Ciri Utama Ajaran Ahlussunnah Waljama’ah serta Perbedaannya dengan Paham yang Lain

Rakornas yang diikuti 1.500 peserta ini mengangkat tema "Penguatan Dakwah Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) An Nahdliyah di Era Millenial". (Foto: Republika/Muhyiddin)

Berikut ciri-ciri utama ajaran Ahlussunnah Waljama’ah serta perbedaannya dengan paham yang lain:

a. Berpegang teguh pada ajaran Rasulullah saw, dan tiga generasi emas sesudah beliau (generasi sahabat, tabi’in, tabi’it tabi’in). Ajaran tersebut tersusun dalam disiplin ilmu tauhid yang merujuk kepada ajaran pendiri Ahlusunnah wal-Jama’ah yakni Abu Hasan al-Asy’ari dan Abu Manshur al-Maturidy, sedangkan dalam bidang fiqh mengikuti salah satu dari pendapat empat imam madzhab (Syafi’i, Maliki, Hanafi dan Hambali), lalu dalam bidang tasauf berpedoman kepada ajaran Imam al-Ghazaly dan Imam Junaid al-Baghdady. Ini ciri khas faham ahlussunah wal-Jama’ah. Jika tidak sesuai dengan prinsip ini, maka pengakuannya sebagai golongan ahlussunnah wal jama’ah (Aswaja) itu palsu.

b. Berpedoman kepada Al-Qur’an, Hadits, Ijmak dan Qiyas. Juga sangat menghargai ulama dan pemikirannya sebagai pewaris Nabi yang sangat paham terhadap makna al-Qur’an dan hadits. Berbeda sekali dengan faham Wahaby yang hanya berpedoman kepada al-Qur’an dan hadits saja, tidak mau mengikuti ulama. Padaha mereka tahu Islam dan ajarannya itu dari siapa, kalau bukan dari ulama. Begitu juga golongan Syi’ah yang hanya menerima hadits dari ahlul bait saja, tidak menerima dari sumber lainnya.

c. Ajarannya bersifat pertengahan (tawassuth), tidak cenderung kepada pendewaan akal dan usaha manusia (sebagaimana ajaran Mu’tazilah/Qodariyah) juga tidak cenderung kepada kepasrahan total kepada ALLAH tanpa adanya ikhtiar (sebagaimana faham Jabariyah). Aswaja menggabungkan keduanya sehingga perlu ikhtiar lahir disertai kepasrahan dan keyakinan yang benar kepada ALLAH.

d. Bermadzhab kepada salah satu empat madzhab (Madzhab Syafi’i.Maliky, Hanafy dan Hambaly). Sedangkan faham Wahaby itu anti mazhab.

e. Dalam praktek keagamaannya menjunjung tinggi etika (menggabungkan konsep fiqh dengan tasauf). Kalau faham-faham lain kurang sekali memperhatikan masalah etika baik dalam ibadah, maupun bidang syariat lainnya.

f. Memiliki semangat taqorrub yang kuat melalui dzikir dan riyadhoh yang merupakan bagian dari ilmu tasauf, sehingga tumbuh berbagai bentuk tarekat (metode pendekatan menuju ALLAH). Berbeda dengan faham Wahaby yang mengharamkan tasawuf, bahkan mengatakan ilmu tasawuf itu bid’ah, ada kesaman dengan ajaran Hindu/Budha. Padahal itu tuduhan yang ngawur dan tidak memahami ajaran tasawuf itu sendiri.

g. Jika ada ayat Mustasyabihat (yang isinya seolah-olah ALLAH memiliki sifat yang sama dengan makhluq), maka dilakukan ta’wil (mencari makna yang lebih layak bagi Kemahasucian dan Kemahabesaran ALLAH). Halnya bertolak belakang dengan golongan Wahaby yang tidak melakukan ta’wil terhadap ayat-ayat mutasyabihat.

h. Menghargai semua sahabat Nabi dan ahlul bait Nabi. Bahkan semua sahabat dijamin keadilannya. Jauh perbedaannya dengan golongan Syi’ah yang mengkafirkan semua sahabat, kecuali Sayyidina Ali r.a.

