Benarkah Islam Memusuhi Anjing?

Ilustrasi

Anjing binatang yang najis pada dasarnya bukan hanya anggapan sebagian orang Islam, tapi juga orang-orang Yahudi penganut Yudaisme Rabinik. Namun dalam konteks Islam sendiri, banyak catatan yang kontradiktif tentang anjing. Sejarah panjang interaksi positif antara kalangan Muslim dengan anjing menunjukkan kisah sebaliknya jika merujuk kepada sejarah awal Islam di Madinah.

Beberapa catatan otoritatif tentang kehidupannya, Nabi Muhammad sendiri beberapa kali berdoa dengan seekor anjing melintas di hadapannya. Bahkan beberapa sahabat Nabi memelihara anjing. Di Madinah, sekumpulan anjing yang bermain di seputar masjid Nabawi adalah pemandangan biasa pada masa Nabi hingga berabad-abad setelahnya.

Ketika menyebar ke seluruh Timur Tengah dan dunia, Islam berubah dari agama nomaden menjadi agama yang berpusat di kota-kota. Banyak kota besar pada abad ke-8 hingga 18 adalah kota Muslim. Seperti yang dilakukan di pedesaan, di kota anjing juga memainkan peran penting. Mereka dipelihara untuk melindungi properti, menuntun tunanetra dan memiliki fungsi yang juga penting; memakan sampah. Dari Damaskus, Baghdad, Kairo hingga Istanbul, otoritas kota memelihara populasi anjing untuk menjaga kebersihan. Penduduk yang melakukan kekerasan terhadap anjing dihukum oleh walikota.

Melihat sejarah tersebut, dari mana datangnya gagasan bahwa Islam memusuhi anjing? Jawaban singkatnya adalah penyakit. Anjing dianggap sebagai binatang yang menularkan pes, kolera dan malaria. Hasilnya? Anjing bagi sebagian Muslim dianggap najis dan diharamkan. Kampanye pemberantasan anjing berskala besar pun dilakukan. Sejak itu khilafiyah soal anjing mulai terjadi.

Anjing sering disebut oleh Alquran dalam konteks positif dengan “Mukallibin”, hewan terlatih.

Dalam kisah Ashabul Kahfi, Alquran menyebut makhluk ke-8 di antara 7 manusia bernama “Qithmir”, seekor anjing. Karenanya, banyak tafsir hukum lain (selain Imam Syafi’i) yang tidak menajiskan anjing. Silakan saja anda menganggap anjing hewan yang najis, tapi tidak juga anda harus membunuhnya. Seperti halnya perut kita yang berisikan benda-benda najis, tapi tidak juga harus dengan bodohnya menggebuk perut sendiri.

Islah Bahrawi

Sumber: https://www.facebook.com/islah.bahrawi/posts/10219612379914861

(Suara Islam)

Loading...