Aneka Ragam Khilafah

Ilustrasi (Google Image)

Bagi sebagian besar publik Indonesia, mereka umumnya mengenal sistem khilafah yang diperkenalkan oleh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), yang merupakan cabang atau antek Hizbut Tahrir (HT, arti literalnya “Partai Pembebasan”) internasional yang markas besarnya ada di Inggris. HT sendiri awalnya didirikan oleh Taqiyudin al-Nabhani dari Yerusalem pada tahun 1953. Pendirian HT dipicu oleh kekalahan koalisi Arab dalam perang melawan Israel tahun 1948.

Padahal, sistem dan gerakan khilafah bukan melulu dikampanyekan oleh HT. Misalnya, antara 1919 dan 1924, gerakan khilafah pernah muncul di India dipelopori oleh sejumlah pemimpin politik Muslim seperti Muhammad Ali Jauhar dan Abul Kalam Azad. Waktu itu, gerakan politik khilafah adalah sebagai wadah untuk melawan kolonial Inggris. Menariknya, Mohandas Gandhi ikut menjadi anggota Komite Khilafah Pusat. Tetapi gerakan khilafah ini kandas setelah Inggris menangkapi para pentolan dan pentilan khilafah.

Setelah Mustafa Kemal secara resmi menghapus sistem khilafah yang dipakai rezim Turki Usmani (Ottoman) pada tahun 1924, muncul reaksi dari sejumlah sarjana dan pemimpin politik Arab untuk “menginstal” ulang atau “membangkitkan kembali” sistem khilafah ala Ottoman.

Tahun 1926, mereka mencoba menggelar pertemuan di Kairo, Mesir. Tapi pertemuan itu gagal karena banyak tokoh dan sarjana Muslim yang batal datang. Pertemuan itu sebetulnya untuk menggiring pendirian semacam model pemerintahan “Khilafah Arab”. Kalau Ottoman dikontrol Turki, mereka mau bikin yang ala Arab. Kira-kira begitu.

Tetapi meskipun sistem khilafah Ottoman yang bersifat trans-nasional bubar tahun 1924, bukan berarti tidak ada sistem khilafah di sejumlah kawasan yang mayoritas berpenghuni Muslim. Ada sejumlah “khilafah lokal”.

Misalnya, di Afrika ada rezim Khilafah Bornu yang pemimpinnya memakai titel “Khalifah” (secara literal berarti pengganti, wakil, deputi, dlsb) sampai akhir abad ke-19 sebelum didegradasi oleh Inggris menjadi sultan dan kemudian amir. Masih di Afrika, juga ada Khilafah Sokoto di abad ke-19 (didirikan oleh Usman dan Fodio). Di Makah dulu juga ada gerakan Khilafah Syarifiyah yang menuntut otonomi dari Ottoman (Khilafah Usmaniyah). Tapi hanya seumur janggung saja. Ini hanya sekelumit contoh saja. Jadi Khilafah Ottoman bukan satu-satunya.

Pasca-rontoknya Turki Usmani, salah satu kelompok Muslim yang getol menyerukan, mengkampanyekan, dan mempropagandakan sistem khilafah adalah Ikhwanul Muslimin (IM) yang didirikan di Mesir tahun 1928 oleh sejumlah sarjana dan tokoh gerakan Islam, antara lain, Hasan al-Banna.

Tetapi di Mesir sendiri gagasan khilafah yang diusung IM mendapat tantangan internal serius karena sejumlah ulama mengkritik ide dan diskursus ini. Salah satu sarjana yang paling getol mengkritik adalah Ali Abdur Raziq (1888-1966). Tahun 1925, sesaat setelah Turki Usmani rontok, ia menulis buku berjudul “Islam dan Dasar-Dasar Pemerintahan” (“Al-Islam wa Usul al-Hukm”) yang diberi sub-judul “Penelitian tentang Khilafah dan Pemerintahan dalam Islam”.

Di buku ini, ia dengan tegas mengatakan bahwa Islam tidak mengatur atau mengadvokasi bentuk sistem pemerintahan tertentu seperti khilafah atau lainnya. Baginya, sistem khilafah (atau sistem pemerintahan berlabel Islam lain) hanyalah akal-akalan para ovonturir politik agar bisa menggunakan agama sebagai topeng untuk menggapai dan mempertahankan kekuasaan.

Pendiri HT, Taqiyudin, adalah mantan aktivis IM. Jadi wajar kalau ia kemudian menyerukan khilafah, meskipun ada modifikasi konsep. Tetapi yang menarik adalah Taqiyudin tidak merumuskan gagasan sistem khilafah itu langsung setelah kekalahan koalisi Arab melawan Israel tahun 1948 dalam rangkaian “Perang Palestina”, tanah airnya.

Pada mulanya, Taqiyudin tidak menyerukan sistem khilafah. Yang ia serukan adalah perlunya menata kembali strategi politik dan perang serta kesatuan “negara-negara Arab” di Timur Tengah dalam melawan Israel. Jadi semacam gerakan “nasionalisme Arab”.

Tetapi ide untuk melibatkan negara-negara Arab lain dalam “koalisi jumbo” Arab itu tak digubris. Mungkin karena tak digubris itulah, ia kemudian bikin HT. Tapi awal-awal pendirian HT pun, ia belum merumuskan sistem khilafah. Sistem ini baru ia rumuskan pada waktu ia tinggal di pengasingan di Libanon karena diusir oleh rezim Yordania lantaran dituduh mendalangi aksi kudeta gagal.

Kelompok Muslim lain yang menyerukan sistem khilafah adalah al-Qaeda, ISIS, Jamaah Islamiyah, dan sejumlah kelompok militan-teroris lain di Asia Selatan, Timur Tengah, maupun Afrika. Meskipun mereka mengusung sistem khilafah tetapi konsepnya berbeda-beda satu dan lainnya. Karena berbeda, masing-masing menolak sistem khilafah yang dirumuskan oleh kelompok lain.

Misalnya, HT menolak sistem khilafah ISIS. Begitu pula sebaliknya. Konsep khilafah HT bersifat “transnasional”, bukan “regional apalagi lokal. Sementara ISIS terbatas wilayah Irak dan Suriah. Yang regional seperti Jamaah Islamiyah yang pernah ingin membuat khilafah Asia Tenggara. Yang lain bersifat lokal.

Demikian sekelumit coretan mengenai khilafah, semoga ada manfaatnya. Mia Khalifah doyan makan semur jengkol; sistem khilafah itu sebetulnya cuma ndobol.

Jabal Dhahran, Jazirah Arabia

Sumanto Al Qurtuby

Sumber: https://www.facebook.com/Bungmanto/posts/10164385549430523

(Suara Islam)

Loading...