ASN, Cadar/Cingkrang, dan Radikalisme

Beberapa hari belakangan ini ada cukup banyak media (cetak, online, tipi) yang kontak saya mau wawancara soal polemik pelarangan cadar & cingkrang bagi ASN. Saya agak malas melayani karena saya sudah ngomong dan nulis tentang ini selama bertahun-tahun. Bosan.

Tapi ini pendapat singkatku (silakan kalau mau dikutip dan diewer-ewer).

Pertama, soal aturan berbusana bagi ASN ya itu urusan masing-masing instansi pemerintah (atau non-pemerintah bagi karyawan non-ASN). Kalau ada aturan berpakaian tertentu ya sebaiknya atau seharusnya ditaati oleh pegawai. Memang ada negara-negara yang membuat aturan berpakaian bagi pegawai pemerintah (termasuk di Arab Teluk ini). Tapi ada juga yang tidak.

Kedua, untuk konteks Indonesia, saya lebih setuju untuk membatasi pemakaian cadar. Di tempat-tempat atau ruang publik tertentu (misalnya ruang pengadilan, imigrasi, bank, dlsb) sebaiknya tidak mengenakan cadar demi keamanan dan kenyamanan. Kalau di tempat-tempat lain silakan saja. Toh cadar bukan ajaran / syariat Islam fundamental. Masyarakat di Arab Teluk pun lebih memaknainya sebagai sebuah kebudayaan. Yang wajib menurut mereka adalah hijab.

Ketiga, soal percingkrangan juga sama. Sama sekali bukan ajaran Islam fundamental. Itu hasil / produk interpretasi sejumlah (bukan semua) kelompok Salafi kontemporer. Kalau “jubah cingkrang” berarti pengaruh dari sebagian kelompok Salafi Arab Teluk. Kalau “celana cingkrang” berarti pengaruh dari kelompok Salafi India-Pakistan yang masuk ke Indonesia lewat Jamaah Tabligh. Ingat: tidak semua kelompok Salafi itu mengenakan jubah atau celana cingkrang.

Keempat, tidak ada hubungannya antara cadar dan cingkrang dengan radikalisme. Itu hanya pakaian / kain saja. Banyak yang bercadar dan bercingkrang ria tetapi anti radikalisme. Saya tau betul itu. Radikalisme harus diukur dari mindset, pikiran, dan tindakan, bukan dari pakaian.

Demikian “press release” virtual ini. Semoga bermanfaat.

Sumber: FB Sumanto Al Qurtuby

(suaraislam)