Dikecam Warganet, TVRI Ganti Tampilan Animasi di Hari Anak Nasional

Akhirnya TVRI menyadari kekeliruannya, karena menampilkan gambar kartun anak di hari anak nasional yang tidak mewakili dan merepresentasikan anak Indonesia secara umum.

Tadinya yang ditampilkan animasi anak yang menggunakan jilbab berwarna merah, tentunya pakaian jenis seperti ini mencerminkan anak-anak Timur Tengah tempo dulu. Padahal anak-anak Arab Saudi saat saya ke tanah suci dahulu tidak memakai jilbab, demikian yang wanita remaja dan dewasa juga banyak tampil tidak mengenakan hijab/jilbab.

Setelah mendapat kritikan pedas dan kecaman dari netizen, TVRI pun langsung mengubah kartun tersebut menjadi gambar anak Indonesia yang sedang menggunakan baju adat madura tanpa mengenakan jilbab lagi seperti yang saya kutip dari media indozone.

Orang-orang tua kita dahulu, nenek kita terdahulu tidak mengenakan tutup kepala seperti jilbab merupakan cara berbusana yang sudah lazim dan berlangsung sangat lama di Indonesia. Alquran juga menyebutkan dalam surat An-Nur ayat 31 bahwa tidaklah boleh menampakkan perhiasan (aurat) bagi wanita kecuali yang biasa tampak.

Wanita Indonesia khas tidak menutup kepala adalah termasuk bagian yang sudah biasa terlihat (illaa maa dzahara minhaa). Para ulama kita terdahulu pun seperti Buya Hamka, Muhammad Natsir, Hadhratus Syeikh Hasyim Asy’ari hingga ulama seperti Quraisy Shihab, Ibu Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid dll juga menyatakan hal yang sama bahwa jilbab itu tidak wajib.

Sesuai prinsip kaidah fiqh bahwa tradisi atau kebiasaan dapat menjadi hukum (al-‘adatu muhkamatun). Jadi kebiasaan di Indonesia dengan busana khas nusantaranya adalah hukum masyarakat yang memang harus terus dilestarikan dan pastinya tidaklah bertentangan dengan norma apa pun itu karena memang dibangun atas semangat keluhuran akhlak para leluhur.

Saya apresiasi sekali tindakan netizen yang cepat tanggap menyaksikan ketimpangan pemandangan yang seharusnya tidak terjadi jika sebelumnya TVRI mengedepankan nilai-nilai nasionalisme yang telah lama berurat dan berakar di sanubari anak-anak bumi pertiwi.

Setinggi apa pun pangkat, status sosial dan status keagamaanmu, jangan pernah lupakan adat istiadat dan budayamu yang luhur.

Al-Ustadz H. Miftahul Chair, S.Hi. MA.

Sumber: https://www.facebook.com/110606077137197/posts/173805104150627/

(Suara Islam)

Loading...