Astaghfirullah! Kelompok Ini Sebut Kue Klepon Tidak Islami dan Harus Dijauhi

Ilustrasi, Foto Viral di Media Sosial.

Viral di media sosial foto jajanan tradisional Klepon dengan caption ‘Kue Klepon tidak Islami’ dan dalam foto tersebut tercantum nama Abu Ikhwan Aziz. Beredarnya foto tersebut mendapat komentar dari warganet, Islah Bahlawi melalui akun FBnya.

Menurut Islah Bahlawi, kemunculan kelompok ini berawal dari konsep ‘Hakimiyah’. Berikut ulasannya:

Agama Islam semakin dibuat sempit oleh mereka yang berpikiran sempit. Jangankan menjadi Rakhmatan lil ‘alamin, menjadi “Rakhmatan lil Klepon” saja sepertinya mulai sulit. Inilah cara berislam yang semakin dibusukkan dari dalam, seolah Islam hanya dirancang untuk masyarakat dan budaya Arab. Apa yang diutarakan oleh Faraj Faudah, seorang intelektual Islam Mesir, bahwa Islam sulit untuk maju jika selalu digiring ke arah disparitas remeh temeh, seperti urusan Klepon dan Kurma ini.

Adalah pemikiran Sayyid Qutb yang menjadi awal segalanya. Melalui kitab “Fi Dzilal al-Qur’an” Sayyid Qutb mengeluarkan konsep “Hakimiyah”, yakni konsep yang menganggap kafir orang lain jika berbeda dengan golongan mereka, bahkan dianggap golongan Jahiliyah – orang-orang yang masih bodoh. Dari pemikiran Qutb ini, muncul pemikiran lanjutan yang mengamininya. Saleh Sariyah menulis “Risalah al-Iman” yang menganjurkan untuk mengafirkan pemerintah yang dibentuk melalui sistem demokrasi (karena dianggap tidak Islami), dan diwajibkan memeranginya.

Konsep Hakimiyah Sayyid Qutb ini juga yang kemudian memicu pembentukan berbagai kelompok, seperti yang dimotori oleh Syukri Musthafa di Mesir bernama “Al-Takfir wa al-Hijrah”. Gerakan yang ditiru oleh beberapa kelompok serupa di Indonesia yang melahirkan istilah “Hijrah” melalui kajian Tarbiyah dan Halaqoh (Liqo’) yang merebak belakangan ini. Tidak heran mereka yang merasa telah “berhijrah”, akan sibuk menyalahkan atau mengafirkan orang lain yang dianggap berbeda pemahamannya.

Tafsir-tafsir agama yang sempit membuat Islam semakin kehilangan daya tarik. Kita hanya melihat seolah ketertarikan orang terhadap Islam semakin marak karena menggunakan para pesohor sebagai “branding influencer”, tapi kita tidak pernah berhitung sudah berapa banyak orang awam yang meninggalkan Islam karena pola dakwah berbasis “Hakimiyah” seperti yang diusung Sayyid Qutb ini.

Saya jadi teringat kalimat Grand Syeikh Universitas Al-Azhar Mesir, Mahmud Syaltut: “Indonesia adalah Qith’ah min al-Jannah, Serpihan Surga. Negeri yang makmur dengan keragaman dan kedamaian yang menawan.” Beliau adalah orang Arab asli, bukan orang kita yang berseragam Korpri tapi berbentuk Gamis.

Islah Bahrawi

Sumber: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10217060738245414&set=p.10217060738245414&type=3

(Suara Islam)

Loading...