Divisi Propaganda NU; Catatan Jelang Muktamar ke-34

Bagaimana cara ulama NU menggaet simpati massa di tengah persaingan di antara organisasi Islam di Hindia Belanda dan di tengah kepungan kolonialisme? Meski sering diejek sebagai organisasi tradisionalis, mengapa ormas ini bisa dengan cepat mendirikan puluhan cabang dalam kurun 3 tahun saja?

Muktamar NU ke-1, 14-16 Rabiul Awal 1345 H (21-23 September 1926) dilaksanakan saat NU masih berusia 8 bulan. Pesertanya terdiri dari 93 ulama dari Jawa dan Madura, ditambah dengan KH. Abdullah dari Palembang dan KH. Abu Bakar dari Kalimantan serta KH. Abdul Qadir dari Martapura.

Dalam muktamar perdana ini, KH. Abdul Wahab Hasbullah, salah seorang penggerak NU, melaporkan kepada hadirin mengenai progresivitas Madrasah Nahdlatul Wathan—salah satu embrio NU– yang telah berdiri di berbagai daerah. Tak lupa, Kiai Wahab juga menyertakan pula laporan seputar kaderisasi para propagandis NU melalui wadah bernama Jam’iyyatun Nashihin.

Wadah bagi para muballigh NU ini didirikan untuk rekrutmen kader dengan minimal usia 15 tahun serta memiliki militansi di atas rata-rata. Setiap lima hari sekali, mereka dikader dengan muatan keilmuan agama, meliputi fiqh, aqidah, hingga tafsir. Kitab standar yang digunakan meliputi Fathul Qarib, Tafsir Jalalain, Kifayatul Awam, dan Tanwirul Qulub. Aktivitas belajarnya tidak ditentukan di satu tempat, melainkan bergiliran dari rumah satu kader ke rumah kader lainnya.

Dalam muktamar perdana yang digelar di Hotel Muslimin, Jl. Peneleh Surabaya, itulah, Kiai Wahab menginformasikan bahwa terdapat 25 anggota Jam’iyyatun Nashihin yang siap diterjunkan ke masyarakat sebagai muballigh NU maupun guru agama.

Keberadaan Jamiyyatun Nashihin yang mulai berkembang ini semakin dikokohkan oleh para ulama NU pada Muktamar ke-3 yang digelar pada 23-25 Rabiuts Tsani 1347 (28-30 September 1928). Selain diikuti oleh 260 kiai dari 35 Cabang NU di Jawa dan Madura, muktamar ini juga banyak diikuti kaum buruh, pengusaha, dan kalangan pemuda.

Dalam muktamar ini, terjadi sebuah keputusan penting, yaitu meningkatkan kapasitas Jamiyyatun Nashihin menjadi Lajnatun Nashihin, semacam divisi propaganda untuk menyiarkan NU ke berbagai daerah. Lajnah ini dibentuk Majelis Khamis alias Tim Lima yang dipimpin KH. Saleh Banyuwangi dan anggotanya terdiri dari KH. Hasyim Asy’ari, KH. Bisri Syansuri, KH. R. Asnawi Kudus, dan KH. Muharram Kediri.

Karena merupakan bagian dari program pembumian NU di berbagai daerah, maka anggotanya juga bergengsi. Jumlahnya 9 ulama dengan reputasi jempolan: KH. Hasyim Asy’ari, KH. Bisri Syansuri, KH. R. Asnawi Kudus, KH. Ma’shum, KH. Mas Alwi, KH. Musta’in KH. A. Wahab Hasbullah, KH. Abdul Halim dan KH. Abdullah Ubaid.

Tugas komisi sembilan ini bergerak ke berbagai daerah, di Jawa dan Madura, guna menjelaskan maksud dan tujuan berdirinya NU, sekaligus merintis pendirian Cabang NU di kota tersebut.

