan ekstremisme beragama berdampak negatif terhadap keamanan, ketertiban dan kenyaman kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Semua ini imbas dari “Benturan Peradaban” dan “Benturan Ideologi” antara Barat dan Islam. Dalam benturan ini, kelompok Islam garis keras seolah-olah mewakili umat Islam secara keseluruhan karena mereka yang ideologis, militan dan vokal menyuarakan kepentingan umat Islam di hadapan Barat. Mereka berani menantang Barat dengan jihad (perang). Sehingga mereka menjadi idola generasi muda yang sedang mencari sosok pahlawan Islam.

Radikalisme agama bisa jadi sebagai fitur arus utama pada perilaku keagamaan termasuk tindakan keagamaan yang mengarah ke langkah-langkah ekstremisme kekerasan atau terorisme.

Fenomena radikalisme merupakan wacana yang sangat penting sebagai kritik terhadap konsep deradikalisasi yang terkait dengan ekstremisme kekerasan dan terorisme. Sudah ada keterkaitan antara agama dan politik global serta situasi yang menyalahgunakan bahasa. Seperti yang dikatakan Huntington ada yang serius bentrokan antara “timur” dan “barat” setelah serangan 9/11.

Melalui media massa, media online dan media sosial membagi masyarakat menjadi ideologi yang berbeda telah dibentuk oleh bahasa, simbol, dan kategori kelas. Membuat masyarakat hidup dalam hiper realitas yang mengendap di alam bawah sadar.

Hiper realitas dalam konteks ini dapat dipahami sebagai teori Baudrillard yang mengatakan bahwa ada ketidaksadaran manusia untuk membedakan antara realitas dan fantasi di mana imajinasi, fakta, keaslian, kepalsuan, atau kebohongan sulit diukur.

Hiper realitas dan kondisi bawah sadar mungkin telah mendorong prasangka, dan ini mungkin berhasil tentang isu radikalisme khususnya dalam pengalaman menghadapi Indonesia masalah organisasi teroris yang terkait dengan kelompok Islam. Stigma negatif radikalisme agama berubah menjadi stereotip yang mempengaruhi prasangka bahkan kekerasan.

Bahwa fanatisme, ekstremisme dan radikalisme agama adalah mitos yang harus ditinggalkan. Bahasa memainkan peran penting karena bahasa menjadi media sosialisasi dan budaya dalam melakukan deradikalisasi teks, makna dan narasi.

Kemudian disalurkan secara sistematis dan sistemis melalui lembaga-lembaga pendidikan. Fenomena fanatisme dan ekstremisme pada generasi muda harus diatasi dengan memperbaiki sistem pendidikan agar moderasi beragama menjadi strategi pendidikan, materi pelajaran dan arus utama di lembaga-lembaga pendidikan.

Ayik Heriansyah

Sumber : https://www.facebook.com/100047208737142/posts/281791850071104/

(Suara Islam)

Loading...