Hagia Sophia dan Keteladanan Sahabat Rasulullah

Situs Hagia Sophia diubah lagi jadi masjid oleh presiden Turki. Pengesampingan keteladanan sahabat Rasulullah SAW dan Salahuddin al-Ayyub.

SERUAN adzan berkumandang dari menara Hagia Sophia di Istanbul, Turki, untuk pertamakali dalam 86 tahun pada Jumat siang, 24 Juli 2020. Bangunan megah dan bersejarah berusia 1483 tahun di tepi Selat Bosphorus itu resmi kembali jadi masjid usai ditetapkan Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan 14 hari sebelumnya.

Hagia Sophia dibangun tahun 537 sebagai katedral umat Kristen Ortodoks Yunani kala Istanbul masih bernama Konstantinopel, ibukota Kekaisaran Byzantium (Romawi Timur). Pada 1204, ia beralih fungsi menjadi katedral Katolik Romawi di rezim Kaisar Baldwin I.

Seiring jatuhnya Konstantinopel ke tangan Kesultanan Utsmaniyah (Ottoman) pada 29 Mei 1453 dan adanya kebutuhan Sultan Mehmed II untuk melaksanakan shalat Jumat di hari itu, katedral itu diubah fungsinya menjadi masjid. Hampir semua simbol Nasrani berupa relic, atribut, dan ornamen ditanggalkan dan diganti simbol-simbol keislaman, kecuali mozaik di langit-langit kubah yang dijadikan mihrab oleh Mehmed II.

“Kebanyakan mural-mural dan mozaik-mozaik di gereja-gereja ditutupi lapisan cat putih. Akan tetapi untuk alasan tertentu, Sultan memberi perintah bahwa mozaik Bunda Maria di langit-langit kubah diberi pengecualian. Sampai ratusan tahun kemudian mozaik itu sekadar ditutupi tirai,” tulis Franz Babinger dalam Mehmed the Conqueror and His Time, sebagaimana saat ini ketika Hagia Sophia kembali dijadikan masjid, mozaik-mozaik itu kembali ditutupi tirai, khususnya di waktu-waktu shalat.

Menurut Babinger, mozaik bergambar Bunda Maria tengah memangku Yesus Kristus dari abad kesembilan itu dibiarkan seperti sediakala oleh Mehmed sebagai salah satu “nilai tawar” agar Gennadius Scholarius yang sempat ditahan, berkenan menjadi patriark dan pemimpin umat minoritas Ortodoks Yunani.

Keputusan politis itu diambil lantaran Mehmet II menganggap dari sekian pemuka Ortodoks yang ada di Konstantinopel, Gennadius dikenal sebagai salah satu penentang Nasrani dari Barat. Dengan menjadikan Gennadius sebagai patriark, Mehmet II bisa sedikit lebih tenang dan mencegah munculnya pergerakan bawah tanah orang-orang Nasrani yang bersatu antara Ortodoks dan Katolik Roma.

Begitu Kesultanan Utsmaniyah runtuh pada 1935, masjid itu ditutup kemudian dijadikan museum oleh Presiden pertama Turki Mustafa Kemal Atatürk. Pengalihfungsian bangunan itu menjadi masjid kembali disayangkan sejumlah pihak. Beberapa bahkan mengecam penetapan Erdoğan itu yang isunya sudah berdengung sejak Juni.

“Apa yang bisa saya katakan sebagai agamawan dan Patriark (Ortodoks) Yunani di Istanbul? Alih-alih menyatukan, sebuah warisan dunia berusia 1.500 tahun itu justru memecah-belah kita. Saya terguncang dan bersedih,” ucap Uskup Agung Ortodoks Yunani Bartholomew I, dikutip The Washington Post, 24 Juni 2020.

Senada, dalam peringatan Hari Laut Internasional, Paus Fransiskus juga kecewa atas keputusan para pengambil kebijakan Turki terkait Hagia Sophia. “Lautan membawa pikiran saya lebih jauh, ke Istanbul. Saya memikirkan Santa (Hagia) Sofia…saya sangat terluka,” cetus Paus, dilansir Crux Now, 12 Juli 2020.

Keputusan Erdoğan menetapkan Hagia Sophia menjadi masjid sangat politis. Ia mengesampingkan keteladanan salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW, Umar bin al-Khattab, yang menjadi khalifah kedua pasca-wafatnya nabi.

Khalifah Umar Menolak Salat di Gereja

Jurnalis dan pemerhati politik Islam Mustafa Akyol dalam kolomnya di The New York Times, 20 Juli 2020 bertajuk “Would the Prophet Muhammad Convert Hagia Sophia?”, menguraikan, keputusan Erdoğan bisa membuka bab baru dari cerita lama Islam versus Nasrani. Padahal di masa lalu, orang-orang pemeluk monoteisme seperti Nasrani dan Yahudi selalu dianggap sekutu dan sahabat oleh nabi.

