FPI, JAD, dan Kaum Salafi

Ilustrasi

Orang umumnya menganggap radikalisme tumbuh di kalangan salafi, yaitu penganut gerakan pemurnian Islam dengan jargon kembali kepada Alqur’an dan hadis dan enggan terikat kepada madzhab. Anggapan ini tidak sepenuhnya benar. Ibn Taimiyah, yang sering dirujuk sebagai bapak fundamentalisme Islam, adalah penganut madzhab Hanbali. Hampir seluruh faksi kaum salafi bernaung di bawah fatwa-fatwa Ibn Taimiyah.

Kaum militan Taliban, yang dipimpin Mullah Omar, berasal dari madrasah Darul Ulum Deoband yang mengajarkan fikih Madzhab Hanafi dan teologi Maturidi. Kaum jihadis generasi pertama di Indonesia, NII, berasal dari kaum Islam tradisional. SM Kartosoewirjo berguru kepada para ajengan Jawa Barat yang bermazhab Syafi’i. Dia sendiri dikabarkan pengamal tarekat Qadiriyah-Naqsyabandiyah. FPI, dalam AD/ART-nya yang viral, mengklaim mengikuti madzhab Syafi’i dalam fikih, Abu Hasan al-Asy’ari dalam aqidah, dan Junaid al-Baghdadi dalam tasawuf. FPI, dalam kualifikasi sosiologis, adalah penganut Islam tradisional—sebagaimana NU—yang menjadi ‘sasaran dakwah’ kaum salafi.

Alhasil, tesis radikalisme identik dengan kaum salafi tersanggah, meski tidak sepenuhnya. Tidak setiap salafi adalah jihadis. Tidak setiap jihadis adalah salafi. NII genarasi awal adalah jihadis non-salafi. Kelak pecah (infishal) dengan jihadis salafi, di bawah kepemimpinan Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba’asyir yang mendirikan Jama’ah Islamiyah (JI).

FPI, sejak kemunculannya, mengobarkan jihad, termasuk jihad Ambon dan Poso. Ketika Abu Bakar al-Baghdadi mendeklarasikan ISIS, HRS tidak bai’at, tetapi mendukung. Ini angin segar bagi pengagum al-Baghdadi di Indonesia yang mendirikan JAD (Jemaah Ansharut Daulah). Zaenal Anshory alias Abu Fachry adalah pentolan FPI Lamongan. Dia bai’at kepada ISIS melalui Aman Abdurrahman, pendiri JAD.

Melalui kiprah Zaenal, penetrasi JAD ke tubuh FPI menguat. Pada 2015, dalam acara yang dihadiri Munarman di Makassar, anggota FPI melakukan baiat massal ke ISIS. Mereka adalah jaringan Zaenal yang hijrah dari FPI ke JAD. Benny Mamoto, Ketua Harian Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas), menyebut ada 37 eks anggota FPI yang bergabung ke JAD dan Mujahidin Indonesia Timur (MIT).

Dalam sebuah penggerebekan oleh Densus 88 di Makassar pada Februari 2021, mereka menangkap 26 pegiat JAD, 19 di antaranya adalah anggota FPI. Pelaku bom Katedral Makassar adalah jaringan yang luput dari penggrebekan Densus 88 bulan lalu. Pasca bom bunuh diri Makassar, Densus meringkus 13 orang jaringan JAD di Jakarta, Bekasi, dan Tangerang Selatan. Dua orang yang diringkus di Bekasi dan Condet, Jakarta Timur, adalah anggota FPI yang tertangkap kamera menghadiri persidangan HRS di PN Jakarta Timur.

Akhirul kalam, jihadis dibentuk oleh fikrah siyasiyah, bukan fikrah diniyah. Para penganut Ibn Taimiyah, yang mengikuti fikrah diniyah-nya, tidak menjadi jihadis, seperti kaum salafi-Hijazi dan jaringannya di Indonesia. Mereka baik-baik saja dalam urusan NKRI. Mereka tidak baik dalam urusan bid’ah-membid’ahkan orang. Sebaliknya, Mullah Omar menganut madzhab Hanafi yang terkenal rasional, menjadi jihadis karena terpapar fikrah siyasah Ibn Taimiyah.

FPI penganut Islam tradisional, tetapi beririsan dengan JAD karena fikrah siyasiyah-nya. Dua-duanya memperjuangkan formalisasi syariat Islam secara kaffah. Pun FPI dan HRS dibela kaum salafi dan Islam modernis bukan dari fikrah diniyah-nya, tetapi dari fikrah siyasahnya. Dalam fikrah diniyah, pengamal Islam tradisional cenderung berbeda dengan pengusung gerakan pemurnian Islam. Tetapi, mereka klop karena agenda politik: sama-sama memperjuangkan formalisasi syariat Islam.

M Kholid Syeirazi

Sumber: https://www.facebook.com/833053241/posts/10160842297728242/

(Suara Islam)

Loading...