Ekstremitas Sains dan Agama

Ilustrasi, https://sbyireview.files.wordpress.com/

Belakangan ini marak diskusi yang mengupas relasi sains – agama dan berusaha menjawab sebuah pertanyaan besar: bisakah agama (teks-teks suci) dan sains diharmoniskan?

Bila sains dianggap sebagai tolok ukur kebenaran, maka sebagian teks mungkin terbaca dan terpahami sebagai tak sesuai dengan sains ditafsirkan dengan penafsiran yang bisa diterima sains. Bila ditafsirkan secara paksa dengan penafsiran yang sesuai dengan sains, maka kedudukan teks suci yang ditetapkan sebagai wahyu suci yang mutlak benar gugur.

Bila teks suci dianggap sebagai tolok ukur kebenaran, maka banyak teori dan fakta sains yang dianggap tak sesuai dengan teks harus direvisi supaya tidak bertentangan dengan teks suci.Bila direvisi agar sesuai dengan teks suci, maka kedudukan sains sebagai ilmu empiris gugur.

Pertanyaan yang lebih penting dari itu adalah “perlukah agama dan sains diharmoniskan?”

Bila realitas ditetapkan sebagai fakta empirik, maka agama perlu diharmoniskan dengan sains agar agama diterima oleh kaum saintis. Bila agama dianggap sebagai kebenaran mutlak, sains perlu diharmoniskan dengan agama agar bisa diterima oleh kaum beragama.

Tapi bila menganggap realitas sebagai fakta gradual dan masing-masing dari agama dan sains memiliki persepsi yang berlainan karena sarana yang digunakannya berlainan, maka keduanya tak perlu diharmoniskan karena keduanya benar secara gradual. Karena memiliki basis epistemologi yang berlainan, sains dan agama bukan hanya tak perlu diharmoniskan tapi tak bisa diharmoniskan.

Agama dan sains, karena mempersepsi realitas dengan dasar epistemologi berlainan, harus diterima tanpa perlu dipertentangkan. Keduanya bisa diterima secara bersamaan seraya membedakan karakteristik objeknya masing-masing.

Persoalannya, para saintis keburu pongah menjadikan teori-teorinya sebagai postulat aksiomatik secara general sehingga mengukur dan menilai isu-isu agama (teks-teks suci) dengan metode dan pendekatan empiris. Pada saat yang sama para agamawan ceroboh menjadikan persepsi dogmatisnya sebagai dasar untuk menolak fakta natural yang dipersepsi secara empiris oleh kaum saintis. Akibat dari dua paradigma yang saling menafikan ini, terjadilah polemik dan sengketa yang seolah tak terselesaikan.

Yang mungkin perlu dilakukan adalah memperjelas esensi agama agar dapat mengambil definisi yang utuh dan dapat dibedah dasar epistemologinya sebelum disikapi dengan afirmasi dan negasi. Sains pun pun demikian.

Arus utama masyarakat agama dan sebagian besar saintis punya pandangan yang sama tentang agama bahwa agama tidak bisa dijamah dengan logika. Kaum dogmatis menegaskannya dengan maksud membanggakannya dengan justifikasi “iman”. Kaum saintis juga menegaskan itu dengan tendensi mencibirnya sebagai delusi demi mengeluarkannya dari peradaban. Dengan kata lain, para penguasa dogma pengendali masyarakat religius yang mayoritasnya hidup di pelbagai wilayah jajahan telah mendapatkan benefit dan keuntungan pemisahan agama dari sains dan saat agama ditetapkan sebagai zona bebas knowledge dengan sebutan mempesona “iman” yang menjadi perisainya.

Renaissance yang dimulai dengan rasionalisme dan empirisme dan berpuncak pada positivisme dan pragmatisme yang menciptakan peradaban moden sains mengilhami para agamawan untuk bekerja leluasa menanamkan dogma yang kerap dianggap wahyu dan petunjuk dari langit yang tak tunduk pada parameter validitas.

Saintisme (ateisme, agnostisisme, deisme) dan dogmatisme berhasil menciptakan sintesa unik: saintis sekaligus dogmatis. Perselingkuhan sains ekstrem- agama ekstrem melahirkan sekelompok manusia berkepribadian ganda, logis dalam sains dan dogmatis dalam religiusitas. Lulusan-lulusan mereka menyebar ke sentra-sentra vital, instansi sipil dan keamanan, perguruan tinggi, kementerian, BUMN, perusahaan swasta asing dan lokal, termasuk industri media.

Ternyata kaum saintis tak sepenuhnya berpikir sebagai saintis. Sebagian dari mereka bertindak sebagai kapitalis dan politisi. Saintisme menciptakan teori-teori. Kapitalisme mengolah teori menjadi sarana dan alat produksi (teknologi). Imperialisme menggunakannya sebagai sarana dominasi. Teknologi dan industri membelah dunia ke dalam dua bagian, dunia maju dan dunia terbelakang. Nuklir lalu internet kemudian bioinformatika menghadirkan kehidupan baru dengan perilaku baru dalam “one culture” sebagai puncak supremasi sains.

