Generasi Muda Berwajah Radikal

Ilustrasi

Akhir-akhir ini Indonesia digemparkan oleh kelompok-kelompok radikal yang hendak memecahbelah keutuhan bangsa. Sasaran dari kelompok-kelompok ini adalah generasi muda. Sebanyak 59 anak di Garut, Jawa Barat dibaiat untuk masuk organisasi Negara Islam Indonesia (NII). Para pemuda dibaiat dan diindoktrinasi dengan dalil pemerintah RI thogut.

Hadirnya para pemuda sebagai korban baiat NII memberikan lampu merah bagi bangsa Indonesia. Matinya akal sehat dan sikap kritis membuat para pemuda menjadi boneka kaum radikal. Kebebasan berpikir mereka digiring dan menjadi senjata ampuh untuk tujuan-tujuan tertentu.

Akal sehat para generasi muda dalam seluruh pencarian jati diri dikungkung dalam sebuah paham dengan wajah agama. Akal sehat dan agama yang sejatinya menolong moralitas manusia menjelma menjadi predator dalam ekosistem modernisme.

Generasi muda yang agresif dalam demonstrasi, aborsi, narkoba, eksklusif dan radikal dalam beragama serta berbagai bentuk kriminal lainnya merupakan peta suram bagi masa depan bangsa. Hadirnya paham-paham radikal dalam agama makin menyudutkan generasi muda Indonesia ke dalam awan ketidaktahuan. Matinya akal sehat dan nurani generasi muda merupakan awal kehancuran bangsa.

Agama seharusnya menjadi tempat bagi generasi muda untuk mengekspresikan seni diri dan memahami kehidupan secara kontekstual. Alfred North Whitehead, filsuf Filsafat Proses (1929) mendefenisikan agama sebagai seni dan teori kehidupan manusia. Seni berarti agama mengekspresikan cita rasa eksistensial manusia sebagai makhluk yang merindukan yang transenden, kebaikan tertinggi. Agama menjawabi kebutuhan dan kerinduan hati manusia terhadap kebaikan tertinggi, yang bersifat permanen.

Sebagai teori, agama merumuskan secara rasional dan kritis kerinduan dasar manusia. Matinya sikap kritis sebuah agama menjadikan agama kehilangan jiwa sekalipun memiliki wujud. Makna sebuah aktivitas berpikir dalam agama harus dikomunikasikan secara kontekstual untuk mencegah disintegrasi.

Kehilangan akal sehat melahirkan sikap fundamentalisme. Thomas Meyer mengartikan fundamentalisme sebagai suatu gerakan ketertutupan diri yang sewenang-wenang sambil melawan proses modern yang berciri keterbukaan pikiran, tindakan, bentuk hidup dan keterbukaan terhadap hakikat hidup bersama. Gerakan ini ingin menghantar orang kepada kepastian mutlak, perasaan aman yang dipercayai serta orientasi yang tak dapat diragukan dengan cara mengutuk semua alternatif lain secara irasional. (Dr. Armada Riyanto, 2000).

Fundamentalisme mengikat diri pada dokrin komprehensif, namun tidak mau terbuka pada pola budaya maupun modernisme. Pola budaya dan modernisme memiliki sifat dinamis, kontekstual dan historis karena mendasari diri pada kemanusiaan. Oleh karena itu hubungannya bukan hubungan artifisial tetapi interpretatif.

Agama perlu dibaca dalam konteks tertentu, selalu bergerak mengikuti peradaban manusia, sehingga ia dapat sungguh-sungguh hidup di dalamnya. Jika agama terkurung pada teks, konteks satu budaya, maka radikalisme dan fundamentalisme berkembang pesat dan mencederai nurani kemanusiaan.

Kaum muda yang diindoktrinasi paham radikal berada dalam status dilema, baik di dalam akal sehat maupun moralitas. Laju perkembangan ilmu pengetahuna ternyata tidak seutuhnya menjamin integrasi. Hal itu dikarenakan dominasi paham radikal merebak di berbagai sektor kehidupan. Sasaran utama adalah kaum muda sebagai representasi masa depan bangsa.

Generasi muda hidup jauh berbeda dengan tradisi-tradisi keagamaannya. Ia hidup di dunia modern dengan segala perkembangannya, namun ia setia dengan tradisi-tradisi keagamaannya tanpa mau menafsirkannya secara kontekstual.

Dualisme ini membuat generasi muda mengalami konflik batin untuk memilih. Ketidakmampuan untuk membedah dengan baik, melahirkan sikap ekstrem terhadap dunia dan peradaban modern. Oleh karena itu perlu merumuskan kembali beberapa hal dasar yang menjamin kehidupan generasi muda.