“Jadi ketika Nabi Muhammad dan para pengikutnya yang masih sekelompok kecil dipersekusi di Makkah oleh para penyembah berhala, beberapa dari mereka mendapat suaka di kerajaan Nasrani di Ethiopia. Ketika Rasulullah memerintah di Madinah, Beliau menyambut para pemeluk Nasrani dari Kota Najran untuk beribadah di masjidnya,” ungkap Akyol.

“Beliau juga membuat perjanjian dengan mereka yang isinya: ‘Tidak boleh ada pelarangan terkait peribadahan mereka. Tidak akan ada uskup yang dicabut dari keuskupannya, tidak ada biarawan yang diusir dari biaranya, maupun pendeta dari parokinya’,” lanjutnya.

Teladan Rasulullah menghargai agama lain kembali dicontohkan Umar bin Khattab. Khalifah kedua setelah Abu Bakar “Al-Siddiq” itu memerintah dalam kurun 10 tahun (634-644 M).

Menurut Profesor Daniel J. Sahas, peneliti sejarah Islam dari Universitas Waterloo, Ontario, dalam “The Face to Face Encounter between Patriarch Sophronius of Jerusalem and the Caliph Umar Ibn al-Khattab: Friends or Foes?” yang dimuat dalam The Encounter of Eastern Christianity with Early Islam, Khalifah Umar datang ke Yerusalem seorang diri atas permintaan Patriark Sophronius. Itu terjadi setelah ia menolak menyetujui kapitulasi yang ditawarkan Abu Ubaidah bin Jarrah, panglima pasukan Muslim yang sebelumnya mengepung Yerusalem.

Sang patriark memberi syarat bahwa ia bersedia menyerahkan Yerusalem jika Khalifah Umar sendiri yang datang dan menerima penyerahan tanpa syarat itu. Permintaan Sophronius, disebutkan Sahas, bukan tanpa alasan. Permintaan itu sebagai simbol ketidaksenangannya terhadap Abu Ubaidah yang sempat mengancam akan menghancurkan setiap rumah ibadah jika Yerusalem harus direbut secara paksa.

“Alasan lainnya adalah Sophronius ingin melihat sendiri kualitas seorang Umar yang berjuluk Amirul Mukminin. Lainnya adalah Sophronius ingin penyerahan Yerusalem dilakukan dengan proses seremonial resmi, mengingat pentingnya kesucian Yerusalem. Umar yang menerima kabar permintaan itu ketika berada di Suriah, menyanggupi dan datang dengan menunggang unta,” tulis Sahas.

Khalifah Umar kemudian berkemah di Bukit Zaitun (3,5 km timur dari kota tua Yerusalem) dan di situlah kapitulasi Yerusalem ditandatangani pada Februari 638. Menurut catatan Patriark Euthychius yang dituliskan pada tahun 876 dan dikutip Sahas, Patriark Sophronius turut mengantar Umar ke gerbang Yerusalem dan mengiringi sang Amirul Mukminin kala berkeliling ke sejumlah tempat suci di kota tua Yerusalem.

“Setelah melewati gerbang, Umar mendatangi dan duduk di serambi Gereja Makam Kudus. Kala menjelang waktu shalat (Dzuhur), Umar berkata: ‘Aku ingin shalat.’ Dan dia (Sophronius) menjawab: ‘Ya Amirul Mukminin, shalatlah di sini!’ Dan Umar berkata: ‘Aku tidak ingin shalat di sini.’ Patriark lalu mengantarnya ke dalam gereja itu dan menggelar tikar di lantai gereja. Tetapi Umar berkata: ‘Aku juga tak ingin shalat di sini’,” kutip Sahas.

“Lalu Beliau (Umar) keluar menuju gerbang timur gereja dan Beliau mendirikan shalat sendirian di atas rerumputan. Selepasnya, ia duduk bersama Patriark Sophronius. ‘Patriark, apa engkau tahu kenapa aku tak shalat di dalam gereja?’ Dia menjawab: ‘Aku tidak tahu, wahai Amirul Mukminin.’ Umar berkata: ‘Apabila aku shalat di dalam gereja, Engkau akan kehilangan gereja itu karena setelah kematianku, kaum Muslimin akan merebutnya dengan mengatakan: ‘Umar pernah shalat di sini.’ Tetapi berikanlah aku selembar perkamen untuk menuliskan sebuah dokumen!’”

Dokumen yang dituliskan Khalifah Umar intinya berisi bahwa kaum Muslimin dilarang mengumandangkan adzan dan mendirikan shalat di tempat umat Nasrani beribadah. Kemudian, disebutkan F. E. Peters dalam Jerusalem: The Holy City in the Eyes of Chroniclers, Khalifah Umar meminta tempat untuk didirikan masjid di kompleks suci itu.

