HTI Menyemai, Teroris Memanen

Terorisme lahir dari rahim Radikalisme

Kenapa orang sampai menjadi teroris? Faktor pemaknaan pada agama yang membawa mereka sampai pada pemahaman yang radikal, radikalisme yang mencapai titik kulminasi akan melahirkan tindakan, tindakan-tindakan inilah yang dinamakan terorisme, meneror, membunuh, menakut-nakuti.

Apakah agama menjadikan mereka teroris? Bukan, agama manapun tak ada yang membenarkan membunuh sesama manusia, namun pada pemaknaan agama yang salah, bisa melahrikan orang-orang yang salah dalam beragama pula.

Keyakinan awal bahwa yang tak sama dengannya adalah musuh, bukan musuh dia, namun musuh Tuhan yang harus dibinasakan, keyakinan bahwa hukum Tuhan jika tak dijalankan maka selamanya, tak akan tercapai keadilan dan kemakmuran bersama, maka penguasa harus dilawan, rebut dan jalankan hukum tuhan, begitu keyakinannya.

Terorisme lahir dari radikalisme, radikal dalam pemikiran, politik kenegaraan dan radikal dalam keyakinan, radikalisme datang dari sikap intoleransi, eklusifitas beragama dan tekstualisme hukum yuridis Islam yang mereka telan mentah-mentah.

Di Indonesia, jaringan teroris sebenarnya telah terpetakan dengan rinci oleh Kepolisian, ada Densus 88 Polri yang menanganinya, para jaringan teroris terus melakukan kaderisasi, mereka tidak diam, ada Jamaah Ansorut Tauhid, ada Jamaah Ansorut Daulah, dan Jamaah Ansoru Khilafah, bentukan Bahrun Naim yang kadang menjadi Ione Wolf, bergerak sendiri.

Namun yang tak kalah berbahayanya adalah saat ini, HTI Dkk di Indonesia masih bisa dengan nyaman untuk selalu menabur benih Intoleransi, menabur benih propaganda kebencian pada pemerintah, menabur benih tentang harapan surgawi jika Islam berjaya, menjadi hukum negara, maka semua solusi hidup terselesaikan.

Mereka ini yang berbahaya, melahrikan terorisme yang ngebom gitu tidak, namun pada tataran pemaknaan terhadap Islam, ini sangat berbaya, akan melahirkan muslim-muslim tekstualis yang tak paham agama, namun sudah punya semangat bahwa tegaknya hukum Allah adalah sebuah keharusan.

Tergesek sedikit dengan teroris, ikut mereka, jika saat ini kelompok-kelompok terorisme dapat dengan mudah mendapatkan kader baru, karena Indonesia subur dengan Islam eklusif, tinggal panen mereka.

Jika kemudian ramai dengan statemen Menag bahwa ada pelarangan untuk ASN cadaran dan pakai celana cingkrang, ini beralasan, identitas eklusifisme Islam memang begitu, bukan tampa alasan Menag begitu, bukan pula lantas Cingkrang dan cadar adalah simbol radikalisme bukan, namun ekslusifme beragama melahirkan identitas baru, tidak ada cingkrang dan cadar gara-gara hobi begitu Ndak ada. Sirotul Mar`i Tumbi`u `An Sarirotihi, perangai manusia terlihat dari baju yang dia pakai. Orag NU, ngaji pada kiai NU yang toleran, moderat, tasamuh, tiba-tiba cingkrangan, dan tiba-tiba berteriak Khilafah adalah solusi Ummat, gitu ya Ndak ada.

Selamat mengemban tugas berat Pak Menag, Radikalisme babat habis, penuh resiko dan tantangan, jika kabinet Jokowi bersatu padu membasmi ini, maka ada optisme baru untuk kita semua, Indonesia tidak akan seperti Syuriah.

Afif Fuad S

(afiffuads.com/suaraislam)