Gus Nadir: Islam yang Tekstual dan Kontekstual

Gus Nadir

Berikut kultwit Gus Nadir soal pentingnya memahami teks dan konteks dalam memahami (ajaran) Islam:

1. Memahami Islam tidak cukup hanya lewat teks, tapi juga harus memahami konteks. Keduanya harus dipahami dan tidak bisa ditinggalkan. Kita simak yuk kajian pagi ini.

2. Kalau anda melulu melihat teks maka anda akan terpaku dengan teks dan memutar kembali jarum sejarah ke jaman onta. Kalau anda hanya berpegang pada konteks dan melupakan teks maka anda akan seperti anak panah yang lepas dari busurnya.

3. Sebaik-baik urusan itu yang berada di tengah: memahami teks sesuai konteksnya. Kalau ini yang anda lakukan, maka anda dapat mempertahankan nilai lama yang masih relevan dan terus membuka diri untuk menerima ide dan gagasan baru yang lebih baik.

4. Inilah pegangan para Kiai di pesantren: al-muhafazah ‘alal qadimis shalih wal akhzu bil jadidil ashlah. Para Kiai itu tidak literal dan juga tidak liberal.

5. Dengan menguasai qawa’id ushuliyah dan qawa’id fiqhiyah, para Kiai terlatih untuk bisa “nyetel” dengan pas antara wahyu dan akal; teks dan konteks; Nash dengan budaya; mantuq dan mafhum; azimah dan rukhsah’; serta dalalah dan maqashid.

6. Cara berpikir ‘wasatiyyah’ ini membuat para Kiai tidak kesulitan menempatkan diri dalam perubahan jaman. Saya ingin beri contoh: Masih banyak saudara2 kita yang 100% hendak mengikuti setiap tindakan dan perilaku Nabi dari soal cara berpakaian sampai cara makan dan tidur

7. Tentu tidak keliru kalau mau mengikuti Nabi dalam segala hal, namun bahanyanya bagi mereka yang mengikuti secara tekstual adalah sering menganggap orang lain kurang islami atau kurang nyunnah kalau mengikuti Nabi secara kontekstual.

8. Syekh Mahmud Syaltout berkata bhw tindakan Nabi itu ada yg bersifat kemanusiaan belaka dan tidak ada konsekuensi hukum; dan ada yg memang dilakukan sbg Nabi yg punya konsekuensi hukum. Jadi harus dibedakan antara sunnah ghairu tasyri’iyyah & sunnah tasyri’iyyah.

9. Perintah Nabi, “Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat”, maka pertanyaanya, jikalau ada sahabat Nabi mendengar setelah takbir Nabi batuk 3 kali, apakah batuknya Nabi ini merupakan hal yg harus diikuti atau ini hanya sisi kemanusiaan Nabi yg kebetulan sdg batuk?

10. Pertanyaan ini akan menjadi panjang kalau contohnya saya ganti: apakah saat mengucapkan tasyahud telunjuk harus digerak-gerakkan atau cukup diam saja? Apakah laporan seorang sahabat yang melihat telunjuk Nabi bergerak itu merupakan hal yang harus kita ikuti atau tidak?

11. Pertanyaan di atas bisa kita lanjutkan: bagaimana menghilangkan najis dengan 7 kali basuh plus dengan tanah? Bisakah diganti dengan sabun? Anda mau berpegang kukuh pada teks, mau melihat konteks, atau gabungan keduanya?

12. Sekali lagi Jawaban dari berbagai pertanyaan di atas akan tergantung apakah anda memahami teks semata; atau anda mau melihat konteks saja; atau anda mau “nyetel” dengan pas antara pakai teks dan memahami konteksnya.

13. pandai memilah mana yang hadis dan mana yang budaya ketika membaca hadis. Bagaimanapun, hadis tidak hanya memuat doktrin agama, tetapi juga memuat kandungan budaya dan tradisi Arab yang menjelma dalam wujud Nabi Muhammad SAW.

14. Anjuran berbuka puasa pakai kurma itu apakah tidak boleh diganti dg kolak pisang misalnya? Bagi yg memahami teks, ya tetap harus dg kurma. Bagi yg memahami teks dan konteks, ya boleh keduanya. Intinya berbuka dg yg manis-manis.

15. Imam Nawawi berkata, “bahwa sudah keharusan mengikuti perkataan Nabi yang mengandung dimensi syariat, sementara yang berkaitan dengan permasalahan dunia yang didasarkan pertimbangan akal tidak mesti diikuti”.

16. Prof Dr KH Ali Mustafa Ya’qub (Allah yarham) pernah menulis hal ini dg sangat baik.

17. Mari kita terus belajar, karena ternyata masih banyak yang harus kita pelajari, bukan? Yang hafal teks pun tetap harus membaca konteks. Yang pakai konteks, jangan tinggalkan teks. Inilah makna Iqra’: membaca yg tertulis dan tak tertulis.

Sumber: https://twitter.com/na_dirs/status/996585457797316610?s=19

(suaraislam)

Loading...