Pergerakan tim sembilan ini sangat dinamis. Kiai Wahab, Kiai Bisri, dan Kiai Halim menggarap wilayah Jawa tengah dan Jawa Barat, sedangkan Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Mas Alwi, dan beberapa anggota lainnya bergerak di wilayah Jawa Timur. Hanya saja, dalam perkembangannya, para ulama anggota tim sembilan ini lebih sering bergerak dengan bertukar wilayah.

Dampak dari divisi propaganda NU ini positif. Terbukti, dalam muktamar keempat yang dipusatkan di Hotel Arabistan, Semarang, 12-15 Rabiuts Tsani 1348 H (17-20 September 1929), dihadiri tak kurang dari 1450 peserta muktamar; 350 kiai, 900 pendamping (pengiring kiai) dan 200 pimpinan Tanfidziyah.

Bagaimana dengan perkembangan Cabang NU? Total pada tahun itu terdapat 63 Cabang NU dengan rincian 13 Cabang di Jawa Barat, 27 cabang di Jawa Tengah serta 23 cabang NU di Jawa Timur, termasuk Madura.

Progresifitas Lajnah Nashihin melalui tim sembilan ini memang memiliki dampak luar biasa. Para ulama daerah berbondong-bondong bergabung dengan NU, disertai dengan peningkatan jumlah simpatisan NU di berbagai daerah. Fenomena semacam ini direkam oleh KH. Saifuddin Zuhri dalam memoarnya, “Berangkat Dari Pesantren”.

Menurut Kiai Saifuddin yang saat itu masih muda, pada tahun 1932, Kawedanan Sokaraja Banyumas, dihebohkan dengan kedatangan empat orang kiai dengan mengendarai mobil pribadi. Selain disopiri sendiri oleh Kiai Wahab Hasbullah, di dalam mobil juga terdapat Hadratussyekh M. Hasyim Asy’ari (Rais Akbar NU), KH. Abdullah Faqih (Wakil Rais Akbar NU) dan KH. Bisri Syansuri (A’wan Syuriah NU).

Ulama-ulama besar itu datang dari Bandung dan Cirebon dalam rangka menghadiri rapat NU. Kedatangan mereka ke Sokaraja untuk melantik Cabang NU yang tertua di seluruh daerah Kedu dan Banyumas. Pada pelantikan PCNU malam itu, para hofdbestuur (Pengurus Besar) NU disambut dengan mars NU berbahasa Arab. Penyanyinya adalah bocah-bocah madrasah diniyah.

Nahdlatul ulamaai jam’iyyatul Islami
Qonunuha alhatstsu bit tamadzhubi
Raisuha Syekh Hasyin Asy’ari
Katibuha Syekh Abdul Wahab Hasbulllahi
………………………………………
Artinya:
(Nahdlatul Ulama sebuah Jamiyah Islam berlandaskan asas memegang teguh ajaran salah satu madzab empat. Raisnya adalah KH. Hasyim Asy’ari. Katibnya KH. Abdul Wahab Hasbullah).

Itulah di antara pola pergerakan tim sembilan Lajnah Nashihin ke berbagai daerah untuk menyiarkan NU. Melihat pertumbuhan organisasi yang relatif cepat di akhir 1920-an dan pada awal 1930-an, maka mustahil melupakan peranan Lajnah Nashihin ini.

Selain itu, pada masa perintisan ini (1926-1933), NU menyebarkan ideologinya melalui pers dengan mendirikan Swara Nahdlatoel Oelama, Oetosean Nahdlatoel Oelama dan Berita Nahdlatoel Oelama’. Inilah di antara alasan rasional mengapa NU bisa berkembang dinamis di awal pendiriannya.

Wallahu A’lam Bishshawab

Rijal Mumazziq Z

Sumber: https://jatim.nu.or.id/read/divisi-propaganda-nu–catatan-jelang-muktamar-ke-34?

(Suara Islam)

Loading...