DPR ‘Angkat Tangan’ Sahkan RUU PKS, Mahasiswi UIN Beri Komentar Pedas

Seorang mahasiswi Universitas Islam Indonesia (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Vinanda Febriani, ikut berkomentar terkait keputusan DPR mencabut pembahasan dan pengesahan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS) dari Prolegnas.

Vinanda merasa kecewa saat mendengar DPR kesulitan dan angkat tangan membahas dan mengesahkan RUU PKS tersebut.

Berikut tulisan Vinanda yang diposting di akun Facebooknya:

Remuk sekali hati ini mendengar kabar Pak-Bu Parlemen DPR mengatakan kesulitan dalam membahas bahkan mengesahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual.

Saya paham bagaimana rasanya perempuan dilecehkan. Dilecehkan dalam pekerjaan saja karena merasa perempuan memiliki derajat dibawah laki-laki, rasanya sakit sekali. Apalagi kok sampai pelecehan seksual. Rasanya remuk sekali, hati dan pikiran kacau. Apalagi kalau sampai diperkosa, sebagai perempuan saya tahu gimana perasaannya. Antara trauma, dan bingung harus berbuat apa. Lapor polisi, mungkinkah? Sedangkan tidak ada bukti satupun yang dikantongi. Pun, perlu beberapa lama untuk trauma healing pasca tragedi biadab itu.

Terus terang, saya belum membaca keseluruhan isi RUU PKS. Tapi saya makmum Mbak Kalis Mardiasih dan Mbak Alissa Q. Wahid, dll saja. Saya tahu beliau pro RUU PKS dan banyak memperjuangkan hak-hak kaum perempuan di masa sekarang.

Korban-korban pelecehan seksual ini sangat banyak. Sampai tidak tahu harus mendatanya dari yang seperti apa. Jika kita perhatikan, mungkin di sekitar kita pun banyak. Namun rata-rata tidak berani bersuara. Mereka ketakutan dengan cibiran masyarakat yang acapkali justru menyalahkan korban daripada pelaku.

“Salah siapa mau dilecehkan?”
“Salah siapa berpenampilan sexy?”
“Salah siapa bajunya ketat?”
“Salah siapa jalan sendiri?”
“Salah siapa jadi perempuan?”
Dlsb.

Padahal, kalaupun seorang perempuan telanjang, kalau si laki-laki tidak punya pikiran mesum, tentu pelecehan tidak akan terjadi.

Zaman sekarang, perempuan berjilbab pun bisa jadi korban pelecehan seksual. Jadi sebetulnya pelecehan seksual itu tidak pandang pakaian atau penampilan. Selama otak mesum itu ada, maka selama itulah pelecehan seksual akan terjadi.

Pun, pelecehan seksual tidak hanya terjadi pada perempuan. Laki-laki juga ada, meski seringkali laki-laki justru jadi pelakunya. Namun kita juga perlu adil, laki-laki juga bisa saja diperkosa (meski tidak mungkin bisa hamil/kecuali ada suatu kelainan).

Apapun itu, saya hanya berharap Pak-Bu Parlemen DPR sesegera mungkin membahas dan mengesahkan RUU yang menurut saya sangat penting. Karena ini melindungi perempuan-perempuan yang dilemahkan, perempuan-perempuan yang hak-haknya dirampas oleh kebrutalan, melindungi korban-korban kejahatan seksual baik laki-laki maupun perempuan. Singkatnya, RUU ini melindungi dan memperjuangkan salah satu aspek Kemanusiaan.

Saya nggak bisa bayangin bagaimana perasaan para korban pelecehan seksual di luar sana yang hampir lega karena adanya RUU PKS, namun remuk seketika mendengar statment Pak-Bu Parlemen DPR Yang Mulia. Terlebih membaca opini-opini liar di media sosial yang bahkan sampai isinya membenarkan pelecehan seksual dan menyalahkan perempuan (saya pernah lihat beberapa waktu lalu, lupa saya skrinsut). Remuk sekali rasanya. Lagi-lagi kembali ke zaman jahiliyah, dimana perempuan selalu dijadikan objek, bukan subjek. Perempuan selalu menjadi korban kebrutalan dan selalu dilemahkan. Karena perempuan dianggap sebagai makhluk yang lemah, tak punya daya.

Magelang, 4 Juli 2020.

Sumber: https://www.facebook.com/100022218293059/posts/729948291089107/

(suaraislam)

Loading...