Dzikir Kebangsaan, Merajut Tali Persaudaraan yang Mulai Luntur

Ilustrasi, Majlis Zikir "Hubbul Wathan" (Googleimage)

Lunturnya sikap tenggang rasa di kehidupan masyarakat Indonesia membuat Majelis Dzikir Hubbul Wathon (MDHW) prihatin.

Padahal, sikap saling menghargai dan menghormati modal penting untuk menjaga keutuhan segenap bangsa.

Karena itu, Ketua Umum Majelis Dzikir Hubbul Wathon (MDHW), KH Musthofa Aqil Siradj berharap dzikir akbar bertajuk Dzikir Kabangsaan di Istana Negara, Selasa (1/8) nanti, bisa dijadikan momentum untuk mempersatukan bangsa.

Menurutnya, mencintai tanah air merupakan bagian dari ukhuwah wathaniyah (persaudaraan bangsa),

“Kami berharap melalui acara Dzikir Kabangsaan nanti, rasa cinta tanah air kita makin kokoh. Dan tali persaudaraan kita makin erat,” ungkap KH Musthofa Aqil yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Kempek Cirebon, Jawa Barat, Kamis (27/7/2017).

Baca: MUI: Indonesia Bukan Negara Islam dan Negara Kafir

Selain bagian dari ukhuwah wathaniyah, lanjut Kiai Musthofa, mencintai tanah air sebagaimana difatwakan oleh Hadratusy Syaikh KH. Hasyim Asy’ari adalah bagian dari iman (hubbul wathon minal iman).

Dalam pandangan KH. Musthofa Aqil, mencintai negara itu sangat penting karena keamanan suatu negara dapat menguatkan rasa keimanan seseorang. Bila negara aman dan damai maka dalam beribadah pun seseorang akan menjadi lebih tenang.

“Benar tidak, jika negara kita tenteram bisa menguatkan rasa keimanan? Bila negara aman dan damai pastinya dalam beribadah pun akan menjadi lebih tenang,” kata adik KH Said Aqil Siroj itu.

Lebih lanjut Kiai Musthofa Aqil menjelaskan bahwa pentingnya tanah air juga dapat dilihat di zaman Rasulullah SAW.

Baca: Syafií Maarif: 2 Buku yang Wajib Dibaca Anak Bangsa

Saat itu, Nabi Muhammad ingin memiliki tanah air (negara) sehingga harus hijrah dari Mekkah ke Madinah. Nabi ingin mempunyai tanah air sendiri sehingga dakwah Islam bisa berkembang dengan pesat.

“Kita bisa tengok sejarah Rasulullah SAW. Beliau saat itu hijrah dari Mekkah ke Madinah dalam rangka ingin punya tanah air. Itu dilakukan agar dakwah Islam bisa berjalan lancar,” terang KH. Musthofa Aqil.

Sementara itu, Sekjen MDHW Hery Haryanto Azumi yang juga Ketua Pelaksana Dzikir Kebangsaan mengungkapkan, persiapan acara yang rencananya dihadiri 2.000 alim ulama serta tokoh nasional sudah hampir 100 persen.

Sebagian undangan peserta telah didistribusikan dan berbagai kelengkapan lainnya sudah selesai dikerjakan.

Menurut Hery, Dzikir Kebangsaan yang merupakan rangkaian acara dalam menyambut HUT Kemerdekaan RI ke-72. Dia juga berharap peserta yang Dzikir nanti memantapkan niatnya untuk mendoakan agar NKRI tetap terjaga.

“Alhamdulillah, hasil rapat kepanitiaan, persiapan sudah hampir 100 persen. Saat ini undangan sudah mulai didistribusikan. Ada sekitar 2000 peserta dari berbagai elemen bangsa nanti yang hadir,” ujar Hery.

Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) periode 2005-2008 ini berharap, melalui Dzikir Kebangsaan, berbagai problem kebangsaan menemukan titik temu penyelesaiannya.

Dalam pandangan Hery, dzikir bisa menjadi jalan mengatasi problem kebangsaan karena dzikir merupakan bahasa spiritual, di mana orang masuk ke dalam upaya meyelesaikan problem itu dari dalam dirinya sendiri.

“Dzikir merupakan bahasa spiritual, di mana orang masuk ke dalam upaya meyelesaikan problem itu dari dalam dirinya sendiri. Itulah mengapa dalam konteks kehidupan bernegara, dzikir menjadi penting,” jelas Hery yang juga pernah menjadi Ketua Umum PMII Cabang Ciputat itu.

(tribunnews/suaraislam)

Loading...