HTI dan Cita-cita Penegakan Sistem Khilafah

Ilustrasi: Massa Hizbut Tahrir di Eropa (Foto: hizb-australia.org)

Hizbut Tahrir yang secara harfiyah berarti “Partai Pembebasan” merupakan organisasi yang dibentuk karena kekecewaan terhadap jatuhnya sistem kekhalifahan pada masa imperium Turki Ottoman. Sang pendiri yakni Taqiyuddin An-Nabhani menghabiskan masa kecilnya dalam suasana harum kekhalifahan, dimana umat muslim berporos pada satu pemimpin yang disebut khalifah. Bahkan kakeknya, Syekh Yusuf an-Nabhani adalah seorang ulama terkemuka di era kekhalifahan Turki Utsmani tersebut.

Siapa Taqiyuddin An-Nabhani ??

Setelah kekhalifahan Turki Ustmani runtuh, An-Nabhani muda menyaksikan dan merasa terpukul akan tergantinya sistem khilafah dengan sistem baru. Menurutnya ini adalah kemunduran besar. Karena konsep politik islami tersebut sudah diterapkan dalam sejarah kekuasaan Islam sejak era Rosulullah, Khulafaur Rosyidin sampai kejatuhan imperium Utsmani (Abad ke-18 Masehi).

An-Nabhani lahir pada 1909 di daerah Ijzim Palestina, di keluarga yang terpandang dan memiliki wawasan keilmuan. Ayahnya adalah seorang pengajar ilmu-ilmu syariah di Kementerian Pendidikan Palestina. Ibunya juga mewariskan pengetahuan keilmuan dari kakeknya Syekh Yusuf al-Nabhani.

Dengan didikan ketat keluarga, An-Nabhani yang belum menginjak baligh yakni umur 13 tahun sudah mampu menghafal 30 juz Al-Qur’an. Setelah menginjak masa remaja, ia harus menyaksikan jatuhnya sistem kekhalifahan Turki Ustmani. An-Nabhani muda merasa terpukul akan tergantinya sistem khilafah dengan sistem baru. Menurutnya ini suatu kemunduran besar, karena sejak era Rosulullah, Khulafaur Rosyidin sampai saat itu yakni imperium Utsmani (Abad ke-18 Masehi), konsep politik islami tersebut sudah diterapkan dalam sejarah kekuasaan Islam.

Lalu, Taqiyuddin memutuskan hijrah ke Kairo untuk meneruskan pendidikannya. Ia kemudian menyelesaikan jenjang Tsanawiyah sampai menamatkan kuliahnya di Al-Azhar kairo.

Awal Mula Kemunculan Hizbut Tahrir

Dengan predikat salah satu sarjana terbaik Al-Azhar, An-Nabhani kemudian kembali ke Palestina dan bekerja di Kementerian Pendidikan Palestina. Ia juga aktif menyampaikan ceramah-ceramahnya kepada para pelajar. Hal tersebut terus dilakukan hingga tahun 1953.

Setelahnya, An-Nabhani mulai aktif dalam dunia politik. Jatuhnya sistem kekhalifahan islam menjadi salah satu faktor yang mendorong pola gerakan politik An-Nabhani. Atas dasar tersebut, ia mendirikan partai politik yang bertujuan untuk menegakkan kembali sistem khilafah, yang kemudian dikenal dengan nama Hizbut Tahrir (Partai Pembebasan), yang secara resmi dideklarasikan pada tahun 1953 di Al-Quds (Yerusalem).

Menurut beberapa sumber, An-Nabhani sebelumnya aktif di Ikhwanul Muslimin. Didirikannya Hizbut Tahrir dimaksudkannya sebagai partai politik independen yang ditujukan untuk mewadahi tujuan politiknya. Tujuan atau misi dari HT adalah tegaknya sistem khilafah di muka bumi, dimana visi politiknya adalah menyatukan identitas-identitas Islam nasional dan lokal yang berserak di seluruh dunia di bawah otoritas tunggal Khilafah Islamiyah.

Dalam model pemerintahan ala HT, seluruh umat muslim di dunia harus ternaung dibawah kendali khalifah. Ideologi HT yang dicetuskan oleh pendirinya menganggap model sistem pemerintahan sekarang tidak berasaskan Islam dan oleh karenanya menganut sistem kufur. Khilafah adalah satu-satunya sistem yang diterapkan oleh nabi dan para sahabat dan yang bisa menyelamatkan eksistensi Islam pada masa sekarang.

Hizbut Tahrir Indonesia (HTI)

Hizbut Tahrir yang berawal di Yerussalem, kemudian disebarkan oleh para pengikutnya ke berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia. Masuknya Hizbut Tahrir di Indonesia dibawa oleh Mubaligh sekaligus aktivis Hizbut Tahrir Australia yang berasal dari Yordania, Abdurrahman Al-Baghdadi.