Ada dua fakta; material atau fisikal dan fakta immaterial atau metafisikal. Fakta material adalah realitas komplek yang merupakan komponen potensi dan aktus berupa raga yang disebut materi (jism).

“Saya kemarin meyakini benda yang saya pegang ini adalah gelas. Hari ini saya meyakininya sebagai serpihan kaca (beling) adalah premis yang tidak salah bila a) sesuatu yang disebut gelas itu adalah sebuah entitas fisikal (memiliki ukuran, kedalaman dan sifat-sifat atomik lainnya) pada fakta objektifnya; b) gelas itu sejak semula berbahan kaca pada fakta objektifnya; c) esensi kegelasannya sirna karena mengalami transformasi atau perubahan bentuk akibat pecah pada fakta objektifnya.

Dengan kata lain; pernyataan kemarin berupa predikasi “adalah gelas” atas benda itu tidak bertentangan dengan pernyataan hari ini berupa predikasi “bukanlah gelas” atau “adalah serpihan kaca” atas benda itu tidaklah salah. Artinya, perubahan predikasi dalam contoh “gelas” secara saintifik justru valid.

Sains sebagai konsep yang disusun dari fakta material yang dinamis tidak akan menghadirkan fakta yang statis dan permanen kecuali bila diabstraksi ke bilangan tak berhingga (matematika) yang merupakan fakta-fakta abstrak. Namun bila matematika diperlakukan sebagai ilmu rasional murni dan dipisahkan dari sains, maka sains tidak punya dasar validitas sendiri.

Sains adalah premis-premis tidak permanen karena objeknya adalah fakta sensual dan terikat oleh “waktu” empiris nya. Upaya memberikan nilai valid dengan probabilitas kalkulus atas pengetahuan saintifik hanya menghasilkan validitas general, bukan kebenaran universal yang permanen. Dengan kata lain, nilai-nilai general yang diperoleh sains, tak berpijak pada sains itu sendiri (karena itu paradoks siklus), tapi berpijak pada probabilitas kalkulus, yang tak lain adalah matematika sebagai aksioma non empiris.

Perlu diketahui, sains memerlukan dua postulat non saintifik yang abstrak, yaitu: a) matematika adalah pijakan sains; b) kebenaran saintifik adalah produk kebenaran matematik.

Sains tidak bisa menghasilkan premis-premis permanen (dulu disebut eksakta) karena objeknya hanya fakta-fakta dinamis kecuali bila diabstraksi dengan angka yang merupakan fakta abstrak yang tak berhingga.

Eksistensi, Tuhan, agama dan mazhab juga nilai-nilai kualitatif bukanlah realitas material yang dinamis namun statis. Karena statis, fakta objektifnya tak berubah. Karena tak berubah, citranya dalam benak pun tidak berubah.

Karena dasar epistemologi sains dan agama berbeda, maka fakta yang dipersepsinya pun berlainan. Karena keduanya mempunyai dua fakta objektif berbeda, tak perlu menilai agama dengan sains, dan sebaliknya, juga tak perlu melakukan pengagamaan sains dan tak perlu melakukan saintifikasi agama. Dengan kata lain yang lebih eksplisit, pendukung saintisme tak perlu nyinyir soal Tuhan, agama dan tema-tema non saintifik. Kaum dogmatis juga tak perlu menjustifikasi teks-teks agama dengan sains karena itu justru mengisyaratkan kegamangan di balik klaim kebenaran mutlak mereka.

Kaum saintis yang pongah dan kaum dogmatis yang jumud mewakili dua polar ekstrem karena berebut klaim kebenaran mutlak. Padahal sains sendiri menafikan kemutlakan serta berdiri di atas relativitas, dan agama yang dianggap sebagai wahyu Tuhan buah pemahaman subjektif dan relatif terhadap teks

Kaum saintis ekstrem mungkin berhak mengaku berjaya membangun peradaban modern dengan teknologi dan menyadarkan manusia tentang delusi Tuhan dan agama.Tapi kaum saintis lupa bahwa sains yang dibanggakanya dan agama yang dicibirnya sama-sama tak berbasis pada dasar epistemologi yang ajek.

Karena mengira filsafat metafisika Yunani telah berakhir saat dioplos dengan dogma gereja menjadi teologi skolastik, kaum saintis atheis meremehkan semua konsep ketuhanan dan merasa telah sukses menguburkannya.

Polemik paling purba dalam sejarah manusia adalah eksistensi dan realitas. Para metafisikawan memastikan eksistensi sebagai pengalaman supra-rasional sebelum diketahui sebagai pengetahuan rasional. Inilah yang membedakan tsubut dan itsbat atau antara ada dan diketahui. Dengan kata lain, sebelum memperebutkan bisakah mengenali realitas dan sebelum memperdebatkan bagaimana atau dengan sarana apakah realitas dikenali, secara inheren setiap subjek individu memastikan adanya subjek diri tanpa konsep referensi. Filsafat memastikan eksistensi sebagai eksistensi, sedangkan sains memastikan eksistensi sebagai ruang.