Pertama, proselitisme. Howard O. Hunter dan Polly J. Price mendefinisikan proselitisme sebagai misionari yang adalah aktivitas mengomunikasikan sebuah agama atau pandangan hidup melalui komunikasi secara verbal atau melalui sejumlah aktivitas terkait sebagai sebuah undangan bagi yang lainnya untuk memeluk agama atau pandangan hidup tersebut.

Instrumen HAM internasional menegaskan bahwa, proselitisme merupakan hak yang berada dalam forum eksternum. Hak ini merupakan manifestasi dari hak-hak dasar dalam forum internum. Pada forum Internum, manusia memiliki kebebasan untuk memilih atau tidak memilih agama atau keyakinan tertentu dan tidak seorang pun boleh membatasinya bahkan dalam keadaan perang sekalipun (Alamsyah M. Dja’far, 2014).

Di Indonesia, isu proselitisme menjadi isu yang sangat sensisitif karena diidentikkan dengan gerakan Islamisasi atau Kristenisasi. Jika menelisik hukum proselitisme di Indonesia, undangan untuk menganut paham atau ajaran sudah tercatat dalam Konstitusi Indonesia, pasal 29 ayat 2 UUD 1945. Proselitisme menjadi ancaman ketika dilakukan melalui jalan intimidasi dan kekerasan.

Namun proselitisme perlu berada dalam kontrol pemerintah untuk menekan laju gerakan radikal yang masuk melalui agama. Bahwasanya pengomunikasian ajaran harus sesuai dengan nilai-nilai dasar Pancasila.

Proselitisme sebenarnya bukanlah usaha untuk mengkristenisasi atau bentuk Islamisasi, tetapi lebih kepada sebuah undangan untuk menemukan inti sari kehidupan lewat suatu ajaran. Artinya, proselitisme memberikan ruang untuk memilih mengikuti atau tidak.

Oleh karena itu, generasi muda Indonesia perlu dibina keseimbangan berpikir dan sikap reflektif. Pola yang dipakai dimulai dari keluarga, budaya dan lingkungan sosial keluarga menjadi fundator bagi anak-anak untuk memperoleh pengetahuan dan etiket yang baik. Sosialisasi nilai-nilai yang baik hendaknya menjadi prioritas orang tua untuk menumbuhkembangkan anak menjadi manusia yang toleran. Sekolah juga menjadi wadah untuk membina sikap kritis generasi muda, agar mereka tidak tenggelam pada kebutaan agama, budaya maupun sosio-politik.

Apabila lembaga pendidikan tidak mewadahi generasi-generasi muda bangsanya dengan baik, maka intoleransi dalam bidang apa pun dapat terjadi dan bertumbuh subur di kalangan masyarakat. Praktik cuci otak dan mewariskan tradisi-tradisi keagamaan yang radikal membentuk manusia yang superior atas sesamanya.

Ketika mobilitas manusia terus bertambah dan hidup berdampingan dalam perbedaan, penerimaan terhadap yang lain tentunya menjadi hal yang fundamental. Seperioritas yang melekat dalam pribadi-pribadi tertentu yang tidak dibekali dengan baik akan menciptakan permusuhan dan kecurigaan dalam kehidupan bersama. Pengertian dan pemahaman yang baik adalah jalan menuju dialog yang lebih terbuka dan harmonis.

Kedua, dakwah. Para tokoh agama memiliki peran penting dalam pembinaan karakter generasi muda Indonesia. Para tokoh agama menjadi garda terdepan untuk menyosialisasikan nilai-nilai toleransi kepada generasi muda melalui dakwa.

Menurut Hamengku Buwono X, ada dua kelemahan mendasar dalam penyampaian informasi keagamaan yang pada gilirannya melahirkan sikap fanatisme dan kecurigaan antarumat. Pertama, para pemimpin yang cenderung menekankan superioritas ajaran agamanya, sehingga informasi yang disampaikan kepada umatnya cenderung eksklusif. Kedua, masalah pentingnya sikap toleransi antarumat tidak menjadi prioritas utama dalam penyampaian misi atau dakwah (Hamengku Buwono X, 2000).

Para pemimpin agama perlu menyalurkan kedamaian dan menghindari penyesatan terhadap kaum muda melalui ajaran-ajaran yang radikal. Generasi muda perlu mengalami reorientasi sebagai anak bangsa yang kritis terhadap ajaran dan tanggap terhadap situasi zaman.

Semangat heroisme seperti terjadi dalam perang salib, kolonialisme dan orientalisme yang bernuansa permusuhan antaragama perlu dikendalikan dengan pikiran yang rasional oleh para pemuka agama. Dengan demikian, generasi muda Indonesia memiliki harapan untuk tumbuh sebagai anak bangsa yang solider, toleran dan visioner.

Iron Sebho

Sumber: https://nalarpolitik.com/generasi-muda-berwajah-radikal/

(Suara Islam)

Loading...