Bungkam Narasi PA 212 ‘Rizieq Akan Pimpin Revolusi’, Kapitra : Tak Ada Sejarahnya di Indonesia Pemberontak Menang

Orasi di aksi 212 oleh Habib Rizieq. Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan

Praktisi hukum, Kapitra Ampera ikut berkomentar terkait Kabar kepulangan Rizieq Shihab yang akan memimpin revolusi. Kapitra meyakini bahwa sebenarnya imam besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Muhammad Rizieq bin Shihab (HRS) belum akan pulang dalam waktu dekat.

“Menurut saya HRS belum akan pulang dalam waktu dekat,” kata Kapitra seperti dikutip dari Inisiatifnews.com, Senin (19/10/2020).

Selain itu, ia juga memandang bahwa narasi yang disampaikan oleh kelompok 212 dalam aksi 1310 yang digelar oleh Aliansi Nasional Anti Komunis (ANAK) NKRI di Jakarta beberapa waktu yang lalu justru akan merugikan posisi Rizieq sendiri.

“Statement HRS pulang akan memimpin revolusi justru itu merugi HRS, (karena) belum pernah sejarahnya di Indonesia pemborontak menang,” ujarnya.

Narasi akan melakukan revolusi untuk menumbangkan pemerintahan yang sah akan sulit direalisasikan, karena mereka akan dihadapkan dengan alat negara yakni TNI dan Polri.

“Mereka akan berhadapa dengan angkatan perang negara yang memiliki mesin perang,” terangnya.

Bagi Kapitra, narasi revolusi yang digelorakan oleh kelompok 212 ini pun tidak akan laku di kalangan masyarakat, bahkan di kalangan umat Islam sendiri. Karena saat ini situasinya tidak bisa ditarik karena unsur keresahan umat Islam, maka jika revolusi itu dipaksakan, justru kelompok ini akan berhadapan dengan umat Islam sendiri.

“Sekarang melihat permasalah tidak lagi didasari emosional keagamaan, tetapi pada realitas kehidupan. Jadi kalau HRS pulang memimpin revolusi, maka penolakan itu muncul dari umat islam sendiri karena ormas terbesar itu ada pada NU dan Muhammadiyah yang sangat realistis dalam menyikapi perbedaan apalagi wapresnya dari NU,” tutur Kapitra.

Terakhir, Kapitra Ampera pun memberikan saran kepada Rizieq yang merupakan eks klien hukumnya serta para pengukut kelompok 212 agar lebih mengedepankan narasi persatuan dan kesatuan, ketimbang mengumbar narasi perpecahan dan permusuhan antar anak bangsa.

“Kelompok HRS harus menyuarakan penciptaan kedamaian dan kerukunan bangsa, bukan perpecahan,” tutupnya.

(Suara Islam)

Loading...