Forum Habaib Desak TNI-Polri Tangkap Ormas yang Ganggu Stabilitas Nasional

Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan Kapolri Jenderal Idham Azis. Foto: dok.TNI

Habib Umar Idrus Alhabsyi, Ketua Forum Komunikasi Alawiyyin Indonesia, meminta kepada aparat keamanan baik Polri maupun TNI untuk menindak tegas para kelompok yang justru sengaja ingin mengganggu stabilitas nasional.

“Menghimbau kepada Kapolri dan Pangab (Panglima TNI -red) menangkap siapa saja, orang atau kelompok organisasi gerakan tersebut yang berusaha mengkudeta pemerintah Negara Indonesia secara inkonstitusional,” kata Habib Umar kepada wartawan.

Menurutnya, kelompok masyarakat yang melakukan agenda politik tertentu justru memberikan ancaman kepada persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

Bahkan, Ia sangat menyayangkan, kelompok-kelompok tersebut selalu membalut diri mereka dengan identitas tertentu untuk berupaya melegitimasi ruang gerak mereka.

Dan ia juga meminta agar aparat keamanan negara tetap memiliki nyali yang kuat untuk menjaga eksistensi NKRI dari rongrongan kelompok semacam itu.

“Berani melakukan pengamanan terhadap Negara dari Kelompok atau orang yang akan melakukan pemufakatan jahat terhadap Kedaulatan Negara Republik Indonesia,” ujarnya.

Lebih lanjut, Habib Umar juga meminta dengan tegas kepada aparat Kepolisian maupun TNI untuk tidak segan-segan meringkus mereka yang sengaja menyebarkan kebencian antar sesama dan mengancam toleransi di NKRI.

“Menangkap pihak-pihak yang membawa kebencian dan intoleransi dengan mengatasnamakan agama, yang berujung makar kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tandasnya.

Di sisi lain, Habib Umar memaparkan, bahwa provokasi berbungkus isu identitas yang bisa mengancam persatuan keberlangsungan hidup dan eksistensi suatu bangsa ternyata sangat dipengaruhi oleh kemampuan bangsa tersebut dalam memahami dan menguasai kondisi geografi serta lingkungan sekitarnya.

“Tumbuh kembangnya atau berkurangnya ruang hidup bangsa juga dipengaruhi oleh pandangan geopolitik yang diyakini oleh entitas suatu bangsa,” tukasnya.

Kemudian, berbagai pengaruh dan dampak negatif dari perkembangan lingkungan strategis yang disertai berubahnya persepsi dan hakikat ancaman terhadap eksistensi maupun kedaulatan bangsa, tentu saja harus dicermati dan disikapi oleh bangsa Indonesia secara sungguh-sungguh.

Dan hal ini pula bisa berangkat dari pemikiran, bahwa ruang merupakan inti dari geopolitik karena di sana merupakan wadah dinamika politik dan militer.

Untuk itu, ia pun mengingatkan bahwa penguasaan ruang secara de facto dan de jure merupakan legitimasi dari kekuasaan politik. Karena di sanalah kehormatan dan kedaulatan jadi bahan pertaruhannya.

“Bertambahnya ruang negara atau berkurangnya ruang negara oleh berbagai jenis sebab, selalu dikaitkan dengan kehormatan dan kedaulatan negara dan bangsa,” tutup Habib Umar.

(Suara Islam)

Loading...