Bahasa Gus Dur yang Diucapkan Kembali oleh Gus Yahya

Presiden Ramos-Horta dan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf

Pada mulanya, hubungan itu seperti rumah dan halaman. Hingga suatu ketika, halaman itu dibangun rumah sendiri. Terlepas sang pemilik rumah merawat halaman itu dengan baik dan tidak, atau justeru si pemilik rumah terganggu akibat debu yang kerap menempel di dinding dan kaca rumah, yang jelas dua bangunan itu kini berdiri sendiri.

Bahwa ada perdebatan di antara keduanya, itu adalah lumrah. Saat ini keduanya, menyandang status tetangga. Dan layaknya tetangga, kerap mereka saling melihat satu sama lain, lebih dekat menaruh kuping, juga saling bertegur sapa.

Beberapa pekan yang lalu, rombongan Timor Leste mengunjungi Indonesia; sebagai tetangga. Terpaut budaya dan kultur yang nyaris sama, keduanya seperti teman lama, padu dan begitu akrab. Sepertinya, luka-luka tak berperih yang sebelumnya menimpa keduanya, terkatub dengan senyum manis dan uluran salam keduanya. Banalitas politik, lumpuh di hadapan renyah budaya.

Proses ini tidaklah instan. Dalam arti, hilang sekat keduanya seiring waktu menua. Ada keterbukaan dan kedewasaan yang luar biasa dijalin keduanya. Rekonsiliasi itu terlontar dari seorang Gus Dur, permohonan maaf atas trgaedi kemanusiaan masa lalu.

“Saya mau meminta maaf atas semua kejadian yang terjadi di masa lalu. Kepada para korban dan keluarga korban insiden Santa Cruz dan teman-teman yang dikuburkan dalam kuburan militer. Keduanya adalah korban dari kejadian yang kita sama-sama tidak inginkan,” kata Gus Dur (alif.id, 2019).

Dalam turbelensi politik saat itu, tidak mudah upaya rekonsiliasi dilakukan. Akan tetapi, keberanian mengatakan atas kebesaran sekaligus kerendahan diri, menjadi cagak penyangga untuk melepasnya.

Indonesia berbesar hati menerima negara yang memutuskan untuk memisahkan diri dan RI. Begitu yang diucapkan Horta 7 tahun yang lalu. Dan saat kunjungannya ke Indonesia, kesediaan untuk meluangkan waktu bertukar sapa dengan PBNU menjadi alarm pengingat yang paling fundamental.

Tidak hanya tentang rekonsiliasi kedua negara, tapi sosok Gus Dur, kiai sekaligus presiden berlatar santri yang keberadaannya, menjadi jembatan. Maka bagi Timor Leste, siapapun yang berteriak tentang kedamaian, akan didudukkan di depannya, seperti halnya ketika mendorong NU dan Muhammadiyah menerima nobel perdamaian.

‘Piagam’ ini yang menjadi cermin pantulan bagi Nahdliyin. Ada satu lanskap besar, selain dari irisan perbedaan yang begitu rumit, harus dijadikan simpul keterhubungan antar manusia. Dia tidak tentang agama, suku, ras, golongan dan lain sebagainya.

Maka suatu ketika, sebelum meminta perwakilan dari Timor Leste untuk hadir dalam temu kemuliaan gagasan antar agama November depan, Gus Yahya mengatakan yang kurang lebih demikian; tidak mungkin kita (Indonesia) memusuhi atau mengekspansi Timor Leste hanya karena berbeda keyakinan dengan kita.

Bahasa-bahasa kemanusian inilah, yang dicupakan kembali oleh Gus Yahya, bersumber dari bahasa Gus Dur. Bahasa penghubung, untuk semua perbedaan dan yang berbeda.

Sumber: https://peradaban.id/

(Suara Islam)

Loading...