Gus Nuril: Tarekat Kebangsaan

Gus Nuril

“Kita jangan tenggelam dalam kesedihan. Kita harus sarikan dukungan buat Ahok dalam tindakan yang nyata.

Kita semua disatukan oleh seorang utusan Allah yang bernama Ahok. Bagi saya, Ahok adalah pemegang tongkat Musa yang membelah lautan untuk menyelamatkan bangsanya. Dia bagai Daniel yang mengawal keselamatan anak buahnya. Keselamatan iyu tidak kita rasakan langsung sekarang, tapi nanti. Penahanan Ahok saat ini hanyalah bagian dari sebuah proses.

Seorang pemimpin dipersiapkan Allah sedemikian rupa. Sudah jadi kehendak Allah untuk mencetak Ahok jadi seorang pemimpin yang luar biasa. Percayalah, Tuhan tidak akan membiarkan seseorang yg diutusnya yang diutusnya untuk berjalan sendirian.

Sampeyan jangan khawatir, semakin lama semakin banyak yang mencintai Ahok. Tapi ingat, dalam momentum ini kita jangan lupa untuk mencatatkan diri dalam sebuah gerakan yang dijiwai sebagai berikut : bersama cinta kita Ahok, kita kembangkan semangat dan cinta untuk melayani bangsa dan negara. Kalau itu kita laksanakan, kita menjadi syuhada. Kita sudah melakukab jihad itu sendiri.

Kyai-kyai NU sudah punya penglihatan akan ada matahari ke empat dan akan terjadi kerusakan. Sekarang sudah dimulai. Gerbang pertama, Ahok, sudah runtuh. Istana jadi telanjang (mudah diserang) . Setelah ini Jokowi jadi sasaran. Maka dalam semangat utk melayani bangsa dan negara spt disebut di atas, kita harus amankan Jokowi, Pancasila, dan NKRI.

Jihad bagi NU adalah meluruskan pemimpin yang sesat. Ahok sudah bagus. Soal dia adalah seorang Kristen, itu tidak masalah. Ada yg namanya Tareqat Kebangsaan. NKRI betul harga mati asal diikuti oleh Pancasila.

Jika rumah kita dirampok, lalu kita melawan dan mati maka engkau adalah pahlawan bagi keluargamu dan engkau masuk surga.
Kita kumpul dan bersatu utk menyelamatkan Indonesia, jutaan rakyatnya. Itulah surga.

Tareqat kita adalah Kebangsaan dengan beragam agama di dalamnya.

Allah berfirman: berpeganglah pada tali-tali Allah. Dia menempatkan penjaganya di sudut-sudut kota. Jangan kalian bilang Panglima Dayak ini kafir. Kafir itu adalah orang yg tidak percaya Tuhan. Orang yang bertuhan tidak boleh disebut kafir.”

Kita harus minta kepada Presiden, Menkopolhukam dan DPR agar Ps 27 ttg agama dan Ps 29 ttg agama dibuatkan UU nya, lalu buat juknisnya dlm bentuk Peraturan Pemerintah atau apapun agar jangan lagi ada anak bangsa yg dikafir-kafirkan karena berbeda agama oleh saudara sebangsanya.

Kita jangan euphoria mengenang Ahok, tapi hayati perjuangannya. Kita enak duduk, makan, minum. Ahoknya dipenjara. Saya sering pergi keluar rumah, tapi ketika pulang istri saya nggak ada, ada perasaan kehilangan. Biasanya ada yang bikinkan kopi, siapkan makanan. Begitu juga Ahok dan keluarganya. Ada sesuatu yg hilang.

Jaga cinta kepada Ahok. Dunia sudah terbelalak dengan indahnya bunga dan nyala lilin, jangan sia-siakan.

Cinta kita kepada Ahok yang sudah merembes dalam hati, wujudkan dalam setangkai bunga.

Kita tunggu HTI, FPI dan ormas2 lain itu bertobat, kembali ke Ibu Pertiwi. Bukan perdamaian, tapi pengampunan kepada mereka semua.

Ahok sudah membelah lautan. Sudah memisahkan mana yang setia kepada bangsa dan negara dan mana yg berkhianat. Maka yang berkhianat bukan diajak damai, mereka harus minta maaf dan minta ampun kepada Ibu Pertiwi.”

Kalau yg cinta Ahok juga cinta Pancasila, maka kita harus siap berhadapan dengan lawan yang barangkali 10 kali lipat lebih besar, tapi tidak ada kemenangan bagi yang besarnya 10 kali lipat karena di dalamnya tidak ada cinta.

Seperti cinta kita kepada Tuhan. Cintai Tuhan dengan hatimu, bukan dengan darah atau dagingmu.

Walaupun kita duduk di sini, karena kita bertujuan utk kebaikan, maka kita sedang menyapa Tuhan.

Buktikan bahwa kalian bisa menjadi rahmat. Jika kalian ingin menjadi garam dunia, sentuhlah mereka yang berhati remuk, memberi makan orang yang lapar, menyelimuti mereka yang kedinginan, kunjungi orang sakit atau yg dipenjara maka engkau sudah melawat Tuhanmu sendiri.

Syareat tidak usah diperbincangkan. Allah sendiri udah menyempurnakan. Kalau ada yg bilang bahwa engkau bukan Islam, ingat saja bahwa engkau sudah mengakui bahwa Tiada Tuhan selain Allah. Itu sudah Islam. Islam bukan bangunan-bangunan mesjid, tapi Islam adalah cinta. Dialog. Seperti yg sudah diajarkan oleh nabi2 pendahulu kita.

Puncak dari orang beragama adalah bermanfaat bagi orang lain. Bukan hanya kepada kaum Muslim, bukan hanya kepada kaum Mukmin. Kalau orang Islam yg melakukan itu, sudah biasa. Tapi adik saya, Ahok, yang seorang Kristen melakukan itu kepada saudara-saudaranya yang Muslim”.

Pernyataan KH. Nuril Arifin atau akrab disapa Gus Nuril, pengasuh Pondok Pesantren Sokotunggal Abdurrahman Wahid yang beliau sampaiakan dalam Diskusi Kebangsaan #PancasilaPemersatu #Spirit of Ahok hari Jumat, 9 Juni 2017 di Ballroom Kuningan City Jakarta.

(suaraislam)

Loading...