Antara Afghanistan, Libya, Suriah, dan Palestina

Ilustrasi

Poin penting: homebase Al Qaida adalah Afghanistan dan Al Qaida (berdiri 1998) menggunakan Afghanistan untuk mendirikan kamp-kamp pelatihan mereka atas seizin rezim Taliban yang berkuasa di pada era 1996-2001.

Gerakan Al Qaida ada di berbagai penjuru dunia, termasuk di Suriah, Libya, bahkan Indonesia. Nama yang dipakai beda-beda di tiap negara.

Di Libya, Al Qaida bernama Libyan Islamic Fighting Group (LIFG). Pendirinya bernama Abdelhakim Belhaj. Al Qaida Libya mengadakan aksi-aksi demo anti-Qaddafi dan melakukan berbagai serangan bersenjata, yang tentu saja dilawan tentara pemerintah. Tapi yang muncul: tuduhan bahwa Qaddafi melakukan pembunuhan massal.

Upaya penggulingan Qaddafi ini didukung AS. Dewan Keamanan PBB mengizinkan NATO untuk “mengambil langkah yang diperlukan.” Dan NATO pun membombardir Libya. Alasannya: untuk menyelamatkan bangsa Libya dari kediktatoran Qaddafi.
Para pemberontak Libya membentuk National Transtition Council (NTC), salah satu komandan perangnya, si Abdelhakim Belhaj ini. NTC dipimpin Mustafa Abdel Jalil.

18 Oktober 2011, Menlu AS, Hillary Clinton datang ke Tripoli, bertemu dengan Mustafa Abdel Jalil dan pasukan pemberontak; bersalaman dan berfoto akrab dengan para “mujahidin” ini.

Dua hari kemudian, tanggal 20 Oktober 2011, Qaddafi dibunuh oleh milisi NTC. Segera setelah itu, bendera “tauhid” (dengan warna dasar hitam) berkibar di gedung pengadilan di Benghazi. Di situlah kobaran pertama “revolusi” Libya disulut, 9 bulan sebelumnya.

Pada 27 November 2011, Mustafa Abdel Jalil mengutus Abdulhakim Belhadj, ke perbatasan Suriah-Turki, bertemu dengan para pemimpin Free Syrian Army (“mujahidin” di Suriah).

Sebelumnya, pada Oktober 2011, NTC menjadi “pemerintah” pertama di dunia yang memberikan pengakuan kepada gerakan pemberontakan Suriah. Sebagian milisi “jihad” di Suriah pun dilatih oleh para komandan “jihad” dari Libya.

Sementara itu, di Amerika, Hillary Clinton dengan tertawa terbahak, berkata, “Kami datang, kami ihat, dan dia mati, hahaha.”

“Dia” yang dimaksud Hillary adalah Qaddafi.

Bagaimana seorang manusia bisa tertawa atas kematian seseorang? Bahkan, kematian itu disusul dengan kematian dan kesengsaraan puluhan juta manusia lainnya. Libya hari ini sangat kacau balau, perang tak berkesudahan. Jauh berbeda dengan era Qaddafi yang sangat makmur, sampai-sampai dijuluki Swiss-nya Afrika.

Semoga bisa dipahami, apa “manfaat” kelompok ekstremis/teroris buat AS. Mereka dipakai AS saat diperlukan untuk menggulingkan sebuah rezim. Setelah itu, dipakai untuk dijadikan alasan membombardir sebuah negara (ingat, setiap perang adalah bisnis sangat menguntungkan bagi perusahaan militer, istilahnya “industrial military complex”).

Dan.. karena itulah, jika ada “gerakan antiradikalisme” yang disponsori AS, kita juga perlu waspada. Kalau ada yang suka teriak-teriak antiradikal, tapi di saat yang sama membela radikalisme dan terorisme Israel (dan menuduh perlawanan Palestina sebagai teroris), kita juga musti kritis.

Kalau ada yang membela kehadiran AS di Afghanistan dengan alasan “kasihan nasib perempuan di sana”, tapi pura-pura tidak tahu nasib kaum perempuan Afghanistan (yang dibombardir AS selama 20 thn) dan nasib perempuan Palestina yang menderita akibat penjajahan Israel, kita juga musti pertanyakan motif mereka.

Ruwet? Kok semuanya jadi berkaitan? Inilah yang disebut “berpikir kompleks”, ga ‘gumunan’, dan ga gampang menyimpulkan.

Dina Sulaeman

Sumber: https://www.facebook.com/DinaY.Sulaeman/posts/1257826517976934

(Suara Islam)

Loading...