Dilema Menyikapi Mantan Kombatan ISIS

Ilustrasi

Saat ini, ada sekitar 600 orang berkulit sawo matang, berbahasa Indonesia, dan mereka hidup terlunta-lunta di Suriah, sebagian kecilnya di Irak. Dari sekitar 600 orang itu, 47 di antaranya berstatus tahanan, sisanya bersatatus pengungsi. Mereka hidup di tenda-tenda darurat dan mendapatkan makanan hasil sumbangan. Mereka hidup layaknya pengungsi. Sebagian dari mereka adalah anak-anak kecil, bahkan ada yang masih bayi.

Siapakah mereka? Mereka mengaku berasal dari Indonesia. Akan tetapi, mereka telah melepaskan kewarnegaraan dengan cara membakar paspor Indonesia, sebagai salah satu bukti kuatnya tekad mereka ketika menyatakan diri telah bergabung dengan ISIS. Dalam sebuah wawancara dengan majalah Tempo, mereka yang hidup di tenda-tenda darurat itu menyatakan keinginannya untuk kembali ke Indonesia. Lalu, apa yang yang harus dilakukan oleh pemerintah Indonesia menanggapi keinginan mereka itu?

Sebenarnya, keberadaan para kombatan ISIS dan keluarganya yang kini terlunta-lunta di Suriah itu bukan hanya masalah negara Indonesia. Ini masalah banyak sekali negara di dunia yang warganya datang ke Suriah, bergabung bersama jihadis palsu lainnya. Tercatat lebih dari 100.000 jihadis yang datang dari sekitar 100 negara dunia. Mereka bermimpi mendirikan khilafah Islamiah dengan cara menumbangkan pemerintahan Suriah (dan Irak). Isu utamanya sangat sektarian, yaitu perang melawan kekuatan Syiah yang mereka sebut sebagai kelompok yang menindas Sunni.

Untuk keperluan rekruitment jihadis, mereka menebar hoax yang luar biasa keji. Berbagai foto dan video yang sebenarnya terkait dengan situasi dan tempat lain, mereka nisbatkan kepada Rezim Bashar Assad. Ada foto korban gempa bumi di Azerbaijan, korban kecelakaan lalu lintas di Turki, tumpukan mayat anak-anak korban kekejaman tentara AS di Irak, juga ada orang-orang Palestina yang menjadi korban kekejaman Israel. Semuanya kemudian disebut sebagai warga Sunni Suriah yang menjadi korban kekejaman Assad yang Syiah Alawiah. Bahkan, ada video hukuman mati dengan cara digergaji listrik terhadap pengedar narkoba di Meksiko. Suara dari video tersebut di-dubbing sehingga percakapannya menjadi berbahasa Arab. Video tersebut diberi label hukuman keji tentara Assad terhadap kaum Muslimin Sunni.

Sejak awal, banyak pihak yang mewanti-wanti agar negara-negara yang menjadi asal para jihadis palsu itu berhati-hati terhadap warganya yang termakan hasutan, fitnah, dan mimpi mendirikan khilafah Islamiah. Diingatkan bahwa para jihadis palsu itu kelak akan menjadi beban luar biasa besar dan berbahaya bagi negara asal mereka; yaitu ketika mereka pada akhirnya akan kembali pulang. Liputan Islam termasuk di antara media yang berkali-kali menyampaikan peringatan tersebut, termasuk kepada pemerintah Indonesia. Sayangnya, banyak pihak yang tidak peduli dan menganggap peringatan itu seperti angin lalu.

Kini, setelah ISIS benar-benar kalah, keberadaan mantan kombatan berikut keluarganya betul-betul menjadi beban. Tindakan apapun yang diambil semuanya menjadi serba keliru. Diterima kembali menjadi warga negara Indonesia salah, tidak diterima juga salah.

Begitulah kalau urusan kemanusiaan dan agama dianggap sebagai mainan. (os/editorial/liputanislam)

Sumber: https://liputanislam.com/dari-redaksi/editorial/dilema-menyikapi-mantan-kombatan-isis/

(suaraislam)

Loading...