Selanjutnya para metafisikawan berselisih seputar ketunggalan dan keragaman eksistensi. Ibnu ‘Arabi melihat wujud sebagai manifestasi (tajalliyat) dari Nama-nama dan Sifat-sifat Tuhan pada cermin ketiadaan yang kemudian didukung oleh para mistikus dan diresmikan sebagai narasi ketunggalan eksistensi yang menyatakan bahwa eksistensi hanya Tuhan sedangkan lainnya hanyalah bayang-bayang atau ilusi. Sedangkan para filsuf peripatetik konsisten menegaskan pluralitas eksistensi yang merupakan akibat dari emanasi dari satu realitas sublim. Suhrawardi berusaha mengambil jalan tengah yang memadukan ketunggalan dan keragaman dengan mengetengahkan teori cahaya yang memancarkan cahaya-cahaya gradual yang dikenal dengan iluminasi.

Ternyata teori cahaya itu, meski berhasil mengharmoniskan klaim ketunggalan dan klaim keragaman, menyisakan paradoks eksistensi yang bermuara kepada kudeta esensi atas eksistensi (fundamentalisme esensi).

Seraya mempertahankan gradualitas, Mulla Sadra mengembalikan persoalan utama kepada eksistensi. Menurut Sadra, eksistensi bukanlah objek-objek yang ada (exist) atau maujud-maujud (existents), yang menemukan personalitasnya sendiri-sendiri di dunia objektif karena berbagai kuiditas (esensi) yang menyertainya, melainkan satu realitas tunggal. Inilah yang teori tasykik al wujud atau gradulitas eksistensi.

Hukum gradualitas (tingkatan) berlaku secara determinan dalam benak dan realitas. Hukum ini menetapkan bahwa apapun yang bermula dan merupakan entitas efektual berperingkat alias tidak setara secara eksistensial. Inilah yang menghadirkan keragaman sebagai fakta tak terbantahkan. Teori ini diperkenalkan oleh Sadr al-Din Syirazi atau Mulla sebagai koreksi atas teori emanasi Peripatetik dan iluminasi Suhrawardi.

Meski dianggap sebagai konsep final dalam metafisika, eksistsnsi yang diposisikan sebagai subjek tunggal metafisika oleh Sadra dan Tabatabai juga para filsuf penerusnya, menurut filosof muslim kontemporer Fayyazi, murid senior M. Taqi Misbah Yazdi, menyisakan problema krusial. Kritik Fayyazi bukan sekadar lontaran objection sebagai letupan sesaat tapi membuka babak baru dengan kritik-kritik susulan yang tak hanya bersifat catatan kritis tapi menandai lahirnya aliran keempat dalam stoa metafisika.

Ringkasnya, kaum saintis perlu lebih bersikap rendah hati dan perlu pula mengamati akar epistemologi perbedaan pemahaman keagamaan. Tak semua orang teis itu picik dan tak semua orang beragama itu anti logika. Sebagian dari mereka meyakini Tuhan dan beragama dengan dasar rasional seraya mengakui kebenaran fakta saintifik tanpa berusaha menjadikannya sebagai referensinya.

Secara umum, yang perlu diketahui adalah hal-hal sebagai berikut: 1. Kaum saintis atheis menganggap Tuhan dan agama dinilai delusi karena ia abstrak. Padahal Tuhan secara ontologis dalam pandangan metafisikawan (bukan para penganut dogmatis) adalah realitas objektif, sedangkan agama secara ontologis adalah entitas mental berupa keyakinan dan konsep metafisikal lainnya 2. Karena pikiran adalah citra mental sebuah persepsi sensual terhadap fakta fisikal, Tuhan dan agama yang ditiadakan oleh para ateis adalah Tuhan dan agama yang dipersepsikan secara saintifik. 3. Sains empiris yang hanya bisa menjangkau realitas fisikal hanya bisa menyimpulkan “tak menemukan Tuhan”, bukan “Tuhan tidak ada.” Sains hanya mengurusi korespondensi dengan objek, bukan dari eksistensi objek itu sendiri. Padahal “tak menemukan” atau “Tuhan tak ditemukan” tak meniscayakan secara logis “Tuhan tidak ada.” 4. Saintis mengira agama (dengan ragam konten ajaran dan namanya) yang dianut masyarakat beragama hanya punya pola pemahaman yang sama sehingga kerap melakukan penilaian general terhadap agama sebagai delusi, seolah semua agama menetapkan “iman” (keyakinan tanpa logika). Padahal persepsi agama bagi setiap penganutnya tak selalu sama. Setidaknya ada dua jenis agama; yaitu a) agama yang merupakan produk doktrin atau keterlanjuran; b) agama yang merupakan buah kesadaran rasional dan turunan sistematis dari logika dan pandangan dunia filosofis. 5. Saintis atheis tak membedakan Tuhan dengan agama. Padahal agama merupakan buah pemahaman dan keyakinan orang yang meyakini eksistensi Tuhan. Dengan kata lain, bertuhan tak niscaya beragama, dan tidak sebaliknya.

Dr. Muhsin Labib

Sumber: https://seword.com/umum/ekstremitas-sains-dan-agama-2h1ZoGFa3O

(Suara Islam)

Loading...