Denominasi Anies

Istilah denominasi dipakai dalam transaksi skuritas, dimana diperlukan nilai nominal dasar sebagai klaritikasi transaksi.

Istilah ini kita pinjam untuk mengukur nilai dasar transaksi sosial dan tanggung jawab Anies sebagai pejabat yang punya tanggung jawab pekerjaan dan sosial yang tak kecil.

Melihat dari prilakunya yang makin memburuk, sebenarnya kita sudah “muak” membicarakannya, namun karena dia masih juga nampil disana tanpa rasa malu dan beban berat yang semestinya dia bayar dengan cara dia mundur. Tapi bak muka badak, dan akhlak kera, dia selalu bisa bicara tentang orang lain yg salah atas semua musibah di depan matanya, seolah dia yang selalu benar. Kekukuhan ini mungkin saja karena kalimat dari JK yang mengatakan bahwa dalam bekerja ada orang suka dan tidak suka.

Anies ini sudah bukan masalah suka dan tidak suka, ini sudah masalah ketidak mampuan dan kesengajaan. Lihat saja, banjir melanda, dia sibuk bicara balapan formula, yg dananya diambil dari APBD dimana dlm penganggaran terjadi pengurangan anggaran penanggulangan banjir, seperti di ketahui dia selalu bekerja yg tak ada gunanya. Seperti pelebaran terotoar, belum lagi mata anggaran yg amburadul, dalam kondisi banjir yg tak teratasi, dia malah beli toa.

Denominasi adalah nilai dasar atau face value dari proses transaksi. Kita sulit atau tidak bisa bertransaksi dengan Anies, baik pada wilayah kerja dan tanggung jawab atau pada ranah sosial. Secara kasat mata dia tidak punya face value, untuk ukuran orang waras saja dia jauh dari ada, belum lagi kalau kita bicara kapasitas, blass dia gak punya, ambiyarr semua.

Sebagai warga Jakarta yang langsung dan Indonesia pada umumnya, kita sedang disuguhi hidangan hasil gorengan politik yg salah bumbu, bak makanan yg tak ada pilihan kita harus menyantapnya dengan terpaksa dgn leher tercekik, mata melotot, tersedak tak berdaya. Ini luar biasa bejatnya.

Banjir Jakarta memang bukan salah Anies semua, selain curah hujan memang tinggi, infrastrukturnya memang sdh parah. Tapi yg membuat penilaian kita bahwa Anies melakukan perusakan dan di sengaja adalah, dia merusak program sebelumnya yg sudah dikerjakan dgn rencana. Kali Ciliwung misalnya, dia stop sisa pengerukannya, dst. Dari pengurangan anggaran penanggulangan banjir sudah dpt dinilai bahwa dia tak perduli dgn warganya, belanja sampai depisit anggaran, entah kemana saja uangnya.

BAGAIMANA KITA BERTERANSAKSI KALAU TAK ADA NILAINYA.

Anda jual saya beli, itu kalimat orang tua yg sarat makna bhw ada aksi ada reaksi. Kita tidak bisa beraksi dan bereaksi kepada Anies karena dia tidak punya face value, dia tak punya nilai apa saja,dia ibarat makhluk tak bernyawa, tak ada empati, tak punya hati, tak berbudi. Dia hanya punya tinggi hati dan ketololan abadi. Dia bak end product yg salah proses.

Tiap detik saat ini orang membahas Jakarta ttg banjir dan apa saja, sementara Anies tenang saja tanpa rasa bersalah dan tak resah. Segala masukan di sampaikan dia bergeming, kukuh dalam kebebalan yang akut. Dia anak Srigala yang dibesarkan induk Singa, sekarang dia menjelma menjadi Arung Palaka.

Jakarta, mencatatkan sejarah panjang dan punya masa GEMILANG, Sayang di masa tuanya dia dianiaya, dan pelakunya adalah anak bangsa yang masuk katagori BAJINGAN !!!

Sumber: FB Iyyas Subiakto

(suaraislam)

Loading...