i. Meyakini bahwa ALLAH bisa dilihat di surga, adanya telaga Rasulullah saw yaitu telaga Kautsar, serta syafa’at ‘uzhma dari Nabi Muhammad saw dan para ulama saleh lain. Berbeda dengan paham Mu’tazilah yang berpendapat bahwa ALLAH itu hanya bisa dilihat di dunia saja, sedangkan di akhirat tidak bisa dilihat.

j. Suka berziarah kubur serta percaya akan adanya karomah bagi para kekasih ALLAH (waliyullah) dan ma’unah bagi orang-orang saleh, juga membolehkan tawassul dan tabarruk (ngalap berkah) kepada orang-orang saleh. Bertolak belakang dengan golongan Wahaby yang memusyrikkan dan mengkafirkan para peziarah kubur terutama makam wali, juga yang bertawassul dan bertabarruk kepada para kekasih ALLAH tersebut.

k. Mengakui kemaksuman (penjagaan dari dosa) itu hanya milik Nabi dan Rasul. Berbeda dengan Syi’ah yang menganggap semua imam dan ulama mereka itu dimaksum pula.

l. Tidak mengkafirkan orang yang berbeda dengannya selama masih menjalankan rukun Islam atau ahli kiblat. Berbeda dengan golongan Wahaby yang suka mengkafirkan dan membid’ah-bid’ahkan orang yang berbeda dengan mereka.

m. Mengajarkan 50 aqidah yang terdiri dari :
• 20 sifat yang wajib bagi ALLAH
• 20 sifat yang mustahil bagi ALLAH
• 1 sifat yang jaiz (boleh) bagi ALLAH
• 4 sifat yang wajib bagi Rasul ALLAH
• 4 sifat yang mustahil bagi Rasul ALLAH
• 1 sifat yang jaiz bagi Rasul ALLAH
Golongan Wahaby tidak mengajarkan aqidah 20 atau aqidah 50 ini, karena bertentangan dengan doktrin faham mereka yang menganggap ALLAH punya anggota tubuh.

n. Orang yang berdosa tidak dihukumi kafir. Berbeda dengan kaum khawarij yang mengkafirkan para pendosa besar.

o. Dakwahnya santun, tidak suka mencaci maki, meluruskan yang salah dengan cara bijaksana, tukang maksiyat dirangkul bukan dipukul. Kalau ada yang berdakwah namun suka mencaci maki orang lain, menghina, atau menghasut, maka bukan dakwah yang berhaluan Aswaja.

p. Mengakui adanya bid’ah hasanah serta melestarikannya, seperti pengumpulan, pemberian baris dan titik pada al-Qur’an yang dilakukan setelah masa khulafaur Rasyidin, juga pengkodifikasian hadits pada abad 1 H di masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, serta tradisi tahlilan, nujuh bulan, mauludan, rajaban, halal bi halal, haul dan sebagainya. Berbeda dengan kaum Wahaby yang menyatakan semua bid’ah itu sesat, tidak ada bid’ah hasanah.

q. Belajar kepada guru-guru yang memiliki sanad keilmuan yang bersambung hingga Rasulullah Saw. Sebab sanad (mata rantai) keilmuan itu bagian dari agama. Tanpa sanad maka orang akan berkata atau berpendapat semaunya tanpa sandaran ilmu yang jelas.

h. Mengajarkan cinta tanah air, yang merupakan tempat kita bersujud, menimba ilmu, mencari nafkah dan berdakwah meninggikan kalimat ALLAH.

Nah, jika dicermati dengan seksama, ormas Islam yang memenuhi semua kriteria di atas, baru Nahdlatul Ulama saja. Karena dalam sejarah hanya NU yang dari dulu mendeklarasikan diri sebagai organisasi masyarakat (ormas) yang berhaluan Ahlussunah wal Jama’ah juga selalu gigih menyebarkan, merawat serta melestarikan Aswaja an-Nahdhiyyah ini hingga lestari sampai sekarang.Semoga bermanfaat.

Cep Herry Syarifudin

Sumber: https://www.facebook.com/cepherry.syarifuddin/posts/1311391929052109

(suaraislam)

Loading...