“Sophronius berkata: ‘Aku akan memberikan Amirul Mukminin sebuah tempat untuk mendirikan tempat ibadah, di mana para raja Romawi tak sanggup membangunnya. Tempat di mana terdapat sebuah batu yang dahulu (Nabi) Yakub berbicara pada Tuhan dan tempat di mana Yakub menyebutnya gerbang surga dan Bani Israil menyebutnya tempat paling suci (jejak-jejak Menorah). Tempatnya berada di tengah-tengah dunia’,” ungkap Peters.

Sophronius kemudian menjelaskan bahwa tempat itu sudah terbengkalai dan kini tertutup pasir dan tanah oleh orang Romawi. Ia tak dijadikan gereja karena Yesus Kristus berkata bahwa Dia takkan meletakkan batu di atas batu yang takkan bisa dihancurkan. Oleh karenanya, umat Nasrani meninggalkannya sebagai reruntuhan.

Umar lalu mengambil tanah itu, membersihkannya menggunakan jubahnya sebelum melemparkannya ke Lembah Gehenna, dan diikuti kaum Muslimin sampai tempat itu bersih dan batunya tampak.

Setelah batu itu dipindahkan, tempat itupun dibangun masjid yang hingga kini dikenal sebagai Masjid Umar. Letaknya tak jauh dari gerbang timur Gereja Makam Kudus. Tetapi sejak 1193, masjidnya dipindah ke selatan gereja seiring berubahnya gerbang gereja ke arah yang sama sebagai imbas perbaikan usai beberapa kali hancur oleh konflik di abad ke-11.

Salahuddin Menjaga Gereja

Masjid Umar dibangun kembali pada 1193 oleh Emir Damaskus Al-Afdal bin Salahuddin, putra Sultan Salahuddin “Sang penakluk Yerusalem” dalam Perang Salib III (1187). Sebagaimana Khalifah Umar, Salahuddin al-Ayyub tak menistakan satupun gereja ketika Yerusalem sudah berada di bawah kekuasaannya.

Salahuddin merebut Yerusalem dan masuk ke gerbang kota suci itu pada 2 Oktober 1187 atau 27 Rajab 583 Hijriah, bertepatan dengan peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Mengutip Sir Walter Besant dan Edward Henry Palmer dalam Jerusalem, the City of Herod and Saladin, sang sultan sempat menutup semua gereja, termasuk Gereja Makam Kudus, untuk menggelar diskusi dengan para pengikutnya guna menentukan apa yang akan dilakukan terhadap situs-situs Nasrani.

Sementara, sejumlah situs suci Islam ia perbaiki dan kembalikan fungsinya sebagai rumah ibadah. Salah satunya, Qubbat al-Sakhrah (Dome of the Rock), masjid yang dibangun pada 691 di masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan. Salib emas yang dipasang para Ksatria Templar di masjid itu dicopot. Pun begitu dengan yang berada di Masjid al-Aqsa dan Masjid Umar.

Sementara itu, umat Katolik bersama sisa-sisa pasukan Salib pergi setelah dijamin Salahuddin dengan bisa keluar hidup-hidup pasca-kapitulasi sehingga yang tersisa hanyalah budak-budak yang terbebas dan umat Kristen Ortodoks. Gereja-gereja yang mereka tinggalkan juga mendapat perhatian.

“Gereja Makam Kudus jadi perhatian khusus. Banyak para pengikut Salahuddin menyarankannya untuk dihancurkan. Akan tetapi berkat pertimbangan matang sultan dan kisah keteladanan (Khalifah) Umar yang ia kemukakan, nasihat-nasihat pengikutnya (untuk menghancurkan gereja) tak ia jalankan,” tulis Sir Walter dan Palmer.

Setelah tiga hari itu, Gereja Makam Kudus kembali dibuka dan Salahuddin mengizinkan umat Nasrani manapun untuk menziarahinya. Para penganut Kristen Ortodoks dan Koptik pun diperkenankan untuk tetap menjalani ritual-ritual di situs-situs suci mereka yang sebelumnya sebagian situs Ortodoks dikuasai umat Katolik Roma seiring berdirnya Kerajaan Yerusalem (1099-1187).

“Kaisar Byzantium Isaac II mengirim surat untuk memberi ucapan selamat kepada Salahuddin dan memintanya mengembalikan semua gereja di kota (Yerusalem) kepada para agamawan Ortodoks dan semua kebaktian mereka bisa dilaksanakan dalam tata peribadatan Ortodoks Yunani. Permintaan itu dikabulkan Salahuddin, di mana semua urusan gereja diserahkan ke Patriark Konstantinopel,” singkap Maher Abu-Munshar dalam Islamic Jerusalem and its Christianity: A History of Tolerance and Tensions.

Randy Wirayudha

Sumber: https://historia.id/agama/articles/hagia-sophia-dan-keteladanan-sahabat-rasulullah-DO4WJ?

(Suara Islam)

Loading...