Evie Effendi, Sugi Nur, dan Runtuhnya Otoritas Keagamaan

Baru- baru ini, Ustad Hijrah Evie Effendi kembali ramai diperbincangkan. Hal ini bukan karena ‘prestasi’ dakwahnya yang memukau, tapi karena selain ilmu agamanya yang pas-pasan, juga tingkat kepedeannya yang berlebihan.

Dalam beberapa video ceramah Evie Effendi yang beredar, banyak sekali ditemukan blunder dalam penyampaian materi dakwah yang disampaikan. Jauh sebelum ini, Evie juga pernah blunder mengatakan bahwa Nabi Muhammad pernah ‘tersesat’. Bagaimana mungkin dia mengatakan Nabi Muhammad sebagai ‘manusia pilihan’ tersesat hanya menukil ayat ‘wawajadaka dhallam fahada’ kemudian menafsirkan Nabi Muhammad dulunya adalah orang yang tersesat.

Selain pernyataan Evie Effendi yang menyesatkan diatas, dia juga hobi sekali membid’ahkan amaliyah warga NU. Dengan ilmu agamanya yang dangkal, dia sudah berani mengklaim bahwa amalan warga NU adalah bid’ah. Seperti bacaan’ Rabbi ighfirli’ setelah bacaan alfatihah, dia menuding bahwa bacaan tersebut bid’ah karena tidak ada contoh dari rasulullah.

Lagi-lagi dengan kemampuan ilmu agamanya yang dangkal, Evie dengan pede membid’ahkan amalan tersebut di depan jamaahnya. Jelas, Ini sangat menyesatkan.

Bahkan, kasus terbaru Evie Effendi yang membuat gregetan adalah kemampuan baca al-Qurannya yang jauh dari standart seorang ustad, bacaannya blepotan dan amburadul. Tanpa merasa berdosa, dia meminta para jamaahnya mengikuti bacaan Alqurannya yang jelas-jelas sangat kacau dan tidak sesuai kaidah dasar ilmu Tajwid.

Selain Evie Effendi, ada juga Sugi Nur Raharja atau yang populer Gus Nur. Sosok yang satu ini sedikit berbeda dengan Evie Effendi. Dia memilih cara dakwah yang kasar, hujatan dan cacian kepada kelompok yang berbeda, terutama NU dan pemerintah.

Model ustad instan seperti ini juga sangat menyesatkan jamaahnya. Sugi Nur sama sekali tidak mencontoh model dakwah yang dibawa oleh Rasulullah, para sahabat, ulama yang mengedepankan model dakwah santun dan ramah yakni ‘bil hikmati wal mua’idzatil hasanah’.

Evie Effendi dan Sugi Nur adalah salah satu contoh ‘ustad’ yang menjamur di era digital dan internet. Menurut KH Ishomuddin, fenomena ustad dadakan sangat berbahaya karena bisa menjadi penyebab umat ‘mabuk agama’. Mereka dengan mudah mengkafirkan dan membid’ahkan kelompok yang berbeda pandangan. Menjamurnya ustad dadakan atau ustad hijrah yang tidak memiliki otoritas keagamaan akan berdampak buruk kepada pemahaman keagaaman masyarakat.

Hanya dengan dalil yang populer ‘ballighu ‘anni walau ayatan ‘, mereka berani menyampaikan ilmu yang belum mereka kuasai dengan benar dan baik kepada jamaahnya. Tentu, ini pemahaman yang keliru.

Dalam sebuah seminar bertajuk “Agama dan Beragama di Era Digital”, Ulil Abshar Abdalla atau Gus Ulil menyoroti fenomena menjamurnya ustad dadakan. Hal ini diperparah dengan banyaknya orang bodoh tapi tidak menyadari kebodohannya, merasa merasa sangat pandai padahal tidak, ilmu agama mereka sangat dangkal tapi sok tahu dan tidak memiliki etika keilmuan yang jelas.

Menurut gus Ulil ada pergeseran otoritas keagamaan, dulu otoritas keagamaan dibangun dari pesantren sekarang dibangun di internet dan salah satu laku beragama di internet adalah mudahnya orang menjadi tokoh di era digital, termasuk tokoh agama.

Dan sangat disayangkan, dari pergesaran otoritas keagamaan ini, banyak kita saksikan ustad dadakan yang rajin membully, menghina dan menghujat ulama lain bahkan pemerintah karena memiliki padangan berbeda. (AFM)

(suaraislam)

Loading...