Beda Dulu dan Sekarang Soal Banjir, Anies: Kita Tak Bisa Kendalikan Curah Hujan

Ilustrasi, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan meninjau banjir di Kampung Melayu. Foto: Medcom.id/M Sholahadhin Azhar.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan bicara mengenai banjir di Jakarta. Anies mengatakan, dengan intensitas air hujan yang lebih dari 100 mm, timbulnya genangan tidak bisa dihindari.

“Seluruh dunia juga merasakan dengan kondisi climate change seperti ini maka intensitas air hujan itu luar biasa. Kemarin misalnya, turun hujan 148 mm itu disebut, 148 itu sangat lebat. Itu per hari. Ini 2 jam ya, kalau 2 jam dituangin ya pasti menggenanglah dengan intensitas seperti itu. Ada yang 180 mm, yang biasanya 180 itu kalau di luar airnya itu seperti sakit gitu kalau kena,” kata Anies dalam program Blak-blakan di detikcom, Selasa (11/10/2022).

Anies mengaku tidak bisa mengendalikan curah hujan. Menurutnya, hanya pengendalian penanganan pasca-hujanlah yang bisa dilakukan sehingga banjir cepat surut. Sebab, sekali lagi, menurut Anies, munculnya genangan tidak bisa dihindari jika air hujan yang turun melebihi daya tampung.

“Kita tidak bisa mengendalikan curah hujan, tapi kita bisa mengendalikan penanganan sesudahnya. Jadi ketika ada hujan yang melampaui daya tampung sistem drainase, nah sistem kita kerja untuk cepat dan itu alhamdulillah terkendali. Inilah yang kemudian kita lakukan di Jakarta. Jadi selama kita berhadapan dengan situasi seperti ini, ini bisa kejadian di mana saja,” ujarnya.

Anies pun tidak masalah persoalan banjir menjadi olok-olokan di media sosial. Baginya, penanganan banjir agar tidak menggenang berhari-harilah yang menjadi prioritas

“Ini kan kalau di socmed itu bahan ejek-ejekan aja terus, makanya biasa aja. Yang kita harus tangani adalah jangan sampai kita tidak bergerak di sini. Saya tidak ingin ketika hujan ekstrem, lalu sehari dua hari masih tergenang. Nah itu berarti kita nggak ngerjain PR-nya,” kata Anies.

Anies juga mengatakan persoalan banjir ini tidak berkaitan dengan siapa pemimpinnya. Menurutnya, jika volume air hujan yang turun melebihi daya tampung, timbulnya banjir bukanlah salah pemerintah.

“Itu soalnya sudah ambang batas sistem drainase kita itu di jalan-jalan kecil di kampung itu 50 mm per hari. Bila hujan di bawah itu nggak boleh banjir, kalau banjir berarti kita salah. Kalau di luar di jalan raya yang besar protokol itu 100 kalau hujan di bawah 100 mm dan banjir salah kita, salah. Jadi kalau lihat hujan di bawah 100 dan banjir. Oh berarti DKI salah wong daya tampungnya segitu kok nggak mampu. Tapi ketika hujan 148, 180 ya pasti banjir. Itu sama seperti gelas isinya 200 ml dituangin air 1 liter ya pasti tumpah, pasti tumpah,” tutur dia.

(Suara Islam)

Loading...