Cadar dan Gejala Fanatisme Agama?

Ilustrasi, Foto: Reuters

Sebuah buku, hasi riset/penelitian, berjudul Sepotong Kebenaran Milik Alifa (2008) menjelaskan tentang fenomena cadar dan gejala fanatisme agama. Penulisnya bernama Ahmad Shidqi, yang di dalam buku itu, mengisahkan seorang mahasiswi yang secara lahiriah terlihat taat dalam menjalankan ritual keagamaan, dalam hal ini Islam.

Alifa nama mahasiswi itu. Tak disangka, aktivitas kesehariannya sebagai mahasiswi teknik di perguruan tinggi swasta di kota Jogja, mengantarkan dirinya pada suatu komunitas yang ajaran dan doktrin keberagamaanya tergolong eksklusif—tidak hanya pada sikap, tetapi juga pada balutan pakaiannya, yang mengharuskan setiap anggotanya memakai cadar.

Alifa yang menjadi “aktor utama” dalam karya Ahmad Shidqi tersebut mengungkap setiap apa yang ia yakini dan dirasakannya selama ini. Kalimat-kalimat yang keluar dari lisannya, berupa pengakuan sekaligus kegelisahan. Simak misalnya, ketika ia menceritakan latarbelakang keluarganya di kampung, hingga ia menentukan pilihan beragama yang sedikit berbeda dari mainstrem di lingkungan masyarakat sekitar.

“Latar belakang saya itu dari desa. Keluarga saya sangat kuat memegang paham keagamaan ‘tradisional’. Bahkan orang tua saya tercatat sebagai pengurus salah satu ormas keagamaan tradisional yang menganggap kelompok seperti saya ini sebgai pihak yang memang tidak boleh diikuti. Tapi setelah saya kuliah di Yogya, saya kok tertarik mengikuti kelompok orang-orang yang bercadar itu… Saya merasa sepertinya ada yang ‘eksotik’ dan ‘eksentrik’ begitu melihat mereka…” (hlm 20).

Menyimak pandangan Alifa di atas, bahwa fenomena seorang muslimah bercadar tentu bukan lagi suatu hal yang baru dan asing yang pernah kita lihat. Tetapi yang perlu digarisbawahi menurut Shidqi adalah, fenomena tersebut mulai menggejala dalam 20 tahun terakhir, pasca-reformasi 1998. Di kampus, masjid, dan bahkan di jalan-jalan pusat keramaian, simbol yang oleh Shidqi disebut fanatisme agama itu sangat sering kita jumpai.

Fanatisme agama?

Benarkah, ia, cadar merupakan gejalan fanatisme agama? Fanatisme agama merupakan kebenaran yang dipahami seseorang seolah menjadi kebenaran mutlak agama itu sendiri, yang dimonompoli oleh kelompok-kelompok tertentu, dan bahkan dirinya sendiri. Padahal, pemahaman terhadap agama yang ideal tidaklah bisa dicapai secara menyeluruh. Setiap insan yang taat beragama hanyalah—meminjam potongan judul dalam buku ini—membawa “sepotong kebenaran” saja. Tak lebih.

Lalu jika demikian, salahkah sikap yang ditampilkan Alifa itu bila ditilik dari sisi teologis atau agama? Untuk menjawab pertanyaan ini, tentu tidak bisa dijawab “hitam-putih”, “iya atau tidak”.

Jika merujuk pada hasil riset Shidqi, dalam buku itu, layaknya pedang bermata dua. Di satu sisi, pada wilayah teologis, ia memang tidak menyalahkan dan menjustifikasi Alifa atau kelompok lain yang sepaham dengannya. Shidqi dalam hal ini sejalan dengan Karen Armstrong yang dalam salah satu karyanya yang terkenal, Islam a Short History (2001) menunjukkan bahwa fanatisme adalah fakta global yang muncul

pada semua kepercayaan, tidak hanya Islam, melainkan juga pada Judaisme, Kristen, Budha, Hindu, Sikh, dan bahkan Konfusianiusme.

Tetapi di sisi lain, pada wilayah sosiologi-politik, cadar yang merupakan simbol gejala fnatisme agama, dikatakan oleh Shidqi, tidak memiliki akar budaya dan sejarah di Indonesia. Pakaian semacam cadar itu hanya bisa kita temukan di kawasan nun jauh di Timur Tengah. Di negara kita, perempuan muslim biasanya hanya memakai kerudung, yaitu sebuah penutup kepala yang terbuat dari kain tipis.

Baru-baru ini saja, sekitar tahun 1980-an, terutama pasca-revolusi Iran, jilbab mulai diperkenalkan kepada perempuan muslim di Tanah Air, sehingga sampai saat ini, jilbab, dengan dukungan industri fashion dan media, menjadi pakaian populer bagi perempuan muslim hampir di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Ali Usman

Sumber: https://islamkaffah.id/cadar-dan-gejala-fanatisme-agama/

(Suara Islam)

Loading...