Din Syamsudin Tega Lacurkan Nama Baik Muhammadiyah

Din Syamsuddin (Googleimage)

Tak elok sebenarnya untuk melihat sepak terjang dari sosok tokoh besar yang satu ini. Sebab dirinya bukan hanya menjadi orang yang bersalah secara keorganisasian dirinya juga tega melacurkan nama baik dari institusi atau organisasi yang pernah ia pimpin sebelumnya. Setelah selesai melaksanakan tugas atau purna tugas, hendaknya dirinya bisa membesarkan nama baik dari organisasi tersebut, tapi yang ada dirinya tega untuk merongrong dan bahkan merusak nama baik yang sudah ada tersebut.

Muhammadiyah sebagai organisasi keagamaan terbesar yang ada di bangsa ini selain Nahdatul Ulama atau NU, tentu punya peran sentral di dalam membangun sendi-sendi kehidupan di bangsa ini. Memberikan pencerahan dan masukan bahkan menjadi salah satu pilar yang sangat kokoh untuk bisa membawa bangsa ini keluar menjadi bangsa yang besar dan hebat.

Tapi sangat disayangkan orang-orang yang pernah ada di dalamnya atau mereka-mereka yang pernah diberi kesempatan untuk menjadi pemimpin, saat dirinya sudah tergoda untuk memiliki kekuasaan lebih di sektor pemerintahan, akhirnya dirinya sulit untuk kembali lagi menjadi manusia yang normal.

Dim Syamsuddin yang kini menjadi Ketua Dewan Pertimbangan MUI telah mencoreng nama baik Muhammadiyah karena tingkah lakunya yang sudah membawa atau mencatut nama organisasi tersebut di tengah-tengah seminar daring yang ia bawakan bersama-sama dengan mereka-mereka para pembicara yang boleh dibilang para barisan sakit hati yang tak dapat kue kekuasaan di saat pemerintahan saat ini.

Terus-menerus melakukan penekanan bagi pemerintah di saat-saat pemerintah membutuhkan tenaganya memberikan pandangan yang segar untuk bisa mengatasi situasi sulit yang ditimbulkan oleh Covid 19. Tapi karena nafsu ingin berkuasa lebih besar di dalam dirinya, dengan kekuatan intelektual beserta sejumlah gelar akademik yang ia miliki, ingin memanfaatkan itu dalam mencari celah-celah yang mungkin ada dan dimiliki oleh pemerintahan saat ini.

Mempertanyakan event webinar nasional dengan tema ‘Menyoal Kebebasan Berpendapat dan Konstitusionalitas Pemakzulan Presiden di Era Pandemi Covid-19” layakkah untuk digaungkan di saat-saat sulit pada saat ini? Apa tujuan dan maksud pengadaan event ini? Apakah karena terinspirasi dari kegagalan terlaksananya webinar kebangsaan dengan topik yang serupa yang juga hendak dilakukan oleh salah satu universitas besar yang ada di Yogyakarta?

Katanya mereka-mereka para panitia kampus besar di Yogya tersebut sudah mendapat ancaman dari orang-orang yang tak dikenal? Katanya banyak kecaman-kecaman yang datang karena event tersebut. Dan sebagai balasan yang telak, ingin tetap menggelar event yang serupa, tapi herannya mencatut nama Muhammadiyah ada di belakangnya.

Seolah-olah Muhammadiyah berperan sentral di dalam pengadaan event webinar pemakzulan Presiden tersebut di tengah-tengah pandemi Covid 19. Dan acaranya tersebut berjalan dengan sangat mulus di hari yang sangat bersejarah bangsa kita, yakni di hari lahirnya dasar negara kita, yakni Pancasila.

Bukannya memperteguh atau menjabarkan makna dari nilai-nilai Pancasila tersebut untuk memperteguh kebangsaan kita, malah justru ingin mencari kambing hitam atau kesalahan-kesalahan yang dimiliki oleh Jokowi dan seluruh jajarannya. Din menyebutkan dalam webinarnya, seperti yang dilansir oleh CNN.com (1/6/2020), ada tiga syarat untuk bisa memakzulkan Presiden menurut kepakarannya, pertama, ketiadaan keadilan, kedua ketiadaan ilmu pengetahuan dan ketiga ketiadaan kemampuan atau kewibawaan.

Dirinya menyebut jalannya pemerintahan saat ini telah dilaksanakan dengan cara-cara diktator alias dengan cara-cara represif sehingga pantas untuk segera dilakukan pemakzulan. Tapi coba lihat benarkah opini sang profesor ini? Apakah dirinya tidak melihat ratusan triliun uang negara keluar untuk bisa mencegah pandemik ini supaya tidak kian meluas lagi dan bagaimana upaya-upaya pemerintah baik pusat maupun daerah terus bersatu untuk bisa membuat Indonesia bebas dari pandemik yang mengerikan ini?

Apakah Din sudah sedemikian buta untuk bisa menyebut ribuan usaha yang sudah terus diupayakan oleh Jokowi, dan salah satunya adalah pembuatan atau pengadaan vaksin, pembuatan alat-alat kesehatan yang bisa dipakai oleh rumah sakit-rumah sakit serta lain-lain?

Dimana ketidakadilan yang mungkin telah dilakukan oleh Jokowi? Bukankah bantuan langsung tunai (BLT) dan berbagai bantuan lainnya sudah dikucurkan oleh pemerintah? Dimana ketiadaan pengetahuan Jokowi, di saat pemerintah kita mampu untuk membuat alat-alat canggih buatan produksi dalam negeri untuk bisa mencegah dan mengobati para pasien covid 19? Kemudian dimana ketiadaan kemampuan atau tidak adanya kewibawaan Jokowi di saat menghadapi covid ini, saat pemerintah saat ini sudah mengkonsep atau membuat sebuah terobosan baru dengan konsep “New Normal”? Meskipun covid masih ada pemerintah sudah merancang semuanya sedemikian rupa?

Alhasil Muhammadiyah-pun geram dan marah kepada sang mantan punggawa yang pernah memimpin organisasi ini. Dimana Ketua PP Muhammadiyah, Anwar Abbas sangat kecewa kepada seniornya itu, yang tega lacurkan nama besar Muhammdiyah dipakaikan di seminar abal-abalnya. Dan meminta dengan sangat supaya publik tidak mengkaitkan webinar itu dikaitkan dengan nama Muhammadiyah. Tapi pertanyaannya, apakah sang mantan ini dengar seruan dari pimpinan Muhammadiyah yang sekarang ini? Atau malah kian berapi-api buat webinar-webinar berikutnya lewat rangkaian serial bak sinetron ataupun demo yang berjilid-jilid?

Rinto Simorangkir

Sumber: https://seword.com/umum/din-syamsudin-tega-lacurkan-nama-baik-muhammadiyah-oqcJy6c8ud

(suaraislam)

Loading...