Astaghfirullah! Copy Paste Tulisan Tanpa Sebut Sumber Asli, Politikus PKS Mardani Ali Sera ‘Disentil’ Pemilik Postingan

Politikus PKS Mardani Ali Sera menjadi perbincangan di media sosial usai ketahuan mengcopy paste tulisan seseorang tanpa menuliskan sumber aslinya. Hal tersebut diungkap oleh pemilik [email protected] Dia menulis surat terbuka untuk politisi PKS tersebut yang tidak mematuhi kode etik jurnalistik.

“Yth. Bpk. DR. Mardani Ali Sera Tokoh Politikus dari PKS
1.Bapak sudah menduplikasi tulisan saya tanpa seijin saya, di page pribadi bapak.
2.Seharusnya bapak tahu kode etik jurnalistik. Kalau itu bukan tulisan bapak.. harus dicantumkan sumber tulisan tersebut”, tulis akun @DyahAnugrah7

Sebelumnya, Politisi PKS tersebut mengunggah tulisan di akun FBnya tentang seorang siswa SMP yang ingin cetak striker di warnet. Namun, karena uangnya kurang, siswa tersebut batal mencetak stiker.

Tulisan tersebut milik warganet Etalase Dyah dan diunggah di akun Facebooknya. Tidak lama tulisan tersebut viral di media sosial kemudian dicopy paste Mardani Ali Sera tanpa mencantumkan sumber aslinya. Berikut tulisannya

Tadi aku ke warnet, mau cetak sticker. Ada anak laki2 usia 12 thn, (usia anak SMP) bawa beberapa lembar kertas buku tulis yg disobek. Isinya tulisan2 seperti draft tugas sekolah.

Dia tanya sama operator warnet, kalau ngetik draft ini dan ngeprint, berapa harganya. Kata si operator, biayanya sekitar 24 rb. Biaya ngetik dan biaya ngeprint.

Begitu tau biayanya 24 rb.. anak itu diam… melongo. Di tangannya aku liat, dia hanya memegang uang 5 ribuan.

Terlihat di wajahnya.. antara bingung dan ngga tau harus bagaimana. Di satu sisi, tugas dari sekolah harus dikerjakan, di satu sisi, ngga ada uang untuk ngeprint.

Anak itu pulang, dan janji akan kembali lagi. Tapi kertas tugasnya ditinggal.

Aku minta kertas2 tersebut, dan aku baca. Ternyata tugas dari sekolahnya, membuat laporan kegiatan belajar di rumah selama pandemi berlagsung.

Aku baca hingga selesai draft tersebut. Tata bahasanya bagus dan inti pokoknya juga tepat. Dia sampaikan beberapa kendala selama belajar di rumah. Hp hanya ada 1 milik ayahnya, sementara yg harus belajar menggunakan hp ada 3 orang. (Dia dan dua adiknya).

Kebayang kan..?

Aku bilang sama si operator, tolong diketikkin dan di print, nanti saya yang bayar. Ngga lama kemudian, si anak tadi datang, dan bilang sama si operator, meminta kembali draft yang tadi.

Si operator bilang, bahwa tugasnya sedang diketik dan akan diprint. Anak itu bilang, tapi saya ngga ada uangnya… Dan si operator bilang, udah ada yg bayarin.

(Aku tadi sudah bilang ke operatornya, bahwa anak tsb ngga usah tau… siapa yg bayar)
Di sini, aku bukan mau riya pamer bayarin, tapi.. kebayang nggak… berapa banyak anak yang mengalami hal seperti ini?

Di saat orang tuanya kesulitan menutupi biaya hidup, ditambah lagi beban pulsa paket, beban ngetik tugas, ngeprint tugas..?

Kepada guru2… coba dipertimbangkan lagi. Memberi tugas memang harus, tapi disituasi seperti sekarang ini… ? Kasihan anak2 tsb, mereka takut kalau tidak mengerjakan tugas, tapi untuk mengerjakan tugas itu butuh biaya yang tidak sedikit.

Mudah2 an situasi ini segera berakhir, mereka bisa kembali ke bangku sekolah, tanpa membebani orang tuanya dengan pengeluaran2 ekstra….

Rasanya… sedekah pulsa lebih dibutuhkan daripada sedekah sembako…
#truestory
#miris

Mengetahui tulisannya dicopy paste Mardani Ali Sera dan tidak menyebutkan sumbernya. @DyahAnugrah7 kemudian menulis surat terbuka dan komplain kepada Mardani di akun twitternya dan mendapat banyak respon dari warganet.

“Hoiii @MardaniAliSera yang punya artikel komplain !!! Adepin donk..masak elite parpol ngambil hasil karya orang lain tanpa permisi !”, @Parlan_Mbois

(Suara Islam)

Loading...