Diklaim akan Pulang Pimpin Revolusi, Berikut Sederet Rencana Kepulangan Rizieq yang Gagal Total

Orasi di aksi 212 oleh Habib Rizieq. Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan

Klaim PA 212 bahwa Rizieq sudah bisa pulang ke Indonesia karena tak lagi masuk daftar cekal pemerintah Arab Saudi dan denda overstay sudah dicabut dinilai sangat tidak masuk akal.

Diketahui, Rizieq berangkat ke Saudi untuk umrah pada 2017 namun sejak itu tak kunjung pulang ke Tanah Air. Kala itu, ia terjerat beberapa kasus hukum, seperti dugaan pelanggaran UU ITE atas chat mesum atau pornografi dengan Firza Husein dan dugaan penistaan Pancasila, serta pencemaran nama baik Sukarno di Polda Jawa Barat.

Beberapa kali Rizieq dikabarkan akan pulang ke Indonesia dan rencana ini disambut baik para pengikutnya. Bahkan sempat ada seruan “memutihkan” Bandara Soekarno-Hatta sebagai kemeriahan penyambutan Habib Rizieq. Namun kabar itu menjadi isapan jempol belaka setelah Imam Besar FPI itu batal pulang.

Dikutip dari kumparan, berikut sederet rencana kepulangan Rizieq dari Tanah Suci yang tidak terwujud:

Rencana kepulangan Habib Rizieq setelah menetap di Arab Saudi pertama kali menyeruak pada Februari 2018. Kala itu, Habib Rizieq direncanakan pulang pada 21 Februari. Kabar ini terungkap dari hasil Mukernas Presidium Alumni (PA) 212.

Kala itu, Slamet menegaskan kepulangan Habib Rizieq sudah sangat dirindukan umat dan keberadaanya dibutuhkan untuk memperkuat dakwah dan syiar Islam. Slamet juga meminta kepolisian menghentikan kasus yang menjerat Habib Rizieq.

Namun rencana kepulangan Habib Rizieq saat itu batal. Padahal telah dibentuk panitia penyambutan dan disebar ajakan “Goes to Soekarno-Hatta, Bela Islam, Bela Ulama, Bela Indonesia,” via WhatsApp pada Rabu, 21 Februari, pukul 09.20 WIB.

Setahun berlalu, nama Rizieq kembali disebut-sebut dalam kontestasi Pilpres 2019. Saat itu, kepulangan Habib Rizieq diusulkan eks koordinator jubir BPN Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Dahnil Anzar Simanjuntak, sebagai syarat rekonsiliasi politik antara Presiden terpilih Jokowi dan Prabowo pada Juli 2019.

Namun usulan kepulangan Habib Rizieq sebagai syarat rekonsiliasi Jokowi-Prabowo ditentang berbagai politikus yang tergabung dalam kubu Jokowi.

Pada November 2019 karena Reuni 212, rencana kepulangan Rizieq kembali muncul pada November 2019, menjelang penyelenggaraan Reuni 212. Pengacara Rizieq, Sugito Atmo Prawiro, menyebut pihaknya terus berkoordinasi dengan pemerintah Indonesia dan Arab Saudi agar kliennya dapat segera pulang.

Sugito berharap Rizieq bisa tiba di Indonesia pada Sabtu, 30 November. Salah satu alasan Rizieq ingin pulang agar bisa ikut hadir dalam acara Reuni 212 pada 2 Desember di Monas, Jakarta Pusat.

Habib Rizieq pun terbentur masalah overstay di Saudi hingga menyebabkannya didenda hingga Rp 110 juta.

Pada Oktober 2020, rencana kepulangan kembali menyeruak setelah Rizieq menyampaikan keinginannya ini dalam demo menolak Omnibus Law yang digelar PA 212 pada Selasa (13/10).

Orator demo yang menerjemahkan pidato Habib Rizieq ke bahasa Indonesia menyebut rencana kepulangan Imam Besar FPI kali ini berkat perundingan dengan pemerintah Saudi.

“Alhamdulillah, setelah melalui proses perundingan panjang, dari Habib Rizieq Syihab dan otoritas Kerajaan Saudi, akhirnya terdapat kejelasan dan titik terang kepulangan Habib Rizieq Syihab, wasyukurilah, pada hari ini Imam besar Habib Rizieq Syihab secara resmi sudah dicabut cekalnya. Dan hari ini juga sudah dibebaskan dari denda-dendanya, denda apa pun, karena imam besar Habib Rizieq Syihab tidak bersalah di Saudi.” jelasnya.

Namun rencana kepulangan Habib Rizieq kali ini menuai polemik setelah muncul diksi i’lan min Makkah al-Mukarramah atau pengumuman dari Kota Suci Makkah yang dipakai massa PA 212.

“Berdasarkan komunikasi kami dengan Pemerintah Kerajaan Arab Saudi, bahwa sampai detik ini nama Mohammad Rizieq Syihab (MRS) dalam sistem portal imigrasi Kerajaan Arab Saudi masih “blinking merah” dengan tulisan ta’syirat mutanahiyah (visa habis) dan dalam kolom lain tertulis: mukhalif (pelanggar UU),” kata Agus.

(Suara Islam)

Loading...