Melansir journals.ums.ac.id/, dalam sebuah jurnal berjudul Model Dakwah Hizbut Tahrir Indonesia karya Sudarno Sobhron menjelaskan, Bogor menjadi tujuan pertama Abdurrahman untuk menaburkan paham Hizbut Tahrir di Indonesia.

Abdurrahman datang ke Bogor untuk mengajar di Pondok Pesantren Al-Ghazali, kemudian Masjid Al-Ghifari Institut Pertanian Bogor dijadikan sebagai tempat penyemaian ide-ide Hizbut Tahrir kepada mahasiswa, sebagaimana ditulis Sobhron dalam jurnalnya.

Kemudian Sobhron juga menjelaskan, setelah mahasiswa memahami ide-ide dan tujuan Hizbut Tahrir, mereka ditugaskan untuk menyebarkannya ke kampus lain. Gerakan HTI awalnya memang menarget para mahasiswa, setelah paham khilafah sudah tersebar di beberapa kampus. Pada tahun 1986 beberapa Lembaga Dakwah Kampus membentuk Forum Silaturahmi.

“Muhammad Ismail Yusanto, aktivis Jamaah Shalahuddin Universitas Gadjah Mada menjadi salah satu pendiri ini, dan forum tersebut menjadi cikal bakal perkembangan HTI”, tulis Sudarno seperti dikutip dari jurnalnya.

Sejak saat itu aktivis HTI secara massif melakukan penyebaran, HTI melakukan gerakan politik tertutup, mereka belum banyak menghimpun anggota. Sampai pada 12 Agustus 2007 mereka menghelat Konferensi Khilafah Internasional (KKI) di Gelora Bung Karno. Saat itu ratusan ribu perserta menghadiri KKI yang mengusung tema “Saatnya Khilafah Memimpin Dunia”.

Polemik Penolakan Hizbut Tahrir

Sejak awal penyebaran HT ke berbagai negara, ideologinya kerap bertentangan dengan kebijakan negara tersebut. Negara-negara yang rata-rata mempunyai dasar ideologi negaranya sendiri, merasa terancam dengan ideologi yang diusung HT.

Bertolak belakangnya ideologi HT dengan negara yang dimasukinya berimbas pada pelarangan organisasi tersebut. Di Indonesia sendiri keberadaan HTI dianggap ancaman karena akan mengubah ideologi Pancasila.

Sampai saat ini kurang lebih 21 negara sudah secara resmi melarang HT untuk masuk dan berkembang, berikut ini daftarnya :

1. Mesir
Dibubarkan: 1974
Alasan: Terlibat upaya kudeta

2. Suriah
Dibubarkan: 1998
Alasan: Dilarang melalui jalur ekstra yudisial

3. Turki
Dibubarkan: 2004
Alasan: Organisasi teroris

4. Rusia
Dibubarkan: 2003
Alasan: Organisasi teroris

5. Jerman
Dibubarkan: 2003
Alasan: Penyebar propraganda kekerasan dan anti semit Yahudi

6. Malaysia
Dibubarkan: 2015
Alasan: Dianggap kelompok menyimpang

7. Yordania
Dibubarkan: 1953
Alasan: Mengancam kedaulatan negara

8. Arab Saudi
Dibubarkan: Era Abdulaziz
Alasan: Ancaman negara

9. Libya
Dibubarkan: Era Moamar Khadafi
Alasan: Organisasi yang menimbulkan keresahan

10. Pakistan
Dibubarkan: 2016
Alasan: Dianggap ancaman negara

11. Uzbekistan
Dibubarkan: 1999
Alasan: Menjadi dalang pengeboman di Tashkent

12. Kirgistan
Dibubarkan: 2004
Alasan: Kelompok ekstrem

13. Tajikistan
Dibubarkan: 2005
Alasan: Terlibat aktivitas terorisme

14. Kazakhstan
Dibubarkan: 2005
Alasan: Terlibat terorisme

15. China
Dibubarkan: 2006
Alasan: Melakukan kegiatan teror

16. Bangladesh
Dibubarkan: 2009
Alasan: Terlibat aktivitas militan dan mengancam kedamaian

17. Perancis
Dibubarkan: –
Alasan: Organisasi ilegal

18. Spanyol
Dibubarkan: 2008
Alasan: Organisasi ilegal

19. Tajikistan
Dibubarkan: 2001
Alasan: Sejumlah anggotanya dipenjara

20. Tunisia
Dibubarkan: –
Alasan: Merusak ketertiban umum

21. Indonesia
Dibubarkan: 2017
Alasan: Bertentangan dengan Pancasila dan konstitusi, mengancam ketertiban masyarakat, dan membahayakan keutuhan negara

Didi Akhmadi

Sumber: https://carubannusantara.or.id/hti-dan-cita-cita-penegakan-sistem-khilafah/

(suaraislam)

Loading...