Antara Kesalehan dan Kesalahan

Jika punya banyak referensi, kita akan tahu mana yang menurut kita paling benar, dan mana yang salah. Ukuran benar itu berdasarkan kaidah keilmuan dan referensi. Bukan dugaan. Apalagi berdasarkan kebencian.

Jika menggunakan banyak literatur, kita pun menahan diri untuk tidak mudah menyalahkan orang lain, apalagi semata untuk membuat kita agar terlihat lebih saleh. Kebenaran itu tidak mesti tunggal. Kebenaran seringkali berlapis dan bertingkat.

Tapi mungkin kita pernah punya kawan yang sering merasa paling benar? Padahal diantara kita mungkin ada teman lain yang jauh lebih kompeten, tapi memilih tidak berdebat dengan orang-orang yang merasa paling pintar itu.

Sebagai contoh, perdebatan dalam kajianUshul al-Fiqh (metodologi hukum islam) sangatlah kompleks dan dinamis. Masing-masing mazhab memiliki metodologi yang berbeda yang akhirnya berujung pada perbedaan hasil ijtihad mereka.

Belakangan ini banyak orang yang begitu mudahnya mengeluarkan fatwa: ini haram atau itu bid’ah. Parahnya lagi fatwa itu mereka keluarkan hanya untuk menyerang pihak lain. Mereka yang berani berfatwa tanpa menguasai ilmu Ushul al-Fiqh ada baiknya merenung apa sudah siap terkena ancaman Rasulullah SAW: “Orang yang paling berani di antara kalian dalam berfatwa adalah orang yang paling berani masuk neraka” (HR. Ad-Darimi).

Unsur kebencian, dan melihat yang lain selalu salah serta diri kita selalu benar seolah telah menjadi karakter pihak tertentu. Kemudian unsur politik dan perasaan beragama paling benar menjadikan semangat menyalahkan semakin menjadi-jadi.

Bicara dengan orang “yang tidak tahu kalau dirinya tidak tahu” seperti ini sulit. Mereka cenderung menunjukkan kesalehan pribadi/kelompoknya dengan cara menuding kesalahan orangg lain.

Tidak lebih mereka ini adalah provokator.

Cara terbaik mengalah meski bukan berarti kalah.

Allah berfirman dalam Qs Al-Furqan ayat 63

وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

“hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan “salam”.

Artinya, kita cukup berlalu dan mengucapkan salam kepada orang jahil, tanpa harus meladeni perdebatan.

Saat ini di medsos banyak akun nge-troll yang sengaja memang memancing emosi dengan mencaci-maki dan sibuk menyerang pribadi. Mereka tak punya argumen. Mereka niatnya memang bukan diskusi, tapi memancing keriuhan.

Tidak perlu kita meladeni pancingan mereka. Beragama itu jalan menuju cahaya Allah. Bukan merasa paling benar, dengan menyalahkan kemudian ingin dicitrakan paling saleh dengan mencari-cari kesalahan orang lain. Jangan-jangan mereka beragama bukan mengabdi pada Allah tapi pada nafsu pribadi. Semoga kita terhindar dari sikap semacam itu.

Sumber: https://www.facebook.com/100044504021158/posts/555463069280489/

(Suara Islam)

Loading...